Pengunjung berada di area kandang satwa di Bandung Zoological Garden (Bazooga), Kota Bandung, Ahad (21/11). Menurut data pihak pengelola, jumlah pengunjung di Bandung Zoological Garden mengalami peningkatan sekitar 25 persen atau 2.500 pengunjung per hari | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
25 Nov 2021, 18:07 WIB

Antisipasi Gelombang Ketiga

Pemerintah disarankan berhati-hati dalam mengambil langkah antisipasi gelombang ketiga Covid-19.

Meski jumlah penularan Covid-19 masih terbilag terus melandai, namun kita tetap harus waspada terhadap kemungkinan terjadi peningkatan. Jika kita mulai lalai dalam penerapan protokol kesehatan (prokes), gelombang ketiga pandemi Covid-19 bisa saja terjadi.

Kewaspadaan ini terus digaungkan oleh Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid- 19 Wiku Adisasmito. Menurut dia, beberapa negara telah mengalami lonjakan kasus ketiga Covid-19. 

Berdasarkan pola lonjakan kasusnya di Indonesia, kita perlu berhati-hati dengan hal ini. Puncak pertama Covid-19 di dunia adalah Desember 2020 dan Januari 2021 (periode Natal dan Tahun Baru). “Saat kasus di India melonjak pada April 2021, Indonesia justru di angka kasus yang sangat rendah,” ujar Wiku dalam konferensi pers dikutip laman Covid19.go.id.

Namun, pada Juli 2021, kita mengalami lonjakan kedua saat negara lain menurun kasusnya. Penurunan kasus di sini terjadi pada Agustus. Tapi, dunia mengalami lonjakan ketiga, seperti di Jepang, Singapura, dan Malaysia. 

Terkait

“Ini menjadi perhatian bagi Indonesia untuk tetap berhati-hati menyikapi penurunan kasus yang terjadi. Terutama dalam hal pembukaan aktivitas masyarakat,” ujar Wiku.

Kerja sama dan peran serta semua pihak tentu perlu dipertahankan di Indonesia. Terutama dalam ketat menjalankan prokes, pengujian ekstensif, vaksinasi, dan produktivitas yang aman di masyarakat.

Munculnya gelombang ketiga pandemi Covid-19 juga disebut Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban. Meski masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli, sejumlah perkiraan situasi yang memicu gelombang ketiga ini di Indonesia.

"Tentu kita berharap jangan sampai terjadi. Namun, kenyataannya dari data sekarang ini kondisi itu amat mungkin terjadi," kata Zubairi Djoerban dalam unggahan kanal Youtube pribadinya bertajuk Harap-Harap Cemas Gelombang Ketiga.

Menurut dia, situasi sejumlah negara jiran tengah menunjukkan tren peningkatan kasus positif Covid-19. Meski di negara kita tengah membaik, pandemi di Tanah Air kerap dipengaruhi situasi di sekitarnya. 

Tak hanya itu, potensi lonjakan ini dipicu varian baru SARS-CoV 2, sekolah tatap muka, dan gelaran event nasional di Papua. "Beberapa klaster muncul dan kemudian PON Papua, walau sebagian besar sembuh."

Itu sebabnya, Zubairi mengingatkan, dibukanya kembali kawasan pariwisata juga berpotensi memicu gelombang ketiga di Indonesia. Tingkat kecepatan kedatangan gelombang ketiga ini, dia melanjutkan, bergantung pada ketaatan prokes, matangnya kebijakan dalam melonggarkan aturan, dan perilaku virusnya. 

photo
Petugas kesehatan menyiapkan vaksin saat digelar vaksinasi Covid-19 yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Ikatan Alumni Universitas Airlangga di Airlangga Convention Center, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (4/9/2021). Kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan OJK untuk mempercepat program vaksinasi Covid-19 di masyarakat sehingga mendorong terciptanya kekebalan komunal yang bisa mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional. - ( ANTARA FOTO/Zabur Karuru/foc.)

Menurutnya, virus Covid-19 ini cepat, hampir selalu mutasi, dan muncul satu-dua mutasi yang mungkin berbahaya pada kemudian hari. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemeninfo) pun melakukan antisipasi atas gelombang ketiga ini yang diprediksi di akhir tahun ini dengan enam strategi. 

Menurut Menkominfo Johnny G Plate, mobilitas masyarakat menjadi kunci pengendaliannya, terutama di libur Natal dan tahun baru. "Kita harus tetap waspada menerapkan protokol kesehatan dan membatasi mobilitas," kata Johnny, dilansir laman Antara.

Di samping itu, laju vaksinasi terus ditingkatkan untuk kelompok lanjut usia dan anak- anak. Prokes ketat diberlakukan pada mobilitas pelaku perjalanan internasional (terutama ke Bali), dan memperkuat peran pemerintah daerah dalam pengawasan dan edukasi masyarakat. 

Semua itu butuh kerja sama seluruh pihak dan implementasi teknologi PedulilLindungi. "Itu menjadi kuncinya," kata Johnny.

Sementara itu, di sisi masyarakat, sosiolog Universitas Nasional Nia Elvina mengatakan, masyarakat Indonesia terdominasi dengan mereka yang berprinsip patron-klien (pemimpin-pengikut). Itu sebabnya, pemerintah disarankan berhati-hati dalam mengambil langkah antisipasi gelombang ketiga Covid- 19 ini. 

“Pemerintah bisa belajar banyak dari pengalaman dalam penanganan Covid,” kata Nia kepada Republika.

photo
Deretan bilik pasien Covid-19 di Shelter Gose Covid-19, Bantul, Yogyakarta, Kamis (18/2). RSU PKU Muhammadiyah menyulap lapangan futsal menjadi shelter pasien Covid-19 OTG. Shelter darurat ini memiliki 32 bilik untuk 16 pasien laki-laki serta 16 pasien perempuan. Selain itu, di sini juga dilengkapi rumah sakit mini serta dokter dan empat perawat yang berjaga. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Menurut Nia, inisiasi penanganan dan antisipasi gelombang ketiga ini bukan dari masyarakat. Soalnya, sebagian besar masyarakat tengah fokus dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan bagaimana bertahan di tengah dampak pandemi pada ekonomi.

Saat ini sebenarnya masyarakat masih menurut dengan kebijakan pemerintah. Untuk itu, para pemimpinlah yang harus menentukan kebijakannya dalam mengantisipasi gelombang ketiga ini.

 

 

Tentu kita berharap jangan sampai terjadi. Namun, kenyataannya dari data sekarang ini kondisi itu amat mungkin terjadi.

 

PROF ZUBAIRI DJOERBAN, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
 

 

 

Jangan Lupakan Olahraga 

Berolahraga di masa pandemi, kini memiliki warna tersendiri. Apabila sebagian orang melirik olahraga bersepeda, tak sedikit pula yang menjadikan rumah sebagai gym prinadinya. 

Tahun ini, Taiwan Excellence Zumba Fest 2021 akan kembali hadir dengan konsep virtual. Digelar pada 27 November mendatang, kegiatan ini diharapkan tak hanya menjagkau peserta dari Jakarta. tapi juga dari seluruh Indonesia. 

“Di tengah pandemi Covid-19, kesehatan dan kebersihan menjadi isu yang sangat penting dan krusial di seluruh dunia. Tren fitness dirumah dan kelas olahraga daring menjadi salah satu tren yang hangat akhir-akhir ini,” ujar Tony Lin selaku Director of Taiwan Trade Center. 

Oleh karena itu, ia melanjutkan, Taiwan Excellence mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kebugaran tubuh dengan berpartisipasi dalam Zumba Online. Serangkaian sesi dari Taiwan Excellence Zumba Fest Online pun akan diberikan kepada para peserta. 

Sama seperti umumnya gerakan ketika berlatih Zumba secara langsung. Acara akan dimulai dari sesi pemanasan dengan Zumba Fest Party hingga sesi pendinginan yang akan menampilkan perwakilan dari ZES/ZIN dan juga interaksi dengan salah satu artis Yuanita Christiani.


×