SIM cards and 3d printed objects representing 5G are put on a motherboard in this picture illustration taken April 24, 2020. | REUTERS/Dado Ruvic

Inovasi

01 Dec 2021, 15:29 WIB

Upaya Literasi Menyambut 5G

Masyarakat perlu mendapat gambaran mengenai kreativitas apa yang bisa dikembangkan dengan hadirnya 5G.

Teknologi 5G saat ini sudah mulai dikomersialisasi. Kecepatan yang tinggi, latensi yang minim, dan kemampuannya melaku kan koneksi antarmesin, membuat teknologi ini mampu menjadi disrupsi di berbagai sektor industri.

Dengan berbagai perubahan yang siap dibawa oleh 5G, literasi digital pun kian menjadi perhatian. Saat ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memiliki program Literasi Digital dengan magnitude yang terus ditambah dan materi literasi yang terus diperkaya.

Tujuannya, demi mengikis gap literasi digital. Dari sisi infrastruktur, Kementerian Kominfo juga terus melakukan pemerataan akses internet 4G di seluruh desa di Indonesia yang akan dituntaskan akhir tahun 2022, ujar Juru Bicara Kemen kominfo, Dedy Permadi kepada Republika, pekan lalu.

Upaya ini, tentu tak hanya dilakukan oleh pemerintah. Operator XL Axiata juga berkomitmen menjadi akselerator teknologi informasi dan komunikasi dalam mewujudkan transformasi Indonesia yang dapat mengatasi kesenjangan literasi digital.

Menurut Group Head Corporate Communication XL Axiata, Tri Wahyuningsih, strategi XL dalam percepatan transformasi digital dilakukan melalui beberapa inisiatif. Di antaranya, melalui perluasan jangkauan broadband XL Axiata bagi semakin banyak populasi di Indonesia.

Lalu, XL juga memperkuat sinergi dan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, industri, dan asosiasi. Menurut wanita yang biasa disapa Ayu ini, langkah tersebut diharapkan akan memitigasi tantangan akselerasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Inisiatif lainnya adalah kolaborasi dengan berbagai ekosistem digital untuk melahirkan talenta- talenta baru melalui XL IoTLab, program XL Future Leaders, Akademi Madrasah Digital, Sisternet, dan Laut Nusantara, ujar dia.

Direktur Eksekutif di Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, mengungkapkan, berkenaan dengan upaya mengikis gap infrastruktur, operator perlu melihat wilayah- wilayah mana yang memang permin taan nya sudah tinggi dan tidak bisa ditangani oleh 4G agar segera dilakukan peningkatan ke jaringan 5G. Misalnya, wilayah atau destinasi wisata.

Masyarakat juga perlu diberikan literasi dan edukasi agar bisa memanfaatkan perkembangan jaringan 5G secara lebih baik. '5G ini bukan tujuan tapi alat. Kemudian edukasi `apa nih yang bisa mereka isi," kata Heru.

Menurut dia, masyarakat perlu mendapat gambaran mengenai kreativitas atau inovasi apa kemudian dikembangkan bahkan bisa dijual dengan hadirnya 5G. Diharapkan, berbagai literasi yang dilakukan akan bisa juga mendorong hadirnya unicorn atau decacorn yang tak hanya dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.

Jaga Ekspektasi

Selama ini, sosialisasi tentang 5G juga telah banyak dilakukan menggunakan metode word of mouth. Ini adalah metode di mana konsumen membagikan informasi terkait produk kepada orang lain. Contohnya, dalam menyosialisasikan jaringan 5G menggunakan media sosial resmi produknya atau media sosial konsumen.

Menurut pengamat telekomunikasi, Teguh Prasetya, informasi yang dibagikan tentunya harus sesuai dengan apa yang bisa disediakan oleh operator. Dan juga tidak berlebihan dalam melebihi janji. Karena jika melebihi janji itu akan menjadi bumerang untuk operator.

Misalnya, belum bisa latensi rendah, sudah diumumkan bisa latensi rendah atau belum bisa massive connectivity, sudah dikatakan massive connectivity. "Semuanya bertahap ya, sama seperti pada waktu mau gelar 3G kan masih 3G dulu, kemudian nanti 3.5G, 3.75G, baru ke 4G, 4.5G yang sudah bisa macam-macam. Saya rasa tahapannya harus ke sana. Jadi user teredukasi dengan benar bahwa fitur ini sudah bisa dipakai, fitur ini akan muncul di tahap berikutnya," kata Teguh.

photo
Perangkat yang dapat menikmati layanan 5G dari Telkomsel (ilustrasi) - (Dok Telkomsel )

Dengan demikian, ia melanjutkan, pengguna dapat memperkirakan kapan ia bisa berinvestasi terkait jaringan 5G. Karena bagaimana pun sekarang sudah banyak perangkat 5G, namun jaringannya belum ada.

"Itu juga kan sebenarnya tuntutan dari user tinggi bahwa saya sudah ada handset 5G kok sinyalnya tidak ada. Misalkan, ini kecepatannya bisa 100 kali lipat dari 4G. Tapi, kalau user experience-nya tidak menunjukkan itu akan jadi bumerang," ujarnya.

Menurut dia, hal yang perlu diperhatikan oleh operator penyedia layanan 5G di Indonesia, adalah terkait waktu merilis layanan mereka. Contohnya, kapan saat yang baik dan tepat untuk meluncurkan layanan dan bukan sekadar ikut-ikut an karena yang lain sudah lebih dulu merilisnya.

Euforia layanan 5G yang digembar-gemborkan operator pun justru akan menjadi percuma apabila tidak bisa digunakan. "Akhirnya yang ada adalah negative tone. Ini kalau word of mouth-nya jadi negatif dari satu orang, 10 orang, dari 10 jadi 100 orang, 1.000 orang," ujarnya.

 

 
Pengalaman pelanggan berdampak signifikan terhadap kesuksesan layanan 5G.
TEGUH PRASETYA, Pengamat Teknologi
 
 

 

Persiapkan Talenta 

Membangun ekosistem pendidikan vokasi, tentu diperlukan kolaborasi dengan melibatkan berbagai pihak untuk bersama-sama melahirkan lulusan yang kompeten. Dengan begitu, kesenjangan antara kebutuhan dunia industri dan lulusan yang dihasilkan sekolah menengah kejuruan (SMK) perlu semakin diperkecil. 

Oleh karena itu, sinergi antara dunia industri dan sekolah perlu dibangun sehingga lulusan yang dihasilkan mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar dunia usaha dan industri. Melihat kondisi tersebut, Workshop dan Pameran Hasil Karya dan Start-Up Bisnis Siswa SMK tahun 2021 secara resmi diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional yang jatuh setiap 25 November.  

Nana Halim selaku Kabag Tata Usaha Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bisnis dan Pariwisata (Bispar) menjelaskan, pameran yang diikuti SMK–SMK ini merupakan Sekolah Pencetak Wirausaha (SPW) sebagai ajang pembuktian bahwa produk-produk hasil karya yang dihasilkan siswa SMK dan juga sudah menjadi usaha rintisan di Indonesia.

Menurutnya, melalui pameran kali ini, para siswa SMK mencoba unjuk produk mereka, yaitu memamerkan produk-produk teaching factory yang mereka buat di sekolah dan pada saat ini dikumpulkan di Balai Bispar ini. “Tujuannya, pembuatan produk ini memang sekarang dianjurkan output dari teaching factory itu harus di hilirisasi ke pasar,” ujarnya, dalam keterangan pers yang diterima Republika, (30/11).

photo
Pameran usaha rintisan dari siswa-siswi SMK untuk link and match kebutuhan industri dengan dunia pendidikan, di Depok, Jawa Barat, Selasa (30/11). - (Dok BBPPMPV Bispar)

Dia menambahkan, peserta pameran ini terdiri dari unsur SMK, Balai Besar di lingkungan Vokasi dan Seameo. Selain itu SMK yang datang berasal dari 31 Provinsi.

Senada, Kepala BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Sabli, SH MH kesempatan yang sama mengungkapkan, kegiatan ini dilakukan untuk melakukan penyelerasan potensi para lulusan dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri. “Kami juga mendorong kerjasama //link and match// ini antara pendidikan vokasi dengan industri untuk sebanyak-banyaknya membuat kelas industri di SMK,” ujarnya. 

Menurut Sabli, yang tidak kalah pentingnya dengan penguatan aspek karakter dan softskill ini perlu untuk dipersiapkan bagi peserta didik kalau mereka bekerja. Harapannnya, setiap tahun kegiatan ini dapat terus dilaksanakan, agar evaluasi dapat terus dilakukan hingga tercipta inovasi-inovasi baru. 

Siapkan Dunia Metaverse

photo
ID Camp Developer Challenge dari Indosat dan Snap untuk memperkuat ekosistem Digital Indonesia. - (Dok Indosat Ooredoo)

Meningkatkan literasi digital, tak bisa dilepaskan dari ketersediaan talenta digital yang mumpuni. Pada Senin (29/11), Indosat Ooredoo, bersama dengan Snapchat mengumumkan telah menggelar IDCamp developer challenge yang ketiga, yaitu AR Creator Holiday Series.

Tantangan ini bertujuan meningkatkan ekosistem augmented reality (AR) di Indonesia ini mengajak para pengembang untuk membuat lensa AR dengan Lens Studio, aplikasi desktop gratis dari Snap. Pengumpulan karya lensa akan berakhir pada 8 Desember dan pemenang akan diumumkan pada 17 Desember 2021.

Director & Chief Strategy and Innovation Officer Indosat Ooredoo, Arief Musta'in, menjelaskan, antusiasme peserta menunjukkan, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menjadi negara yang semakin digital. Saat ini, menurut dia, para pengembang dan programmer muda Indonesia menjadi semakin terlibat dan terampil.

"Kami menyakini dengan inisiatif ini, akan membawa para talenta digital Indonesia untuk semakin siap menjadi creative player di dunia metaverse mendatang," ujarnya.

Senada, Director of Market Development South East Asia Snap, Anubhav Nayyar, menyampaikan, developer challenge yang sedang berlangsung adalah investasi Snapchat dalam menumbuhkan komunitasnya di Indonesia. "Melalui tema perayaan lokal yang relevan, pelibatan komunitas, dan kemitraan yang bermakna, kami antusias untuk melihat kreasi lensa di tantangan terakhir kami, Holiday Series, katanya.

Seri IDCamp developer challenge pertama, yang dimulai pada April 2021, berfokus pada festival Ramadhan dan berlangsung selama empat pekan. Pada Agustus, Indosat Ooredoo dan Snap mengadakan tantangan kedua untuk seri Hari Kemerdekaan.

Sesuai dengan tema nasional Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh, kesempatan ini menjadi ajang bagi peserta untuk mengungkapkan harapan dan visinya untuk Indonesia yang tangguh dan berkembang di tengah pandemi.


×