Kepala Cabang Bank Mandiri Gorontalo Darojat Wirabuana (tengah) melihat produk olahan ikan tuna pada kegiatan Rumah BUMN Entrepreneur Week di halaman kantor Bank Mandiri, Kota Gorontalo, Gorontalo, Rabu (8/12/2021). Kegiatan tersebut memamerkan berbagai | ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

Khazanah

17 Dec 2021, 16:20 WIB

BUMN Diharapkan Jadi Bapak Angkat Pesantren

BUMN harus mampu mendorong program kemandirian pesantren.

JAKARTA – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan kalangan swasta diharapkan berkolaborasi bersama pemerintah dengan menjadi bapak angkat pondok pesantren di Indonesia. Kolaborasi itu dinilai penting dalam upaya mengungkit kemandirian ekonomi pesantren.

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan hal itu saat membuka Pesantren Economic Forum bertema “Membangun Kemandirian Ekonomi Pesantren Melalui Kolaborasi Inc” di Jakarta, Rabu (15/12).

"Kalau ini bisa konsisten, saya optimistis pada waktunya pondok pesantren akan mampu menjadi penggerak sekaligus daya ungkit bagi ekonomi nasional sebagaimana yang diharapkan Presiden Joko Widodo," ujar Menag seperti dilansir laman resmi Kemenag, Kamis (16/12).

Menag menyampaikan, program kemandirian pesantren bukan sesuatu yang baru. Sebelumnya, program ini pernah dijalankan oleh pemerintah bersama kementerian dan lembaga lainnya. Namun, program tersebut tidak tepat sasaran untuk mengungkit kekuatan ekonomi pesantren agar bisa mandiri.

"Setelah kami telusuri ada banyak gelaran pelatihan dari pemerintah dan entitas lainnya kepada pondok pesantren tanpa dibarengi modal. Begitu juga ada yang diberi modal, tapi tanpa ada pelatihan dan panduan sehingga akhirnya tidak sesuai tujuan," ujar Menag.

Belajar dari pengalaman itu, kata dia, maka bantuan kepada pondok pesantren dalam program kemandirian pesantren akan dikawal dari hulu hingga hilir. Harapannya, bisa dirumuskan entitas bisnis apa yang bisa dilakukan sesuai dengan karakteristik masing-masing pesantren.

"Tahun ini ada 105 model kemandirian pondok pesantren dan tahun 2024 nanti akan ada 5.000 pondok pesantren yang akan menjadi model penguatan kemandirian ekonomi pesantren. Kita akan berikan modal, pendampingan hingga manajemen pemasaran," ujar Menag.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Abdul Mu'ti mengatakan, berbagai program untuk meningkatkan dan memajukan pesantren patut diapresiasi. Akan tetapi berbagai program pemberdayaan pesantren hendaknya mempertimbangkan beberapa hal.

"Pertama, ciri khas pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang menitikberatkan pada penguasaan ilmu agama, kesalehan, dan akhlak mulia," kata Mu'ti.

Kedua, berbagai program ekonomi dan kewirausahaan di pesantren tetap ditujukan untuk para santri sehingga mereka dapat mandiri setelah lulus dari pesantren. Ketiga, berbagai program keterampilan di pesantren terintegrasi dengan kurikulum sehingga tidak akan mengurangi kompetensi di bidang ilmu agama.

Keempat, kata Mu’ti, pesantren penerima atau mitra hendaknya diseleksi secara terbuka. "Kelima, akuntabilitas dan transparansi anggaran untuk memastikan pemanfaatan yang benar dan menghindari kemungkinan adanya penyalahgunaan anggaran oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.


×