Rumah warga yang terdampak banjir bandang di Kampung Cileles, Desa Cintamanik, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut, Ahad (28/11/2021). | Bayu Adji P/Republika

Nasional

01 Dec 2021, 03:45 WIB

Kemenkes Turunkan Tim RHA Tangani Korban Banjir Garut

Hal yang perlu diwaspadai pasca bencana banjir adalah banjir susulan.

GARUT-- Kepala Pusat Krisis Kementerian Kesehatan Eka Jusup Singka menerjunkan tim Rapid Health Assesment (RHA) ke pusat bencana banjir bandang di Kecamatan Sukawening dan Karang Tengah, Kabupaten Garut. Tim RHA banjir bandang ini dipimpin oleh Sub Koordinator Fasilitasi Pemulihan Awal Krisis Kesehatan Kemenkes Anang Subur.

"RHA ini untuk melihat kondisi fasilitas kesehatan layanan kesehatan di RS, Puskesmas, Pos Kesehatan dijalankan sesuai standar," kata Kepala Pusat Krisis Eka Jusup Singka kepada Republika, saat pelepasan tim menuju Pusat bencana banjir bandang, Senin (29/11).

Eka menuturkan, RHA juga untuk melihat masalah kesehatan, kebutuhan logistik kesehatan, SDM dan banyak lagi. Tim RHA Pusat Krisis akan melihat, pelayanan kesehatan korban,  reproduksi, gizi, obat, sarana dan prasarana Yankes, dan SDM kesehatan. 

"RHA akan memberikan masukan kepada pemerintah daerah (pemda) bagaimana  menanggulangi bencana dengan baik," katanya.

photo
Sejumlah rumah warga yang terdampak banjir bandang di Kampung Cileles, Desa Cintamanik, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut, Ahad (28/11). - (Bayu Adji P/Republika)

Selain RHA, Pusat Krisis juga membawa logistik kesehatan untuk meringankan pelaksanaan di Garut. Bantuan di antaranya masker beda 2000 pcs, masker kain 1000 pcs, handsanitizer 50 botol, sepatu boots 20 pasang, romping 20 pcs.

Sehari setelah berada di lokasi bencana, Tim RHA menyimpulkan tidak ada masalah kesehatan serius akibat bencana banjir bandang tersebut. “Berdasarkan hasil pantauan di lapangan tidak ada masalah kesehatan yang serius, karena tidak ada korban banjir yang dirujuk ke rumah sakit," kata Sub Koordinator Fasilitasi Pemulihan Awal Krisis Kesehatan  Kemenkes Anang Subur, saat rapat koordinasi dengan perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten, Selasa (30/11).

Kendati demikian, tim RHA merekomendasikan kepada pemerintah setempat untuk tetap waspada terhadap muculnya berbagai penyakit yang disebabkan pasca bencana banjir. Di antaranya penyakit yang perlu di waspadai adalah infeksi saluran pernapasan akut, penyakit saluran pencernaah, penyakit kulit dan penyakit lain.

Masalah penyakit, hal yang perlu diwaspadai pasca bencana banjir adalah banjir susulan. Banjir susulan ini perlu diwaspadai karena berdasarkan data dan informasi dari Badan Meteorolodi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) curah hujan masih tinggi yang akan menyebabkan terjadinya banjir dan longsor. 

Ratusan warga terdampak bencana banjir bandang di Kecamatan Sukawening dan Karangtengah, Kabupaten Garut, masih bertahan di posko pengungsian hingga Selasa (30/11). Cuaca yang terus hujan di dua wilayah itu membuat warga masih takut kembali ke rumahnya lantaran khawatir terjadi banjir bandang susulan.

Berdasarkan data Dinas Sosial Kabupaten Garut, terdapat empat titik posko pengungsian bagi warga terdampak banjir bandang. Di Kecamatan Sukawening, sebanyak 22 KK atau 67 jiwa mengungsi di Madrasah Nurul Salam. Sementara di Kecamatan Karangtengah, sebanyak 66 KK atau 140 jiwa mengungsi di GOR Damanhuri, 27 KK atau 64 jiwa mengungsi di Masjid Ar Ridho, dan 29 KK atau 88 jiwa mengungsi di SD Cintamanik.

"Kondisi pengungsi kita pastikan masih aman. Kita masih akan support logistiknya selama masa tanggap darurat," kata kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, Dinas Sosial Kabupaten Garut, Dadang Bunyamin, kepada Republika, Selasa.

Ia mengatakan, warga masih mengungsi di posko pengungsian lantaran kondisi di lapangan memang masih hujan besar. Alhasil, warga masih takut kembali ke rumahnya masing-masing. 


×