Sejumlah relawan melakukan proses evakuasi korban yang tertimbun longsoran material awan panas di Dusun Curah Kobokan, Desa Supitarang, Kabupaten Lumajang, Senin (6/12/2021). | Republika/Edwin Dwi Putranto

Kabar Utama

07 Dec 2021, 03:55 WIB

Korban Jiwa Erupsi Semeru Bertambah

Korban tertimbun material pasir bekas lahar dingin setinggi satu meter.

LUMAJANG -- Jumlah korban jiwa akibat erupsi Gunung Semeru bertambah. Tim SAR gabungan menemukan enam jenazah saat melakukan evakuasi di Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, pada Senin (6/12). 

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Surabaya I Wayan Suyatna mengatakan, tiga jezanah ditemukan dalam proses evakuasi hingga pukul 11.08 WIB. "Ketiga jenazah ditemukan di satu lokasi yang sama," kata Wayan, Senin. 

Petugas kembali menemukan dua jenazah korban erupsi sekitar pukul 13.10 WIB. Kedua jezanah itu ditemukan di aliran sungai Kampung Renteng. Jumlah korban jiwa berpotensi terus bertambah. Sebab, petugas evakuasi kembali menemukan jenazah pada sore hari. Seluruh jenazah dibawa ke RSUD dr Haryoto Lumajang untuk proses identifikasi.  

Dengan ditemukannya lima jenazah, kata Wayan, maka jumlah korban jiwa akibat erupsi Gunung Semeru hingga Siang siang sudah mencapai 19 orang. Lima orang di antaranya meningggal di rumah sakit.

photo
Relawan melakukan proses evakuasi korban yang tertimbun longsoran material awan panas di Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kabupaten Lumajang, Senin (6/12/2021). Dusun Curah Kobokan adalah salah satu wilayah yang terdampak cukup parah akibat erupsi Gunung Semeru. Hampir semua rumah warga di lokasi itu hancur. - (Republika/Edwin Dwi Putranto)

Menurut dia, proses evakuasi jenazah cukup sulit. Sebab, korban tertimbun material pasir bekas lahar dingin setinggi satu meter. "Kondisi pasir masih agak panas, semakin dalam semakin terasa panas. Proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati," ujarnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, Posko Tanggap Darurat Bencana Awan Panas dan Guguran Gunung Semeru mencatat ada 27 warga yang dinyatakan hilang berdasarkan data pada Senin siang. Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, pengecekan dan validasi data terus dilakukan untuk memastikan status korban tersebut.

"Hingga hari ketiga, posko tetap melakukan operasi pencarian dan pertolongan warga yang mungkin menjadi korban awan panas guguran Gunung Semeru yang meletus pada Sabtu (4/12)," ujar Abdul.

Berdasarkan data sementara, jumlah warga terdampak tercatat sebanyak 5.205 jiwa. Adapun warga yang mengungsi berjumlah 1.707 jiwa yang tersebar di 19 titik. Di Kecamatan Pronojiwo terdapat sembilan titik pos pengungsian, di Kecamatan Candipuro enam titik pos pengungsian, dan empat titik pos pengungsi di Kecamatan Pasirian.

"Selain berdampak pada korban jiwa, awan panas guguran juga merusak sektor pemukiman dan infrastrukur di beberapa kecamatan di Kabupaten Lumajang," katanya.

Pemerintah Kabupaten Lumajang menyiapkan sekolah-sekolah di Kecamatn Candipuro untuk menjadi lokasi pengungsian bagi warga terdampak. Bupati Lumajang Thoriqul Haq mengatakan, lokasi pengungsian perlu ditambah karena beberapa tempat pengungsian yang sudah ada, seperti Balai Desa Penanggal, mulai penuh oleh warga yang mengungsi.

"Kami akan memastikan bagaimana ruang kelasnya cukup, toiletnya cukup, dengan distribusi logistik yang cukup di sekolah-sekolah yang dijadikan tempat pengungsian," tuturnya.

Pemanfaatan gedung sekolah untuk pengungsian diperlukan agar lokasi pengungsian tidak penuh sesak mengingat pandemi Covid-19 belum berakhir. Ia berharap penambahan jumlah pengungsian dapat membuat warga tetap bisa menjaga protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Pria yang akrab disapa Cak Thoriq itu mengatakan, pihaknya tengah fokus melakukan evakuasi masyarakat dan selanjutnya berfokus melakukan proses pemulihan dari dampak erupsi.

photo
Sejumlah relawan menaiki kendaraan saat akan melakukan evakuasi korban yang diduga masih tertimbun longsoran material awan panas di Dusun Curah Kobokan, Desa Supitarang, Kabupaten Lumajang, Senin (6/12/2021). Dusun Curah Kobokan adalah salah satu wilayah yang terdampak cukup parah akibat erupsi Gunung Semeru. Hampir semua rumah warga di lokasi itu hancur. - (Republika/Edwin Dwi Putranto)

"Kami betul-betul berharap ada tindak lanjut untuk percepatan recovery, saya akan sesegera mungkin berkoordinasi dengan Perhutani apabila masyarakat yang ingin pindah karena banyak rumah yang hancur, tentunya setelah proses evakuasi selesai," katanya.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyatakan akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk segera mengambil tindakan percepatan penanganan dan pemulihan dampak bencana. Suharyanto juga memerintahkan seluruh unsur TNI, Polri, dan lintas instansi gabungan untuk memastikan tidak ada warga di wilayah sekitar Gunung Semeru mengantisipasi awan panas guguran susulan Gunung Semeru yang masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu.

“Jangan sampai ada masyarakat di area ini, masih berbahaya,” ujar Suharyanto.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BASARNAS (sar_nasional)

Suharyanto telah meninjau lokasi terdampak awan panas guguran Gunung Semeru di Jembatan Gladak Perak, Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Di sepanjang jalan menuju lokasi, ia melihat banyak kerusakan vegetasi berupa pohon tumbang dan material vulkanik yang menutupi jalan dengan ketebalan sekitar 30 sentimeter. Beberapa bangunan di sepanjang jalan yang berada di lembah Daerah Aliran Sungai (DAS) Curah Kobokan juga mengalami kerusakan.

Ia juga sempat meninjau Jembatan Gladak Perak yang rusak dan putus. Jembatan itu merupakan penghubung antara Kabupaten Lumajang menuju Malang.

photo
Relawan saat melakukan proses evakuasi korban yang diduga masih tertimbun longsoran material awan panas di Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kabupaten Lumajang, Senin (6/12/2021). Dusun Curah Kobokan adalah salah satu wilayah yang terdampak cukup parah akibat erupsi Gunung Semeru. Hampir semua rumah warga di lokasi itu hancur. - (Republika/Edwin Dwi Putranto)

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyampaikan, saat ini ada 16 korban luka bakar yang menjalani perawatan intensif di RSUD Pasirian. Menurut Muhadjir, beberapa korban mengalami luka bakar hingga 80 persen. "Sedang kami perhatikan secara khusus korban luka bakar," katanya.

Menurut Muhadjir, korban luka bakar 80 persen yang diklasifikasikan sebagai pasien kritis di RSUD Pasirian berjumlah enam orang. Korban cedera di RSUD Pasirian tidak hanya yang mengalami luka bakar parah, ada pula korban yang tertimpa reruntuhan bangunan. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk mengirimkan bantuan peralatan bagi para korban.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BPBD Kab. Lumajang (bpbdkab.lumajang)

Andalkan Grup Medsos

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Indra Wibowo mengakui, belum ada sistem peringatan dini di titik-titik yang paling parah terdampak erupsi Gunung Semeru. Padahal, sistem peringatan dini merupakan perangkat yang paling dibutuhkan di area rawan bencana alam, sebagai upaya mencegah timbulnya korban jiwa.

photo
Petugas melihat aktivitas Gunung Semeru melalui seismograf dari pos pantau di Desa Sumberwuluh, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/12/2021). Gunung Semeru kembali mengeluarkan awan panas dengan jarak luncur sejauh 2,5 kilometer yang mengarah ke Curah Besuk Kobokan. - (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

"Sistem peringatan dini belum punya," ujarnya saat dikonfirmasi Republika, Senin (6/12). Indra mengatakan, peringatan dini bagi masyarakat sejauh ini masih mengandalkan grup media sosial di jajaran relawan dan posko-posko untuk menyebarkan informasi terkait ancaman bencana alam.

Informasi yang disebarkan berasal dari pos pantau atau pos pengamatan Gunung Semeru yang ada di Gunung Sawur. "Masih mengandalkan grup jajaran relawan, posko, juga HT. Informasi diteruskan ke masyarakat setelah ada informasi dari pos pemantau," katanya. 

Sepanjang Senin (6/12), tepatnya hingga pukul 15.49 WIB, tim SAR gabungan menemukan enam jenazah yang menjadi korban erupsi Gunung Semeru. Dengan demikian, total korban jiwa akibat erupsi Gunung Semeru mencapai 20 orang. 

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa sebelumnya mengatakan, sistem peringatan dini atau early warning system letusan Gunung Semeru sudah berjalan. Imbauan atau peringatan dini itulah yang membuat masyarakat langsung melakukan proses evakuasi ke tempat lebih aman.

photo
Petugas berdiri di depan sejumlah gambar aktivitas Gunung Semeru dari pos pantau di desa Sumberwuluh, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/12/2021). Gunung Semeru kembali mengeluarkan awan panas dengan jarak luncur sejauh 2,5 kilometer yang mengarah ke Curah Besuk Kobokan. - (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

Khofifah menyampaikan itu saat melaporkan perkembangan penanganan dampak letusan Gunung Semeru kepada Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin melalui sambungan telepon pada Ahad (5/12). Khofifah mengatakan, proses evakuasi tidak berjalan lancar setelah ada peringatan dini karena masyarakat dilanda kepanikan.

Dalam satu jam awan panas guguran Gunung Semeru membuat suasana menjadi gelap dan menimbulkan kepanikan warga dalam proses mengevakuasi, meskipun sudah tersedia petunjuk jalur evakuasi.

Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Wahyudi mengatakan, penghitungan volume kubah lava Gunung Semeru memungkinkan digunakan untuk memprediksi jarak luncur awan panas gunung itu saat meletus pada Sabtu (4/12). "Seharusnya, memang (kubah lava) bisa dihitung volumenya, apalagi sudah ada teknologi image, sehingga bisa diperkirakan jarak luncurannya. Ini yang kita bertanya-tanya kenapa bisa miss prediction," kata dia saat jumpa pers di Auditorium Fakultas MIPA UGM di Yogyakarta, Senin (6/12).

Selain data volume kubah lava, informasi mengenai jumlah material di puncak Gunung Semeru juga belum tersedia. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM sebelumnya menyatakan, berdasarkan pengamatan visual dan alat-alat seismometer, awan panas guguran Gunung Semeru pada Sabtu lalu memiliki jarak luncur mencapai 11 km dari puncak Semeru.

Sementara rekomendasi batas aman kepada masyarakat di lereng Gunung Semeru masih ditetapkan dalam Status Level II (Waspada), yakni pada radius satu kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru dan berjarak lima kilometer dari arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara.

photo
Relawan saat melakukan proses evakuasi korban yang diduga masih tertimbun longsoran material awan panas di Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kabupaten Lumajang, Senin (6/12/2021). Dusun Curah Kobokan adalah salah satu wilayah yang terdampak cukup parah akibat erupsi Gunung Semeru. - (Republika/Edwin Dwi Putranto)

Wahyudi mengatakan, informasi mengenai data kegempaan di Gunung Semeru, yang meningkat selama 90 hari terakhir juga bisa digunakan untuk mengidentifikasi gejala awal atau prekursor letusan. "Jadi, rata-rata di atas 50 kali per hari dalam 90 hari terakhir, bahkan ada yang sampai 100 kali per hari. Ini sebenarnya sudah tanda-tanda, bisa dijadikan prekursor terjadinya erupsi," ujar dia.

Dosen Fakultas Geografi UGM, Danang Sri Hadmoko, mengingatkan seluruh pihak mewaspadai adanya bahaya sekunder atau bahaya tidak langsung, yang diakibatkan erupsi Gunung Semeru. Sebab, selain erupsi awan panas, ada bahaya sekunder seperti banjir bandang membawa material vulkanis di hulu.

Danang mengatakan, fenomena La Nina memunculkan potensi hujan tinggi sehingga masyarakat yang ada di area sungai berhulu Gunung Semeru perlu waspada. Warga juga harus menghindari aktivitas dalam radius bahaya yang sudah ditetapkan.

"Beberapa sungai yang berhulu di Semeru itu perlu diwaspadai, supaya ketika terjadi aliran lahar di bagian tengah dan hilir, yang banyak permukiman bisa terselamatkan," kata Danang.

Sumber : antara


×