Relawan mengevakuasi warga yang terdampak banjir di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Senin (29/11/2021). Berdasarkan data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Hulu Sungai Tengah sebanyak 3.944 jiwa | ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/aww.

Opini

30 Nov 2021, 03:45 WIB

Perubahan Iklim dan Kesehatan

Pencegahan perburukan perubahan iklim juga perlu jadi prioritas.

TJANDRA YOGA ADITAMA, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan  Guru Besar FKUI

Pada awal November ini, Presiden Jokowi hadir dan menyampaikan sambutan pada KTT tentang Perubahan Iklim atau COP26 di Glasgow. Presiden menjelaskan, dengan potensi alam yang besar, Indonesia terus berkontribusi dalam penanganan perubahan iklim.

Kita tahu, perubahan iklim berdampak luas, termasuk pada kesehatan. Selain permasalahan kesehatan saat ini, perubahan lingkungan global termasuk perubahan iklim merupakan tantangan yang dapat memperburuk masalah kesehatan dunia.

Perubahan iklim memengaruhi perubahan cuaca regional/kawasan dalam bentuk cuaca ekstrem, kenaikan temperatur, perubahan pola curah hujan, dan kenaikan muka air laut. Dalam terminologi perubahan iklim komponen ini dikenal bahaya perubahan iklim.

 
Bahaya perubahan iklim memengaruhi kesehatan melalui jalur kontaminasi mikroba dan transmisi dinamis, juga agro-ekosistem dan hidrologi, serta sosio-ekonomi dan demografi. 
 
 

Ada berbagai faktor yang mungkin memengaruhi kerentanan terjadinya dampak akibat perubahan iklim. Topografi pegunungan di Indonesia menyebabkan pegunungan rawan longsor, terutama saat curah hujan meningkat sehingga terjadi banjir. 

Ditambah lagi, perubahan tata guna lahan mengurangi daya serap air saat curah hujan tinggi, juga kerusakan daerah aliran sungai.

Bahaya perubahan iklim memengaruhi kesehatan melalui jalur kontaminasi mikroba dan transmisi dinamis, juga agro-ekosistem dan hidrologi, serta sosio-ekonomi dan demografi. Proses ini dipengaruhi juga modulasi berupa kondisi sosial, ekonomi, dan pembangunan.

Dampak kesehatan dari proses itu, di antaranya efek peningkatan temperatur terhadap kesakitan dan kematian, bencana akibat cuaca ekstrem, peningkatan pencemaran udara, penyakit bawaan air dan makanan, dan penyakit bawaan vektor dan hewan pengerat.

Berdasarkan alur prosesnya, bahaya perubahan iklim berdampak langsung dan tak langsung. Dampak langsung berupa paparan langsung perubahan pola cuaca (temperatur, curah hujan, kenaikan muka air laut, dan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem).

Dampak tak langsung, perubahan iklim memengaruhi faktor lingkungan, seperti perubahan mutu lingkungan, penipisan lapisan ozon, penurunan sumber daya air, kehilangan fungsi ekosistem, dan degradasi lahan yang akhirnya memengaruhi kesehatan manusia. 

Contoh lainnya, malanutrisi akibat terganggunya sumber makanan dan panen.
 

Contoh lainnya, malanutrisi akibat terganggunya sumber makanan dan panen.

Sejumlah mekanisme  

Perubahan lingkungan dan dampaknya terhadap kesehatan dapat melalui setidaknya sejumlah mekanisme. Pertama, penipisan lapisan ozon di stratosfer meningkatkan risiko terkena gangguan pada kulit.

Kedua, peningkatan temperatur akibat perubahan iklim dapat meningkatkan konsentrasi ozon permukaan, yang merupakan salah satu pencemar udara utama yang mengakibatkan penyakit pernapasan, baik infeksi maupun penyakit paru kronik.

Ketiga, kehilangan keanekaragaman hayati membuat langkanya bahan baku obat dari tumbuhan. Keempat, degradasi lahan dan perubahan fungsi ekosistem menyebabkan perubahan penyebaran vektor penyakit.

Kelima, penurunan sumber daya air menyebabkan akses yang terbatas terhadap air bersih dan sanitasi yang sehat. Keenam, dari sisi lain perubahan iklim menimbulkan penyakit/kematian karena iklim ekstrem, longsor, banjir, badai.

Ketujuh, pengungsian akibat iklim ekstrem menimbulkan banyak penyakit. Kedelapan, juga mungkin terjadi peningkatan penyebaran agen penyakit bawaan air dan wabah penyakit menular, seperti leptospirosis, diare, dan kolera.

Penyakit ini meningkat saat kekurangan air untuk sanitasi/kekeringan atau ketika banjir. Ke-9, perlu diketahui, peningkatan temperatur 2-3 derajat Celsius meningkatkan jumlah penderita penyakit tular vektor sebesar 3-5 persen.

Ke-10, peningkatan temperatur memperluas distribusi vektor dan meningkatkan pertumbuhan parasit menjadi infektif. 

Hal yang perlu dikumpulkan adalah data lingkungan, yang memengaruhi kerentanan pada penyakit dan kapasitas adaptif kesehatan masyarakat serta berbagai faktor, yang memengaruhi terjadinya hazard akibat perubahan iklim.
 

Ke-11, perubahan curah hujan bersamaan dengan perubahan temperatur dan kelembapan meningkatkan atau mengurangi kepadatan populasi vektor penyakit, serta kontak manusia dengan vektor penyakit.

Ke-12, ekosistem rawa dan mangrove yang berubah, menyebabkan pola penyebaran vektor penyakit berubah.

Penanggulangan

Berbagai pendekatan bisa dilakukan. Pertama, dalam bentuk kajian kerentanan dan penilaian risiko sektor kesehatan, akibat perubahan iklim dalam skala nasional dan pembentukan model adaptasi untuk kabupaten/kota/desa terpilih.

Selain itu, dibuat kajian hubungan perubahan iklim dengan perkembangan penyakit bawaan air, vektor, bawaan udara, bencana, kecelakaan, dan penyakit tidak menular.

Hal yang perlu dikumpulkan adalah data lingkungan, yang memengaruhi kerentanan pada penyakit dan kapasitas adaptif kesehatan masyarakat serta berbagai faktor, yang memengaruhi terjadinya hazard akibat perubahan iklim.

Perlu pula upaya memperkuat sistem kewaspadaan dini dan tanggap darurat terhadap bencana di masyarakat. Pencegahan perburukan perubahan iklim juga perlu menjadi prioritas dalam kehidupan sehari-hari. 


×