Foto udara proyek pembangunan Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu di Labuan Bajo, NTT, Selasa (10/11/2020). Menhub Budi Karya Sumadi mengatakan pelabuhan yang secara keseluruhan pembangunannya sudah mencapai 48,67 persen ini sangat penting untuk menunjang | Dok BKIP Kemenhub/Kementerian Perhubungan

Ekonomi

24 Nov 2021, 08:56 WIB

BUMN Jaga Konektivitas Sabang-Merauke

Menteri BUMN menyatakan, persoalan pelabuhan menjadi salah satu penyebab tingginya biaya logistik.

JAKARTA -- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menekankan pentingnya budaya gotong royong dalam menghadapi tantangan global. Di dalamnya, termasuk membenahi industri logistik domestik.

Erick menilai, program pembangunan tol laut dan upaya menuju Indonesia sebagai poros maritim dunia memerlukan kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, lembaga swasta, dan komponen masyarakat.

Hal ini yang mendasari penggabungan empat perusahaan pelabuhan pelat merah menjadi PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. "Sebagai sepertiga kekuatan ekonomi Indonesia, BUMN siap memikul amanah tersebut demi mencapai cita-cita Indonesia yang merdeka dan berdaulat dengan menjaga konektivitas dari Sabang sampai Merauke seiring dengan kompleksitas tinggi yang sedang dihadapi dunia saat ini menuju 2022," ujar Erick dalam acara bertajuk "Potret Masa Depan Industri Logistik Indonesia di Era Disrupsi" pada Selasa (23/11).

Erick menyampaikan, sejumlah permasalahan pada sektor pelabuhan masih meliputi waktu bongkar muat yang lama. Hal ini akibat kondisi pelabuhan di daerah yang kurang baik dan jadwal keberangkatan sangat dipengaruhi oleh konsolidasi muatan.

Menurut Erick, persoalan di pelabuhan hanya salah satu dari faktor yang membuat biaya logistik Indonesia mencapai 23 persen dari PDB atau lebih tinggi dibandingkan dengan Singapura yang delapan persen atau India dan Malaysia yang hanya 13 persen. 

Lima isu utama yang menyebabkan tingginya biaya logistik Indonesia, ucap Erick, meliputi regulasi yang tidak kondusif, efisiensi value chain darat yang rendah, efisiensi value chain maritim yang rendah, operasi dan infrastruktur pelabuhan tidak optimal, serta supply dan demand tidak seimbang. "Merger Pelindo akan mengakselerasi pengembangan industri pelabuhan untuk efisiensi biaya logistik nasional," ucap Erick.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BUMN Pelabuhan Indonesia (pelindo)

 

Erick menilai, penggabungan Pelindo akan memberikan manfaat berupa pengembangan jaringan pelayanan terintegrasi, peningkatan kapasitas pelabuhan dan percepatan standardisasi operasional, serta peningkatan akses dan kedalaman kolam pelabuhan.

Erick juga mendukung pengembangan infrastruktur logistik di Jawa Tengah, seperti Pelabuhan Tegal, Pelabuhan Tanjung Intan, Terminal Petikemas Semarang, dan Pelabuhan Tanjung Emas. Selain itu, Pelindo juga sedang melakukan pengembangan Pelabuhan Tanjung Mas 2000 hingga 2004 dan pengembangan Terminal Kalibaru Barat Ultimate hingga 2037.

Erick menilai, pelabuhan-pelabuhan tersebut memegang peranan penting untuk perekonomian di Jawa Tengah. "Tentu, hal ini semua menjadi bagian dalam membangun ekonomi Indonesia sekaligus memastikan keseimbangan pembangunan antara wilayah barat dan timur Indonesia," kata Erick.

Lima tugas Pelindo

Erick menugaskan lima sasaran pengembangan Pelindo. Kelima sasaran itu meliputi peningkatan daya saing global, peningkatan operasional, peningkatan sinergi, peningkatan kapasitas, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Dalam peningkatan daya saing global, Erick tidak ingin Indonesia sekadar menjadi hub, tapi harus menjadi super hub di Asia Tenggara yang menuju Eropa dan lain-lain. "Toh kita kaya dengan sumber daya alam kita, kaya dengan market. Dari sisi peningkatan efisiensi operasional apakah juga nanti yang namanya clean management kita tekan biaya-biaya mahal, korupsi-korupsi yang terjadi, dan saya yakini direksi dan komisaris Pelindo yang baru punya komitmen itu," ujar Erick.

Erick menyampaikan, penyatuan Pelindo bertujuan meningkatkan efektivitas tol laut berjalan sesuai rencana serta mengatasi tingginya biaya logistik Indonesia.

Erick menyebut, biaya logistik sangat berpengaruh dalam peningkatan daya saing Indonesia ke depan. "Kita ini masih mahal, kenapa kita tidak bisa (seperti Malaysia, India, dan Singapura). Penggabungan Pelindo diharapkan dapat membantu efisiensi biaya logistik ini," ucap Erick. 

Sebelumnya, PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia (PMLI) anak usaha PT Pelindo bakal memiliki tugas vital peningkatan kapasitas pekerja pelabuhan di Indonesia. Hal itu seiring kebijakan pemerintah yang menggabungkan Pelindo I-IV menjadi satu perusahaan.

Direktur Utama PMLI, Chiefy Adi Kusmargono, mengatakan, penggabungan perusahaan itu akan memegang peranan penting dalam kemajuan tata kelola pelabuhan di Indonesia. Karenanya, PMLI sebagai anak usaha yang fokus dalam pengembangan SDM bertanggung jawab agar para pekerja mampu membawa perusahaan lebih maju di bidang kepelabuhanan.

"Kita punya peran vital dalam pengembangan kompetensi SDM bidang kepelabuhanan. Juga di bidang jasa kelautan, logistik, serta manajemen dan bisnis," kata Chiefy, beberapa waktu lalu, kepada Republika.


×