Garis polisi. (ilustrasi) | ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.

Nasional

01 Dec 2021, 03:45 WIB

Polda Metro: Penembak di Bintaro Anggota Polisi

Polisi belum menetapkan Ipda OS sebagai tersangka penembakan.

JAKARTA – Kasus penembakan misterius di gerbang Tol Bintaro pada Jumat (26/11) lalu mulai terkuak. Pelaku penembakan ternyata oknum anggota polisi lalu lintas yang bertugas di unit patroli jalan raya (PJR) Polda Metro Jaya.

“Pelakunya adalah Ipda OS,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar (Kombes) Polisi Zulpan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (30/11).

Menurut Zulpan, pelaku Ipda OS masih diperiksa intensif oleh Bidang Propam Polda Metro Jaya. Dalam pengungkapan ini, pihak kepolisian menyita alat bukti berupa senjata api yang digunakan oleh pelaku Ipda OS saat melakukan penembakan. Namun demikian, hingga saat ini pelaku Ipda OS masih belum ditetapkan sebagai tersangka.

“Ini masih proses penyelidikan kepolisian termasuk melibatkan dari Propam Polda Metro Jaya,” terang Zulpan.

Akibat penembakan yang dilakukan Ipda OS, dua orang berinisial MA dan PP mengalami luka tembak pada saat kejadian. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit Pelni, kemudian dipindahkan ke rumah sakit Polri Kramatjati. Naas, satu pelaku berinisial PP meregang nyawa pada saat menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

“Jadi saya sampaikan itu benar terjadi mengakibatkan meninggal dunia. Adapun penanganan kasus ini masih dalam proses penyelidikan dari polisi termasuk juga melibatkan dari pihak propam PMJ,” ungkap Zulpan.

Terkait identitas korban, kata dia, adalah seorang karyawan swasta dan ada yang mengaku sebagai wartawan. Hanya saja, pihak penyidik masih melakukan pendalaman. “Korbannya ini ada yang wartawan, mengakunya ya. Tapi nanti pendalamannya nanti oleh penyidik,” kata Zulpan.

Direktur Reserse Kriminal Umum, Polda Metro Jaya, Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap saksi, peristiwa itu berawal dari adanya laporan seseorang inisial O. Dalam laporannya, pelapor khawatir karena dirinya tengah diikuti oleh sejumlah orang yang mengendarai sejumlah mobil.

“Berdasarkan keterangan saksi karena orang tersebut si pelapor itu diikuti dari mulai satu hotel yang ada di wilayah Sentul, kemudian diikuti oleh beberapa unit mobil karena dirinya merasa terancam maka kemudian orang tersebut melaporkan kepada kepolisian,” ujar Tubagus, dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (30/11).

Lanjut Tubagus, masih berdasarkan keterangan saksi, pelaku Ipda OS menghampiri pelapor usai menerima laporan tersebut. Kemudian membawa pelapor ke kantor PJR Jaya 4 atau lokasi penembakan di gerbang tol Bintaro dengan tujuan mengamankan pelapor. Namun, tak beberapa lama, terjadi keributan yang berujung penembakan dan mengenai dua orang inisial PP dan MA.

“Masih (berdasarkan) kepada keterangan saksi itu, ada mau ditabrak, kemudian terjadilah tembakan sebanyak dua kali yang mengenai dua korban,” kata Tubagus.

Kendati demikian, kata Tubagus, pihaknya belum menetapkan Ipda OS sebagai tersangka penembakan. Kemudian juga penyidik masih melakukan pendalaman terkait motif utama dari insiden penembakan. Termasuk Bidang Propam Polda Metro Jaya juga melakukan pemeriksaan terhadap pelaku untuk memastikan apakah langkah yang dilakukan sesuai prosedur atau tidak.

“Mohon bersabar karena ini masih didalami, masih dilakukan penyelidikan yang mendalam,” kata Tubagus.

Kelakuan oknum

Kasus penembakan itu adalah satu dari sejumlah kasus yang dilakukan aparat TNI-Polri yang jadi sorotan belakangan. Sebelumnya, terjadi bentrokanantara Korps Brimob Polri, dan Kopassus TNI di Tembagapura, Timika, Papua pada Sabtu (27/11) dipicu lantaran harga rokok. Anggota Satgas Amole dari Brimob Polri, yang berdagang rokok, mendapatkan komplain harga kemahalan dari Satgas Neggala dari Angkatan Darat (AD) yang membeli. Komplain harga tersebut, yang berujung pada cek-cok antara penjual, dan pembeli, lalu diwarnai aksi saling jotos, dan berujung pada penyerangan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua, Komisaris Besar (Kombes) Ahmad Mustofa Kamal menerangkan, bentrokan tersebut, terjadi di Mess Hall, Ridge Camp Pos RCTU Mile-72. Kata Kamal menerangkan, bentrokan itu berawal dari enam personel Satgas Amole Kompi-3 dari Satuan Brimob Polri, yang berada di lokasi kejadian berjualan rokok.

“Selanjutnya, tiba-tiba datang personel Neggala dari Kopassus sebanyak 20 orang,” ujar Kamal, dalam siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, Senin (29/11). 

Para personel baret merah dari Angkatan Darat (AD) itu, membeli rokok yang dijual oleh anggota Brimob. Namun, harga rokok yang ditawarkan anggota kepolisian, membuat para satuan militer naik pitam karena kemahalan.

“Personel Nenggala itu, komplain harga rokok yang dijual personel Amole,” terang Kamal. Komplain kemahalan itu, kata Kamal, berujung pada pemukulan. “Karena komplain, personel Satgas Nenggala ada yang memukul personel Amole dengan menggunakan benda tumpul, dan tajam,” ujar Kamal. 

Atas aksi pemukulan tersebut, enam anggota Satgas Amole mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit. Atas insiden tersebut, kata Kamal, personel Satgas Amole dari Brimob lainnya, melakukan perlawanan, dan mendatangi para personel Satgas Neggala Kopassus. Kesalahpahaman tersebut, berujung pada bentrokan antar satuan keamanan. Korps Brimob menyerang, Kopassus yang berada di tempat kejadian perkelahian. 

Akan tetapi, dikatakan Kamal, bentrokan tersebut cepat diredam. Dikatakan dia, para anggota dari lokasi kejadian, cepat melaporkan insiden tersebut kepada komandan satuan masing-masing.

“Sampai di level pimpinan, masalah sudah diselesaikan semua. Jadi itu cuma salah paham dan sudah diselesaikan dengan cara damai,” ujar Kamal. Pascabentrokan tersebut, pun kata dia, tak membawa situasi signifikan. “Sudah aman. Di Tembagapura, Timika, Mimika, dalam situasi yang aman,” ujar Kamal. 

Selanjut, sebagai respons disiplin atas keributan antarpersonel tersebut, kata Kamal, masing-masing komandan satuan akan mengevaluasi para personelnya. Komunikasi antar komandan satuan, pun masih terus dilakukan untuk memastikan tak ada lagi peristiwa serupa. “Tindakan disiplin harus tetap dilakukan,” kata Kamal. “Mereka yang terlibat perkelahian, akan tetap dikenakan sanksi disiplin,” terang Kamal.


×