Cover Islam Digest edisi Ahad 12 Desember 2021. Telusur Pemikiran Ibnu Rusyd. | Islam Digest/Republika

Tema Utama

26 Dec 2021, 04:30 WIB

Telusur Pemikiran Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd membuka cakrawala keilmuan, baik dalam bidang filsafat maupun fikih.

 

OLEH HASANUL RIZQA

Pada era kejayaan Islam, Ibnu Rusyd berjasa mengakaji ide-ide filsafat Yunani Kuno. Pelbagai gagasannya menjadi inspirasi Barat jelas Renaisans. Kepakarannya pun meliputi ranah fikih aswaja.

Sang Alim dari Andalusia

 

Dalam konteks keilmuan, Islam memberikan dampak positif bagi sejarah kebudayaan Barat. Penulis Light from the East (2011), John Freely, menyatakan, Barat yang saat ini maju dengan pesat serta menjadi pusat sains dunia sesungguhnya berutang budi pada Islam.

Sejak abad kedelapan hingga 14 Masehi, kaum Muslimin memuncaki peradaban dunia. Begitu banyak sarjana Muslim yang berkarya dan mengabadikan gagasan-gagasan mereka pada pelbagai manuskrip. Alumnus New York University itu menegaskan, berkat kemurahan hati umat Islam yang merelakan karya-karya ilmuwannya diterjemahkan, Barat pun bisa bertransformasi.

Akan tetapi, keluh Freely, Eropa sejak abad ke-17 M seolah-olah melupakan utang budinya kepada Islam. Ambil contoh, fisikawan Sir Isaac Newton yang acap kali mengatakan, dirinya mampu melihat jauh ke depan karena “berdiri di atas bahu para raksasa".

Namun, “para raksasa” yang disebutkannya secara eksplisit adalah para pemikir Eropa era Renaisans atau filsuf Yunani Kuno. Newton tidak menyebut reputasi besar para cendekiawan Muslim pada abad pertengahan, yang justru dari mereka-lah Eropa pertama kali belajar tentang sains.

Dalam historiografi sains, orang-orang zaman kini mungkin lebih mengenal nama Newton tatkala ditanya perihal siapa penemu teori gravitasi. Padahal, teori tersebut dirintis untuk pertama kalinya oleh seorang sarjana Muslim dari abad ke-12, yakni Abu Fath ‘Abd al-Rahman al-Khazini.

Lima abad sebelum ilmuwan Inggris itu, al-Khazini telah menemukan, kuat gravitasi berubah sesuai dengan jarak antara benda yang jatuh dan benda yang menariknya. Selain itu, astronom Persia itu mendeteksi adanya kaitan antara kecepatan (velocity) benda yang jatuh, jarak yang ditempuhnya, dan waktu yang diperlukannya.

Dengan demikian, apa-apa yang dirumuskan Newton merupakan kuantifikasi dari hubungan antarvariabel yang sudah dijelaskan al-Khazini lima abad sebelumnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Dalam penulisan sejarah sains Barat, orang-orang barangkali bisa (berpura-pura) melewatkan pembahasan tentang besarnya kontribusi Islam—seperti contoh kasus Newton dan al-Khazini di atas. Namun, hal itu agaknya muskil terjadi pada historiografi filsafat Barat. Peran para pemikir Muslim dalam kebangkitan studi filsafat Barat, khususnya sejak era Renaissance, terlalu besar untuk dilewatkan.

Salah seorang filsuf besar yang karya-karyanya menghidupkan kembali gerak intelektual Eropa ialah Ibnu Rusyd (1126-1198). Sarjana Muslim tersebut merupakan seorang pemberi syarah atau komentar-komentar kritis atas pemikiran Aristoteles.

Bahkan, masyarakat terpelajar Eropa sampai-sampai menyebut Averroes—demikian namanya dalam lisan mereka—sebagai “Aristoteles II". Bersama dengan Sokrates dan Plato, Aristoteles merupakan filsuf Yunani yang paling masyhur dalam masa sebelum Masehi.

Dalam dunia Islam, Ibnu Rusyd bukanlah sarjana yang pertama mengkaji kaum filsuf Yunani Kuno, termasuk Aristoteles. Sebelumnya, ada Ibnu Sina (980-1037), seorang cendekiawan Muslim Persia.

 
Karya-karya tersebut menjadi incaran pasukan Kristen Barat bukan untuk dipelajari, melainkan hendak dihancurkan karena dianggap sebagai legasi kaum pagan yang sesat.
 
 

Sosok yang disebut Barat sebagai Avicenna itu menyelamatkan naskah-naskah para pemikir Yunani Kuno, khususnya yang berada di perpustakaan Iskandariah (Alexandria), Mesir. Waktu itu, karya-karya tersebut menjadi incaran pasukan Kristen Barat bukan untuk dipelajari, melainkan hendak dihancurkan karena dianggap sebagai legasi kaum pagan yang sesat.

Dan, sebelum Ibnu Sina ada pula al-Farabi (872-950). Sosok itu berjulukan “Master Kedua”—yang pertama ialah Aristoteles. Ia berjasa dalam upaya menyelaraskan antara Islam dan pemikiran filsafat Plato serta Aristoteles.

Karena itu, para pengkaji kerap menggelarinya sebagai peletak dasar Neo-Platonisme Islam. Salah satu karyanya, Al-Madinah al-Fadhila banyak merujuk pada legasi Plato, yaitu Republik.

photo
ILUSTRASI Bagian interior Masjid Kordoba di Spanyol. Pada abad ke-12, Kordoba menjadi tempat tumbuh kembangnya Ibnu Rusyd. - (DOK WIKIPEDIA)

Dari Andalusia

Sejak awal abad kedelapan, Islam mulai menguasai Semenanjung Iberia. Pada 756 M, sisa-sisa kekuatan Umayyah mengukuhkan daulah baru di sana. Itulah permulaan riwayat Andalusia atau Spanyol-Islam.

Raja Andalusia yang pertama, Abdurrahman I, membangun pusat pemerintahan di Kordoba. Kota itu lambat laun menjadi mercusuar peradaban Islam pertama di Eropa. Ia mendirikan pelbagai fasilitas publik, seperti masjid, rumah sakit, madrasah, universitas, jalan raya, sistem irigasi, dan lain-lain.

Ketika kebanyakan negeri di Benua Biru sedang “tenggelam” dalam konflik sekterian atau agama, Andalusia justru memancarkan kebudayaan yang maju, majemuk, dan kosmopolitan.

Pada 11 April 1126 M, Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad lahir di Kordoba. Lelaki yang kelak masyhur dengan sapaan Ibnu Rusyd itu berasal dari keluarga terpelajar. Ayah dan kakeknya merupakan kadi yang dihormati baik oleh penguasa maupun masyarakat setempat.

Sejak kecil, ia dididik untuk selalu mencintai ilmu pengetahuan. Tidak hanya pengajaran agama Islam, pendidikan lainnya yang mengasah daya intelektual juga diterimanya dengan amat baik.

Dari sang ayah, Ibnu Rusyd mendalami ilmu bahasa dan sastra Arab. Setelah itu, barulah ketertarikannya muncul pada bidang teologi atau ilmu kalam, serta fikih dana ushul fikih. Secara khusus, bapaknya itu selalu menyemangatinya untuk menghafal kitab Al-Muwatha’ karya Imam Malik. Adapun dalam konteks kalam, dirinya mengikuti tradisi Asy’ariyah.

 
Walaupun belum mencapai usia akil baligh, kecerdasan yang dimilikinya membuat Ibnu Rusyd disukai dan dihormati banyak orang.
 
 

Walaupun belum mencapai usia akil baligh, kecerdasan yang dimilikinya membuat Ibnu Rusyd disukai dan dihormati banyak orang. Sering kali, ia diminta mengikuti diskusi atau debat tentang ilmu-ilmu fikih atau kalam. Bahkan, seorang tokoh besar pada masa itu Ibnu Thufail (1110-1185) menjadi gurunya dalam bidang filsafat dan logika. Kala itu, sang murid baru berumur 12 tahun.

Semakin menuju usia dewasa, kian besar tekadnya dalam menuntut ilmu. Ibnu Rusyd menjadi seorang ilmuwan serba bisa (polymath). Bidang yang ditekuninya tidak hanya kalam, filsafat, atau fikih, tetapi juga sains dan kedokteran.

Dalam disiplin yang terakhir itu, ia memiliki karya pertama, yakni Al-Kulliyah fii ath-Thibb. Buku yang terdiri atas tujuh bab itu membicarakan pelbagai aspek dunia medis, mulai dari topik anatomi, gejala-gejala penyakit, hingga obat-obatan.

Mungkin, popularitasnya “kalah” daripada kitab Al-Qanun fii ath-Thibb-nya Ibnu Sina. Namun, selama ratusan tahun Al-Kulliyah menjadi rujukan di universitas-universitas seantero Eropa sejak risalah ini pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani pada abad ke-13.

Dengan rekomendasi dari Ibnu Thufail, reputasi Ibnu Rusyd mulai menjalar ke luar Andalusia, termasuk Afrika Utara. Waktu itu, kawasan tersebut dikuasai Dinasti Muwahhidin, yang berpusat di Maghribi (Maroko).

Pada 1153, dia hijrah ke Maroko atas permintaan raja pertama wangsa tersebut, Abdul Mu’min. Sang cendekia diminta untuk memimpin lembaga-lembaga pengkajian sains dan ilmu pengetahuan yang didirikan sang penguasa.

 
Pada 1169, karier Ibnu Rusyd kian menanjak. Sang khalifah mengangkatnya sebagai kadi di Seville.
 
 

Pada 1169, karier Ibnu Rusyd kian menanjak. Sang khalifah mengangkatnya sebagai kadi di Seville—waktu itu termasuk wilayah kekuasaan Muwahhidin. Jabatan yang sangat prestisius itu dimanfaatkannya bukan untuk membangun ketenaran, melainkan belajar sebaik-baiknya.

Ya, sebagai pejabat dirinya berhak mengakses kapan pun perpustakaan Seville yang berisi banyak koleksi buku dan manuskrip. Konon, tidak pernah semalam pun terlewatkannya tanpa membaca dan menulis kecuali dua momen saja, yakni saat ayahandanya wafat dan malam pernikahannya.

Saat berusia kira-kira 50 tahun, Ibnu Rusyd menikmati puncak kariernya. Kembali ke Kordoba, dia ditunjuk menjadi hakim agung. Lantas, pada 1182 pemerintah mengangkatnya sebagai dokter pribadi khalifah, menggantikan gurundanya, Ibnu Thufail.

photo
Kajian yang dilakukan Ibnu Rusyd atas filsafat Yunani Kuno, terutama gagasan-gagasan dari Aristoteles, kemudian dibaca para sarjana Eropa. Itulah yang menghantarkan Benua Biru pada Renaisans. - (DOK WIKIPEDIA)

Ilmuwan prolifik

Seperti umumnya para cerdik cendekia pada era keemasan Islam, Ibnu Rusyd pun menghasilkan banyak tulisan di sepanjang hayatnya. Para sejarawan modern berselisih pendapat mengenai jumlah karyanya.

Ada yang mengatakan, sang sarjana Muslim telah menulis minimal 78 buku. Beberapa di antaranya dapat dijumpai di Perpustakaan Eskurbel, dekat Madrid, Spanyol. Ada pula yang mengeklaim, jumlah karya filsuf tersebut hanya tersisa 50 buah yang dapat dibaca hingga kini.

Yang pasti, luasnya daya intelektual Ibnu Rusyd tecermin dari keberagaman topik yang dibicarakannya dalam tulisan-tulisan. Ia tidak hanya menulis tentang filsafat Yunani, tetapi juga fikih, ushul fikih, ilmu kedokteran, psikologi, ilmu alam, dan lain-lain.

Karena pemahamannya yang mendalam tentang fikih ahlussunnah wal-jama’ah (aswaja), tidak tepat tuduhan-tuduhan bahwa sang alim termasuk golongan Mu’tazilah. Dalam pengakuannya sendiri, mazhab fikihnya ialah Maliki, sedangkan kalamnya ialah Asy’ariyah.

Sering kali, tudingan yang dialamatkan kepadanya tanpa bukti. Atau, sekadar berangkat dari asumsi bahwa Ibnu Rusyd adalah seorang rasionalis yang enggan merujuk pada “teks". Padahal, yang diupayakannya ialah mendobrak kejumudan berpikir.

Karena itulah, antara lain, dirinya menulis kitab Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid. Buku itu ditulisnya secara komplet selama dua dekade. Dalam kalam pembuka, Ibnu Rusyd menegaskan bahwa karyanya ini bertujuan mendobrak kejumudan intelektual, mengkritik fanatisme mazhab, serta menyegarkan kembali pemahaman fikih. Dengan perkataan lain, upayanya ialah membuka (kembali) pintu ijtihad dalam memahami dan menerapkan syariat.

Sebelum Bidayah al-Mujtahid terbit, kecenderungan yang berlaku di tengah kalangan fukaha pada masa itu ialah memfinalkan. Dalam arti, muncul gejala-gejala stagnansi. Fikih tekstual terasa amat mendominasi, termasuk di lingkungan mazhab Maliki. Padahal, menurut Ibnu Rusyd, pembaruan pemikiran tetap diperlukan.

Sayangnya, banyak kalangan secara ekstrem menolak usaha sang cendekiawan. Bahkan, di beberapa kota karya-karya ulama asal Andalusia itu dibakar di depan umum, utamanya yang berbicara perihal filsafat.

Pada 9 Shafar 595 H atau 11 Desember 1198 M, Ibnu Rusyd wafat dalam usia 72 tahun.


×