Penumpang berjalan di Bandara Internasional Adolfo Suarez-Barajas di Madrid, Spanyol, Kamis (2/12/2021). Eropa mengetatkan pembatasan terkait merebaknya varian omikron. | AP/Manu Fernandez

Internasional

07 Dec 2021, 03:45 WIB

Ilmuwan Khawatir Varian Covid-19 Bermutasi Cepat

Varian omikron menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah.

CAPE TOWN -- Ilmuwan yang pertama kali mendeteksi strain baru omikron, Sikhulile Moyo, khawatir dengan varian Covid-19 yang bermutasi sangat cepat. Kecepatan mutasi juga menimbulkan pertanyaan tentang evolusi varian Covid-19.

Moyo adalah direktur Botswana Harvard HIV Reference Laboratory dan juga peneliti di Harvard, TH Chan School of Public Health. Ia mengatakan, virus tidak mengakumulasi mutasi dalam satu langkah. Dia menjelaskan, sangat sulit untuk memahami dengan baik seberapa jaub varian omikron akan berkembang.

“Kami masih mencoba memahami berapa banyak mutasi yang muncul untuk omicron dalam waktu singkat.  Jika Anda melihat garis keturunan sebelumnya, jika Anda melihat alfa, jika Anda melihat beta, Anda dapat melihat mutasi terakumulasi dari waktu ke waktu," ujar Moyo, dilansir Alarabiya, Senin (6/12).

Salah satu teorinya adalah jenis ini atau varian omikron berkembang pada orang dengan kekebalan yang rendah, dan bersarang di tubuh tersebut lebih lama dari biasanya. Hipotesis lain adalah apakah virus itu bisa dipindahkan dari manusia ke inang hewan, kemudian beradaptasi dengan inang itu dalam waktu yang relatif cepat, dan pindah kembali ke manusia.

Moyo pertama kali mengurutkan sampel pada 11 November. Dengan banyaknya perubahan terhadap varian omikron, Moyo awalnya mengira ini akan menjadi virus yang lemah.

"Sebaliknya, varian (omikron) dapat mereplikasi dengan cepat dan menghindari bagian dari sistem kekebalan, menyebabkan risiko infeksi ulang yang lebih tinggi," ujar Moyo.

Saat ini omikron sudah terdeteksi di puluhan negara, mencakup Asia, Amerika, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika. Di Amerika Serikat saja, sekurangnya sudah mendeteksi kasus omikron di 10 negara bagian.

Varian itu ditemukan di Negara Bagian Maryland, Utah, Missouri, Pennsylvania, New York, Colorado, Minnesota, California, Hawaii, dan Nebraska. Laman the Hill menyebutkan, Pemerintah AS terus melakukan pengujian karena jumlah kasus mungkin terus meningkat dan menyebar lebih luas. 

Tak parah

Sementara, laporan terbaru dari Dewan Penelitian Medis Afrika Selatan (SAMRC) mengungkap bahwa varian omikron menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan varian sebelumnya.

photo
Warga menunggu sebelum menaiki penerbangan Air France ke Prancis dari Bandara Internasional Tambo di Johannesburg, Afrika Selatan, Jumat (26/11/2021). Sejumlah negara di dunia termasuk Indonesia mulai menutup pintu kedatangan dari Afrika bagian selatan akibat merebaknya varian Covid-19 yang dibari sandi omikron. - ((AP Photo/Jerome Delay))

Laporan ini ditulis oleh dokter Fareed Abdullah, dengan meninjau pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Distrik Tshwane. Abdullah menekankan bahwa laporan tersebut hanya didasarkan pada pasien yang dirawat selama dua minggu pertama gelombang omikron, sehingga sangat mungkin profil pasien ini akan berubah selama beberapa minggu mendatang.

Tanda-tanda awal menunjukkan gelombang omikron ini sangat berbeda dengan gelombang sebelumnya yang terlihat di wilayah Tshwane setempat. Pengamatan utama yang dilaporkan dalam analisis ini adalah mayoritas pasien di bangsal Covid-19 tidak bergantung pada oksigen. Ini bisa diartikan bahwa varian Omicron tidak menimbulkan keparahan penyakit seperti varian sebelumnya.

“Sepanjang gelombang Covid-19 sebelumnya, selalu ada lonjakan pasien di bangsal Covid dan biasanya pasien dirawat sampai fase pemulihan, menunggu resolusi komorbiditas sebelum dipulangkan,” kata Abdullah seperti dilansir dari New Atlas, Senin (6/12).

Yang memperumit indikasi yang menjanjikan ini adalah kenyataan bahwa sebagian besar rawat inap Covid-19 di Tshwane adalah individu yang lebih muda. Bahkan, menurut laporan SAMRC, 80 persen pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dalam dua minggu terakhir adalah mereka yang berusia di bawah 50 tahun.

Abdullah berspekulasi tingkat kasus positif yang lebih tinggi pada individu yang lebih muda bisa menjadi pertanda vaksin bekerja melawan omikron. Dia mencatat 57 persen dari mereka yang berusia di atas 50 tahun di wilayah setempat telah divaksinasi, sementara capaian vaksinasi individu berusia di bawah 50 tahun hanya 34 persen.

Peter Hotez dari Baylor College of Medicine membaca data baru ini sebagai hal yang menjanjikan. Namun dia menggaris bawahi bahwa masih terlalu dini untuk mengklaim bahwa ini adalah perilaku definitif omikron.

“Saya pikir kita harus sangat berhati-hati dalam membuat pernyataan definitif. Kita kan melihat saat omikron berakselerasi di Amerika Serikat, apakah akan memicu gelombang baru atau tidak,” kata Hotez.

Studi baru lainnya tentang omikron berasal dari South African Centre of Excellence in Epidemiological Modelling and Analysis. Diterbitkan sebagai pracetak dan belum ditinjau oleh rekan sejawat, penelitian tersebut melaporkan studi pengawasan yang sedang berlangsung yang melacak tingkat infeksi ulang Covid-19 di wilayah setempat.

Studi dimulai pada awal tahun 2021, dan temuan awal yang diterbitkan sebagai pracetak pada awal November melacak tingkat infeksi ulang di seluruh gelombang varian Beta dan Delta. Selama Oktober para peneliti mulai melihat pergeseran data. 

Infeksi ulang meningkat dengan cepat di beberapa wilayah Afrika Selatan. Ketika omikron baru-baru ini diidentifikasi, para peneliti dengan cepat memperbarui studi mereka untuk memasukkan data hingga akhir November.

Data baru ini memberikan gambaran yang sangat berbeda dengan temuan awal, menunjukkan bahwa Omicron mungkin berperilaku berbeda dengan varian Beta dan Delta. Peningkatan dalam infeksi ulang SARS-CoV-2 pada bulan Oktober dan November terlihat berkorelasi dengan munculnya omikron.

“Kami menemukan bukti peningkatan substansial dan berkelanjutan dalam risiko infeksi ulang yang secara temporal konsisten dengan waktu munculnya varian omikron di Afrika Selatan,” para peneliti menyimpulkan.

Namun lagi-lagi, seorang ahli epidemiologi dari Harvard TH Chan School of Public Health, Bill Hanage, menekankan terlalu dini untuk menyimpulkan dampak seperti apa yang mungkin dimiliki omikron. Dia tidak terkejut omikron dapat menyebabkan tingkat infeksi ulang yang lebih tinggi, tetapi sampai varian menyebar melalui populasi yang lebih beragam, tidak mungkin untuk mengetahui jenis penyakit apa yang dapat ditimbulkannya.

"Mereka yang berpikir tentang keparahan omikron, harap ingat bahwa kami pikir itu baru menyebar sejak sekitar pertengahan Oktober. Secara harfiah tidak ada cukup waktu untuk kasus yang cukup parah untuk berkembang dan menjadi parah sehingga kami dapat mengukurnya,” kata Hanage.


×