Azyumardi Azra | Daan Yahya | Republika

Resonansi

02 Dec 2021, 03:45 WIB

Literatur Islam Indonesia: Warisan

Literatur Islam Kepulauan Nusantara sejak abad ke-14-15 khususnya sampai masa kontemporer sangat kaya.

OLEH AZYUMARDI AZRA 

Literatur Islam Indonesia (al-adab al-Islami al-Indunisi)—khususnya esai dalam bidang keagamaan, bukan sastra—adalah salah satu warisan (heritage atau legacy) atau khazanah penting Islam Indonesia.

Bermula sejak masa awal penyebaran Islam dan perkembangan intelektualisme Islam, khazanah literatur Islam Indonesia terus berlanjut dan berkembang pada masa kontemporer.

Dalam kontinuitas dan perubahan intelektualisme Islam di tengah lingkungan yang juga terus berubah, belum ada kajian komprehensif tentang berbagai aspek, corak, kandungan, distingsi, dan dinamika literatur Islam Indonesia sepanjang sejarah.

Kajian komprehensif ini sangat diperlukan tidak hanya untuk memahami warisan literatur Islam Indonesia pada masa silam, tetapi juga perkembangan dan kecenderungannya pada masa terakhir.

 
Dalam konteks masa kontemporer, ada persepsi berkembang di kalangan pengamat pemahaman dan gerakan Islam dari dalam dan luar negeri, tentang meningkatnya ekstremisme dan radikalisme dalam literatur Islam Indonesia.
 
 

Dalam konteks masa kontemporer, ada persepsi berkembang di kalangan pengamat pemahaman dan gerakan Islam dari dalam dan luar negeri, tentang meningkatnya ekstremisme dan radikalisme dalam literatur Islam Indonesia.

Dalam pengamatan mereka, gejala itu berkembang setidaknya sejak milenium baru, abad ke-21, yang kini memasuki dasawarsa ketiga.

Persepsi atau asumsi terkait meningkatnya ekstremisme dan radikalisme—yang dapat berujung pada terorisme di tingkat global, regional, dan lokal di Barat dan dunia Muslim—sejak awal abad ini, seberapa benar persepsi tentang literatur Islam mengandung paham dan praksis ekstremisme dan radikalisme?

Dalam kaitan itu, penulis Resonansi ini penting mencatat International Symposium on Religious Literature and Heritage (disingkat Islage).

Simposium ketiga yang diselenggarakan Puslitbang LKKMO Kementerian Agama dan UIN Malang (30 November-1 Desember 2021) mengangkat tema ‘Religious Culture Heritage and Literature in Facing Global Challenges’.

Penulis Resonansi ini diminta menyampaikan pemikiran tentang ‘Religious Literature and Challenges of Radicalism’. Selain itu, Simposium Islage mengangkat tujuan subtema terkait aspek tertentu literatur (agama) Islam Indonesia dan wilayah dunia Muslim lain.

Dalam pandangan penulis Resonansi ini, literatur Islam Indonesia (Kepulauan nusantara atau kini juga disebut Asia Tenggara) sejak abad ke-14-15 khususnya sampai masa kontemporer, sangat kaya.

 
Dalam pandangan penulis Resonansi ini, literatur Islam Indonesia (Kepulauan nusantara atau kini juga disebut Asia Tenggara) sejak abad ke-14-15 khususnya sampai masa kontemporer, sangat kaya.
 
 

Khazanah literatur  terkait keagamaan Islam mencakup berbagai bidang sejak dari fikih, tafsir, tasawuf, akhlak, tauhid atau kalam, sampai sejarah Islam.

Berkat wilayah kepulauan nusantara yang fluid atau cair sebagai Benua Maritim, khazanah literatur Indonesia yang dihasilkan ulama di tempat tertentu, misalnya Aceh, dengan segera menyebar ke wilayah lain, seperti Jawa, Buton, sampai Mindanau dan Sulu.

Transmisi dan penyebaran yang relatif cepat inilah yang membuat corak Islam yang berkembang hampir sepenuhnya satu corak. Khazanah literatur Islam Indonesia, baik yang masih berupa naskah maupun sudah tercetak, belum banyak diteliti secara komprehensif.

Akibatnya, tak banyak Muslim Indonesia, termasuk ulama dan sarjana, mengetahui dan memahami tradisi intelektualisme Islam Indonesia seperti diwakili banyak ulama besar Indonesia sejak abad ke-16 dan seterusnya.

Minat dan kajian sarjana, ahli dan mahasiswa/i S2 atau S3 lebih terpusat pada intelektualisme Islam di Arabia atau wilayah lain di luar Indonesia.

Sebab itu pula, tak banyak penghargaan atau apresiasi yang sepatutnya pada khazanah intelektualisme Islam Indonesia.

Bahkan, ada kalangan sarjana Indonesia sendiri yang menganggap ulama dan pemikir Islam Indonesia sejak masa dulu, hanya menjadi konsumen pemikiran Islam yang berkembang di tempat lain, bukan produsen pemikiran dan intelektualisme Islam.

 
Namun, masih banyak literatur sejak zaman baheula sampai kiwari, yang tersedia hanya berbentuk naskah yang sering menjadi koleksi pribadi atau komunitas, yang tidak jarang dikeramatkan.
 
 

Sebagian khazanah literatur yang semula berbentuk naskah (atau manuskrip/MSS) disalin kemudian dicetak setelah tersedianya mesin cetak huruf Arab, yang awalnya berbentuk litograf sejak pertengahan abad ke-19 (1850-an) di Batavia (Jakarta), Surabaya, dan Palembang.

Namun, masih banyak literatur sejak zaman baheula sampai kiwari, yang tersedia hanya berbentuk naskah yang sering menjadi koleksi pribadi atau komunitas, yang tidak jarang dikeramatkan.

Namun, dengan mesin litograf, kemudian mesin cetak huruf Arab, literatur Islam Indonesia dalam bahasa Arab menyebar dalam jumlah lebih banyak untuk digunakan kalangan spesialis, seperti ulama dan santri pesantren.

Sementara itu, literatur Islam dalam bahasa vernacular (misalnya Melayu, Jawa, Sunda, dan banyak lagi) yang ditulis atau dicetak dengan huruf Arab, dapat menjadi bahan bacaan Muslim non-spesialis.

Khazanah literatur Islam Indonesia sejak abad ke-15 dan selanjutnya, memainkan penting dalam konsolidasi Islam untuk lebih sesuai ortodoksi, yaitu paham dan praksis Islam yang dinyatakan jumhur ulama otoritatif sebagai sahih.

Dalam dinamika menuju ortodoksi, Islam secara bertahap mengalami pemurnian—karena dalam penyebaran awal bercampur atau sinkretis dengan tradisi agama dan kepercayaan pra-Islam lokal.


×