PM Israel Naftali Bennett (kiri) berjalan bersama Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan disambut pengawal kehormatan di Abu Dhabi, Ahad (12/12/2021). | Haim Zach/Israel Government Press Office via

Internasional

15 Dec 2021, 03:45 WIB

Iran Kritik Keras UEA

Arab Saudi mengatakan siap melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel.

 

TEHERAN -- Iran mengkritik keras Uni Emirat Arab (UEA) karena menjamu kunjungan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett. Teheran menegaskan, tindakan itu merupakan pengkhianatan terhadap Palestina dan akan selalu diingat.

"Penerimaan perdana menteri dari rezim yang tidak sah, yang menjadi penyebab ketidakamanan, ketegangan, serta hasutan perang di negara-negara Arab dan Islam selama lebih dari 70 tahun, akan dicatat dalam memori sejarah rakyat Palestina, rakyat di kawasan dan semua pejuang kemerdekaan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh pada Senin (13/12) seperti dilaporkan kantor berita Iran, IRNA.

Khatibzadeh kembali menekankan, Iran menentang normalisasi hubungan dengan Israel. Dia mengatakan, perjuangan harus dilanjutkan untuk pembebasan Yerusalem. "Rezim pendudukan Quds (Yerusalem) adalah musuh pertama dunia Islam dan negara-negara Arab dan tidak ada tindakan ke arah normalisasi yang dapat mencapai cita-cita luhur (negara) Palestina," ucapnya.

Sementara itu, Bennett mengatakan pulang dengan sangat optimistis dari perjalanan dua hari ke UEA, Senin. Kunjungan itu menjadi kunjungan resmi pertama ke negara Teluk oleh seorang pemimpin Israel sejak negara-negara itu menjalin hubungan tahun lalu.

photo
PM Israel Naftali Bennett (kiri) disambut Putra Mahkota Abudhabi Sheikh Mohammed bin Zayed di Abu Dhabi, Senin (13/12/2021). - (Haim Zach/Israel Government Press Office via )

Dalam sebuah pernyataan video sebelum meninggalkan UEA, Bennett mengatakan telah mengadakan pembicaraan yang bermakna, mendalam, dan langsung tentang wilayah tersebut. "Saya terbang kembali ke Israel dengan sangat optimistis hubungan ini dapat menjadi contoh bagaimana kita dapat membuat perdamaian di Timur Tengah," katanya.

Kantor Bennett mengatakan dia bertemu dengan putra mahkota Abu Dhabi dan penguasa de facto Emirat Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan selama sekitar empat jam. Lebih dari setengah waktunya dihabiskan dalam pembicaraan empat mata. Kantor Perdana Menteri Israel juga mengatakan putra mahkota telah menerima undangan untuk mengunjungi Israel, meskipun tanggalnya tidak segera diumumkan.

Dalam sebuah pernyataan bersama, kedua negara menyebut kunjungan itu menandai tonggak sejarah lain dalam pengembangan hubungan yang hangat dan kemitraan yang luar biasa. Mereka telah membahas sejumlah bidang kerja sama, termasuk perdagangan, teknologi, lingkungan, dan pariwisata, serta membentuk dana penelitian dan pengembangan bersama. Negara-negara tersebut telah menjalin hubungan perdagangan yang sedang berkembang.

Akan tetapi, pernyataan itu tidak menyebutkan dua masalah kritis konflik Israel dengan Palestina dan program nuklir Iran. Padahal perjalanan Bennett ke federasi Teluk Arab dengan latar belakang pembicaraan nuklir antara kekuatan dunia dan Iran.

Israel dan UEA tahun lalu menandatangani kesepakatan untuk menormalkan hubungan yang ditengahi oleh pemerintahan Donald Trump lewat Abraham Accords. Kedua negara telah lama berbagi keprihatinan tentang program nuklir Iran.

Iran mengatakan program nuklirnya dimaksudkan untuk tujuan damai. Sementara Israel mengatakan tidak akan membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir. Tel Aviv telah terang-terangan mengkritik pembicaraan nuklir global dengan Teheran.

Sementara itu, Arab Saudi mengatakan siap melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel. Akan tetapi, hal itu harus didasarkan pada Inisiatif Perdamaian Arab tahun 2002.

"Posisi resmi dan terbaru Saudi adalah bahwa kami siap untuk menormalkan hubungan dengan Israel segera setelah Israel menerapkan elemen inisiatif perdamaian Saudi yang dipresentasikan pada 2002," kata Perwakilan Tetap Arab Saudi untuk PBB Abdallah Al-Mouallimi dalam wawancara dengan Arab News, Selasa.

Dia menyebut, jika inisiatif itu diterapkan, Israel tidak hanya akan mendapat pengakuan dari Saudi, tapi seluruh dunia Muslim, yakni 57 negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). "Waktu tidak mengubah benar atau salah. Pendudukan Israel atas wilayah Palestina adalah salah, tidak peduli berapa lama hal itu berlangsung," ujar Al-Mouallimi.

Inisiatif Perdamaian Arab menyerukan diakhirinya pendudukan Israel atas semua wilayah Arab pascaperang 1967. Inisiatif itu pun menegaskan dukungan bagi pembentukan negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Kedua hal itu menjadi syarat jika Israel ingin membuka hubungan dengan dunia Arab. 

Sumber : Associated Press


×