Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

06 Dec 2021, 03:30 WIB

Mengenal Allah

Beruntunglah orang yang beribadah kepada Allah atas dasar mengenal diri-Nya.

OLEH AGUS SOPIAN

 

Banyak hal di dunia ini yang berada di luar batas kemampuan manusia. Orang yang senantiasa memikirkan kebesaran Allah akan merasakan keterbatasan diri dan akalnya.

Makin ia mengenal Allah, makin ia merasa kecil. Kesadaran semacam itu akan mengikis setiap kesombongan yang melekat pada diri seseorang.

Mahasuci Allah yang telah menampakkan diri-Nya melalui tanda-tanda kebesaran-Nya hingga tak ada lagi yang tersembunyi. Berbagai macam kejadian Allah hadirkan di muka bumi ini agar manusia semakin yakin atas keberadaan-Nya. Orang yang cerdas akan mampu menangkap hikmah di setiap peristiwa yang tercipta.

Mukmin sejati hendaknya tidak ada sedikit pun keraguan dalam dirinya tentang bagaimana Allah mengatur setiap kehidupan. Dialah Sang Raja Diraja. Dia menciptakan bani Adam dari tetesan air, kemudian menjadikannya dalam bentuk yang sangat sempurna, lalu memberikannya pemahaman, kesadaran, dan ilmu pengetahuan.

Dia juga yang membentangkan alam, alirkan mata air, tiupkan angin, dan tumbuhkan pepohonan. Dia angkat di atas manusia langit yang menjulang tanpa tiang, dilengkapi matahari yang bersinar kala siang. Kemudian, Dia ciptakan malam agar manusia dapat beristirahat dan menenangkan diri.

Pikirkanlah penciptaan delima dengan biji-bijinya yang tersusun rapi, kulitnya yang begitu indah. Atau bagaimana anak ayam yang ada di dalam telur, juga bayi dalam kandungan ibu.

Sungguh, semua kejadian itu menggambarkan kebesaran Sang Khalik. Masih banyak lagi yang tidak bisa diuraikan bagaimana Allah menunjukkan kekuasaan dan wujud-Nya sebagai pencipta alam. Allah hadir dalam perbuatan-Nya yang beragam. Mukmin sejati akan makin sadar dengan keagungan Allah sehingga meluncurlah ungkapan kekaguman, “Subhanallah".

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka'.” (QS Ali Imran: 190-191).

Beruntunglah orang yang beribadah kepada Allah atas dasar mengenal diri-Nya. Bukan karena paksaan atau tradisi semata, melainkan lahir dari kesadaran sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Ibnu al-Jauzi berkata, “Orang yang lalai akan mengatakan ‘subhanallah’ hanya sebagai kebiasaan. Namun, bagi orang yang sadar, ucapan itu merupakan refleksi terhadap keajaiban alam dan tanda-tanda kebesaran Tuhan.”

Wallahu a’lam.


×