Ilustrasi Bank BNI. | ANTARA FOTO/ Reno Esnir

Ekonomi

24 Nov 2021, 07:17 WIB

Gandeng BNI, Kemendag Permudah Fasilitas Kredit UKM Ekspor

Selain fasilitasi kredit, BNI juga memiliki program BNI Xpora yang tujuannya memperkuat potensi UKM Indonesia

JAKARTA -- Kementerian Perdagangan menggandeng PT Bank Negara Indonesia (BNI) untuk mempermudah fasilitas pembiayaan UKM yang berorientasi ekspor. Kemendag berharap dukungan pembiayaan ekspor makin meningkatkan kegiatan ekspor UKM.

“Dengan adanya pendampingan dari Pemerintah dan perbankan, diharapkan pelaku UKM Indonesia dapat meningkatkan volume dan kualitas produk yang dihasilkan sesuai dengan permintaan pasar dunia,” kata Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kemendag Marolop Nainggolan, Selasa (23/11).

Marolop menyampaikan, Kemendag berkomitmen memberikan dukungan bagi pelaku UKM dalam bentuk pelatihan, promosi dan publikasi, pengembangan produk, penyediaan informasi tren pasar, serta pengembangan jejaring dengan perwakilan perdagangan di luar negeri. Sedangkan BNI sebagai salah satu lembaga keuangan di Indonesia berkomitmen memberikan fasilitasi kredit kepada pelaku UKM untuk peningkatan ekspor.

Kerja sama tersebut, lanjut Marolop, diharapkan dapat mendorong peran para pelaku UKM Indonesia dalam meningkatkan ekspor nasional.

“Pemerintah berkomitmen besar untuk bersama- sama dengan mitra strategis mengimplementasikan butir-butir cakupan kerja sama sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing, sehingga mampu meningkatkan ekspor nasional yang berdaya saing,” tambahnya.

Menurut Marolop, potensi pasar yang besar bagi produk UKM Indonesia perlu didukung dengan adanya bantuan pembiayaan untuk dapat meningkatkan produksi dan berujung pada pemasaran yang tepat yang berlangsung secara kontinyu.

“Untuk itu, Kemendag menggandeng BNI sebagai sebuah lembaga perbankan yang kegiatan usahanya antara lain menghimpun dana dari masyarakat berupa simpanan dalam bentuk tabungan, giro, deposito, dan menyalurkan dana kepada masyarakat berupa pemberian fasilitas kredit dan jasa-jasa lainnya. Kerja sama ini diharapkan dapat mencapai tujuan tersebut,” tutur Marolop.

Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah BNI Muhammad Iqbal menjelaskan, selain fasilitasi kredit, BNI juga memiliki program BNI Xpora yang tujuannya memperkuat potensi UKM Indonesia untuk mendunia serta menjadi pusat layanan bagi diaspora Indonesia yang berada di luar negeri.

“Xpora adalah layanan Bank BNI untuk Nasabah pelaku UKM yang ingin mengembangkan bisnisnya menuju UKM yang go productive, go digital, dan go global,” ujar Iqbal.

BRI tingkatkan porsi mikro

 

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk berkomitmen menjadi pemimpin pasar untuk segmen mikro. Hal ini selaras dengan arahan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang mendorong BRI lebih fokus dalam pasar mikro.

Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan, capaian proporsi kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dibandingkan total kredit BRI meningkat dari semula 80,65 persen pada akhir September 2020 menjadi 82,67 persen pada akhir September 2021. Aestika menilai, capaian ini menjadikan BRI sebagai bank yang menyalurkan kredit UMKM tertinggi di Indonesia. 

"Ke depan, porsi kredit UMKM ini juga akan terus ditingkatkan hingga 85 persen," kata Aestika kepada Republika di Jakarta, Ahad (21/11).

Dari penyaluran kredit UMKM tersebut, lanjut Aestika, kredit mikro menjadi motor pertumbuhan kredit BRI yang tumbuh sekitar 38,5 persen yoy menjadi Rp 455,241 triliun. Ia menyebutkan, capaian kredit mikro BRI sepanjang Januari hingga September 2021 tersebut berkontribusi sekitar 44,76 persen terhadap total portofolio kredit BRI.

Menurut Aestika, persentase kontribusi tersebut meningkat jika dibandingkan dengan kurun waktu yang sama pada 2020. Dia mengatakan, porsi kredit mikro BRI sekitar 35,15 persen pada kuartal ketiga 2020.

"Pencapaian ini semakin menegaskan BRI sebagai pemimpin pasar di segmen mikro. BRI pun memiliki 120 juta lebih nasabah di segmen tersebut dan dalam pengembangan bisnis mikronya, kinerja BRI ditopang lebih dari 6.900 gerai mikro,” ujar Aestika.

Selain itu, Aestika mengatakan, ada jejaring Agen BRILink yang jumlahnya mencapai lebih dari 470 ribu agen dan didukung oleh lebih dari 27 ribu Mantri BRI yang berperan sebagai micro financial advisor. Ia menyampaikan, BRI juga memiliki sejumlah rencana strategis dalam meningkatkan porsi kredit UMKM melalui pengembangan ekosistem ultramikro bersama Permodalan Nasional Madani (PNM) dan Pegadaian.  

Aestika berharap, bergabungnya Pegadaian dan PNM dapat memperkuat langkah BRI menggarap segmen ultramikro lebih besar lagi dan menjadikannya sebagai sumber pertumbuhan baru di masa depan. Ia menilai, kehadiran holding ultramikro juga memberikan kemudahan, kecepatan, dan keterjangkauan pelayanan bagi para pelaku usaha di segmen tersebut. 

Aestika menyampaikan, BRI bersama Pegadaian dan PNM terus mengakselerasi produk dan layanan ultramikro di tengah masyarakat. Sejak diresmikan pada 13 September 2021, holding ultramikro telah memiliki 150 kantor co-location Sentra Layanan Ultra Mikro (Senyum) di seluruh Indonesia. 

Senyum, Aestika menjelaskan, merupakan kantor satu atap holding ultramikro yang memudahkan nasabah dari ketiga perusahaan untuk dapat melakukan transaksi sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. 

"Pencapaian ini lebih tinggi dari target awal yang ditetapkan oleh perseroan. Pada awal diluncurkan, BRI menargetkan, hingga akhir tahun ini, terdapat 100 kantor Senyum dan saat ini sudah melebihi hingga mencapai 150 kantor. Ini merupakan upaya kami untuk terus mengakselerasi inklusi keuangan,” kata Aestika.

Sebelumnya, Erick meminta BRI fokus terhadap nasabah ultramikro, bukan korporasi. Orang nomor satu di Kementerian BUMN itu menilai, kredit yang digelontorkan BRI ke korporasi sebesar 18 persen masih terlalu besar.

Erick mengatakan, saat awal ia menjabat sebagai Menteri BUMN, BRI ditekankan agar tidak menjadi bank segmen nasabah korporasi yang sampai 40 persen pinjamannya. Saat ini, kata Erick, angka 18 persen bagi korporasi masih terlalu besar. 

Erick menjelaskan, kategori bank dengan segmen nasabah korporasi sudah ditugaskan kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sedangkan, PT Bank Negara Indoensia (Persero) Tbk ditunjuk sebagai bank untuk mendukung ekspor UMKM dan menggarap pasar diaspora. 

Pengamat dari Pusat Studi BUMN Syamsul Anam mengatakan, salah satu tantangan terbesar dari bank-bank milik pemerintah adalah keikutsertaan mereka untuk ikut memikul sebagian dari tanggung jawab pelayanan publik dalam rangka kesejahteraan umum. Pada konteks ini, menurut dia, seluruh bank pemerintah berkewajiban ikut memberikan pelayanan bagi kegiatan ekonomi warga.

"Pada saat yang sama, usaha skala mikro dan kecil memiliki berbagai tantangan, salah satunya konsolidasi kegiatan usaha yang masih lemah," ujar Syamsul saat dihubungi Republika.

Syamsul menilai, upaya Erick meminta BRI lebih fokus dalam segmen mikro merupakan hal yang tepat. Syamsul berharap, BRI mampu menerjemahkan dan mengimplementasikan dengan cermat terkait arahan Kementerian BUMN.

"Ikhtiar BRI yang didorong Menteri BUMN perlu secara seksama diterjemahkan dengan cermat, terutama melihat pembiayaan korporasi masih menjadi salah satu sumber utama penerimaan perbankan nasional," kata Syamsul.

Sementara itu, Associate Director BUMN Research Group LMUI Toto Pranoto mengatakan, kehadiran holding ultramikro berkontribusi besar dalam peningkatan baki kredit sektor mikro. Toto memproyeksikan, realisasi kredit BRI untuk sektor UMKM dapat mencapai 85 persen.

"Jadi, sinergi BRI, Pegadaian, dan PMN untuk meningkatkan akses kredit sekaligus kapabilitas debitur sehingga diharapkan mereka bisa naik kelas," ungkap Toto.

Menurut Toto, kredit korporasi tetap penting bagi BRI meski porsinya menjadi relatif kecil. Oleh karenanya, Toto menilai, akses pendanaan murah dengan optimalisasi strategi  current account saving account (CASA) atau komposisi dana murah pada segmen korporasi besar masih menjadi hal yang penting bagi BRI. 


×