Nasabah melakukan pembayaran zakat menggunakan aplikasi digital banking OCTO Mobile di Tangerang, Kamis (22/4). Melalui OCTO Mobile, CIMB Niaga Syariah memberikan kemudahan bagi nasabah dalam menunaikan zakat, infak, sedekah, dan wakaf di bulan Ramadan in | REPUBLIKA

Khazanah

03 Dec 2021, 08:55 WIB

Wakaf Dinilai Belum Dimanfaatkan Secara Maksimal

Wakaf menjadi tradisi dan kebanggaan masyarakat untuk menghidupkan ekonomi umat.

JAKARTA – Instrumen wakaf diyakini dapat menjadi salah satu kendaraan atau mesin penggerak agar Indonesia bisa tumbuh. Sayangnya, instrumen wakaf ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Betapa potensi wakaf kita itu sangat besar tapi itu hanya ada di grafik dan pidato, kita belum mampu menjadikan potensi wakaf menjadi sebuah kekuatan yang real (nyata), padahal itu semua ada di tangan kita,” ujar Bendahara Yayasan Dompet Dhuafa, Hendri Saparini, saat menyampaikan paparan dalam acara Wakif Gathering di Khadijah Learning Center Dompet Dhuafa, Tangerang Selatan, Selasa (30/11).

Ia mengatakan, dalam kondisi yang tidak mudah seperti sekarang ini tentu peran kekuatan wakaf menjadi semakin besar dan diharapkan. Mungkin yang sering didengar adalah wakaf akan bisa mengurangi kemiskinan dan pengangguran.

Namun, sebenarnya, kata dia, jika wakaf dapat dioptimalkan dalam kondisi pemerintah sekarang mengalami tekanan di sisi fiskal, kekuatan wakaf akan menghidupkan atau mengurangi beban masyarakat dan negara.

“Kita bisa bayangkan bahwa setelah pandemi (Covid-19) kemiskinan dan pengangguran bertambah, kebutuhan kita untuk fiskal semakin besar, maka seolah-olah tidak ada pilihan bagi pemerintah kecuali meningkatkan penerimaan pajak,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, sekarang mungkin pemerintah telah melakukan banyak hal untuk memenuhi kebutuhan dasar dan pelayanan dasar masyarakat. Namun, fakta di lapangan dan data juga menyebutkan ternyata banyak hal yang masih harus dikerjakan.

Menurutnya, waktu sangat berharga dan terbatas. Waktu bagi Indonesia masuk dalam era banyak penduduk dalam usia tidak produktif itu sebentar lagi. Kalau sekarang tahun 2021, maka tahun 2030 atau 2035 akan masuk era banyak penduduk dalam usia tidak produktif.

"Sehingga kita tidak bisa bicara bonus demografi, defisit demografi, kita khawatir itu akan menjadi bencana demografi," katanya.

Sebab, saat itu penduduk dalam usia tidak produktif jumahnya sangat banyak, maka tidak mampu dibiayai pemerintah. Bahkan penduduknya sendiri tidak mampu membiayai dirinya sendiri.

"Ancaman yang sangat mengerikan ini semestinya harus kita carikan solusi, jadi kenapa kita harus melakukan kerja sama dalam mengoptimalkan wakaf, karena kita memiliki agenda-agenda tersebut, kita memiliki PR yang sangat besar," ujarnya.

Sementara, Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Imam Teguh Saptono, menceritakan kehebatan wakaf di zaman Umar bin Abdul Aziz yang dapat mengentaskan kemiskinan sehingga tidak ada lagi orang yang berhak menerima zakat. Bahkan, utang-utang pribadi masyarakat dapat dilunasi oleh negara.

Imam mengatakan, di zaman Umar bin Abdul Aziz untuk pertama kalinya sebuah pemerintahan melakukan pelunasan atas utang-utang pribadi warganya menggunakan dana publik. Dana publik tersebut berasal dari zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Ia menerangkan, dengan instrumen wakaf itulah dalam waktu 3,5 tahun masalah kesejahteraan di zaman Umar bin Abdul Aziz terselesaikan.

Imam juga mengingatkan, Indonesia harus siap-siap menyongsong ledakan filantropi nasional. Paling tidak, Indonesia sudah ditetapkan sebagai negara paling dermawan di dunia. Maka tahun 2030-2035, Indonesia menjadi negara nomor dua yang memiliki angkatan kerja produktif. Berarti orang Indonesia pada waktu itu dermawan dan memiliki uang.

Ia menambahkan, di tahun 2018 ada yang melakukan survei terhadap 20 ribu anak milenial di 120 negara. Tujuannya hanya untuk mendapatkan data seberapa besar peran keagamaan diyakini sebagai sumber kebahagiaan. Hasilnya, angka tertinggi adalah Indonesia.

"Jadi, di tahun 2030 dan 2035 Indonesia adalah negara paling dermawan, punya uang dan saleh. Pertanyaannya adalah apakah lembaga-lembaga seperti Dompet Dhuafa sudah memiliki kesiapan untuk menyongsong ledakan filantropi nasional ini," kata Imam.


×