Pekerja membongkar mesin motor untuk bahan membuat replika robot di Er Studio Art, Bantul, Yogyakarta, Rabu (14/10/2021). | Wihdan Hidayat / Republika

Opini

Trendsetter dan Strateginya

Jangan sampai kita berbangga diri dengan ukuran pasar yang besar, tetapi hanya menjadi followers.

BADRI MUNIR SUKOCO, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Awal bulan ini, Presiden Joko Widodo menyampaikan, Indonesia perlu menyiapkan strategi alternatif keluar dari middle income trap dan menjadi negara maju. Strategi yang digunakan negara maju, kurang optimal menjadikan Indonesia sebagai negara maju.

Keyakinan Presiden ini, sejalan dengan ekonom Korea Selatan, Ha-Joon Chang.

Dalam bukunya, Kicking Away the Ladder (2003), pemikiran komprehensif berdasarkan data menunjukkan, negara maju, baik langsung maupun tidak langsung, akan menghalangi negara berkembang menjadi maju. Dibutuhkan strategi alternatif untuk melakukannya.

Presiden menegaskan, Indonesia harus menjadi trendsetter (menciptakan tren), bukan follower (pengikut). Tren yang dimaksud terkait inovasi berbasis teknologi. Bagaimana strategi Indonesia menjadi trendsetter tersebut?

 
Presiden menegaskan, Indonesia harus menjadi trendsetter (menciptakan tren), bukan follower (pengikut).
 
 

Indeks inovasi 

Langkah awal tentu melihat posisi inovasi Indonesia relatif terhadap negara lain. Global Innovation Index (GII) 2021 bisa menjadi salah satu sumbernya. Mengukur kapasitas berinovasi (input) dan output yang dihasilkan, indeks ini bisa jadi dasar strategi inovasi nasional.

Berdasarkan kelompok ekonomi, GII 2021 menempatkan Swiss, Swedia, dan AS pada posisi teratas high-income countries. Untuk upper middle-income, Cina menempati posisi teratas, diikuti Bulgaria dan Malaysia.

Indonesia peringkat 25 (dari 34 negara pada kelompok upper middle-income) dan peringkat keseluruhan menempati  posisi 87 (dari 132 negara). Tentu menarik mencermati peningkatan posisi Cina – peringkat 12 (2021) dari peringkat 15 (2019).

Apalagi, artikel Harvard Business Review (Abrami dkk., 2014), “Why China Can’t Innovate,” menegaskan ketidakmampuan mereka berinovasi.

Dominasi e-commerce, smartphone, home appliances, computers (artificial intelligence), medical devices, solar panels, dan wind energy perusahaan Cina memperkuat posisi pada GII 2021.

Capaian di atas tentu tak lepas dari kebijakan nasional Made in China 2025 (MIC 2025) yang memfokuskan pada 10 industri strategis.  Dari sisi input, misalnya riset, alokasi dana pemerintah cukup besar untuk bidang-bidang di atas.

 
SDM unggul tak hanya menghasilkan pekerja kompeten, juga pengusaha muda yang mampu menghilirisasi inovasi berbasis teknologi yang telah dihasilkan.
 
 

Hasilnya, publikasi ilmiah (rata-rata empat kali lipat dari yang dihasilkan AS) sebagai dasar penciptaan paten teknologi. Paten teknologi inilah yang dikomersialisasi  pengusaha untuk menawarkan produk ke pasar domestik, baru ke pasar global.

Tentu peran perguruan tinggi berkualitas menjadi agenda prioritas sejak 2025. SDM unggul tak hanya menghasilkan pekerja kompeten, juga pengusaha muda yang mampu menghilirisasi inovasi berbasis teknologi yang telah dihasilkan.

Data Badan Statistik Cina menunjukkan, setiap hari pada 2016 rata-rata 15 ribu perusahaan baru didaftarkan sehingga 5,4 juta perusahaan baru terdaftar.

Startup sektor teknologi booming seiring tumbuh dan berkembangnya inkubator dan modal ventura sebagai lokomotif inovasi Cina.            

Menurut Greeven dkk (2019), kombinasi besarnya pasar domestik dengan middle-income class, persaingan ketat dengan jutaan pengusaha, dan dinamisnya peraturan pemerintah akan memfasilitasi terwujudnya swarm innovation (inovasi kawanan).

 
Data Badan Statistik Cina menunjukkan, setiap hari pada 2016 rata-rata 15 ribu perusahaan baru didaftarkan sehingga 5,4 juta perusahaan baru terdaftar.
 
 

Jutaan pengusaha muda Cina secara kolektif berinovasi pada peluang bisnis yang sama (menggunakan prinsip ATM – saling mengamati, meniru, dan memodifikasi) mendorong teknologi dan batasan pasar ke level baru.

Ini berbeda dengan strategi inovasi negara maju yang mengandalkan peluang unik sebagai dasar diferensiasi dan keunggulan bersaing. Ketika pasar berubah, inovasi kolektif yang dihasilkan lebih superior karena kelincahan dan kecepatan yang dihasilkan.

Rekomendasi

Presiden berjanji melakukan transformasi ekonomi dan menjadikan Indonesia produsen bernilai tambah tinggi. Bernilai tambah tinggi membutuhkan inovasi yang berbasis teknologi. Terdapat dua strategi yang terbukti sukses mengantarkan negara menjadi trendsetter.

Negara maju mengandalkan inovasi dari niche (diferensiasi) dan membesar seiring teredukasinya pasar. Strategi inovasi Cina mengandalkan “kawanan” pengusahanya, yang digerakkan peluang yang sama di pasar mengakselerasi inovasi yang dihasilkan.

 
Besarnya pasar domestik, menjadikan inovator Cina mampu merespons cepat kebutuhan pasar dan memodifikasinya sehingga inovasi yang dihasilkan menyamai, bahkan mengungguli produk negara maju.
 
 

Besarnya pasar domestik, menjadikan inovator Cina mampu merespons cepat kebutuhan pasar dan memodifikasinya sehingga inovasi yang dihasilkan menyamai, bahkan mengungguli produk negara maju.

Indonesia dapat memilih salah satu atau memadupadankan strategi mana yang akan diambil untuk menjadi trendsetter. Fokus pada bidang tertentu, sesuai kapabilitas inovasi dan pasar yang tersedia, memperkuat tren inovasi yang akan dihasilkan Indonesia.

Jangan sampai kita berbangga diri dengan ukuran pasar yang besar, tetapi hanya menjadi followers bahkan pasar terbesar produk negara lain. Hal yang menurut Ha-Joon Chang melanggengkan status negara berkembang tanpa mampu menjadi negara maju.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat