Petugas mengasapi kawasan pemukiman di Parupuk Tabing, Padang, Sumatera Barat, Selasa (3/8/2021). Pengasapan oleh Dinas Kesehatan Kota Padang tersebut untuk memberantas nyamuk Aedes Aegypti di pemukiman dan mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD). | ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Nasional

24 Nov 2021, 06:49 WIB

Daerah Waspadai DBD

Warga diimbau membersihkan drainase dan menghilangkan genangan air di sekitar rumah.

SEMARANG -- Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mengimbau warga Jateng selalu mewaspadai penyakit demam berdarah dengue (DBD) saat musim hujan, meskipunkasusnyaterus mengalami penurunan setiap tahun.

"DBD harus tetap diwaspadai, sebab pada periode Januari-September 2021, jumlah kasus DBD di Jateng mencapai 2.170 kasus dengan kematian mencapai 56 orang," kata Kepala Dinkes Jateng Yulianto Prabowo di Semarang, Selasa.

Sebagai langkah antisipasi merebaknya penyakit DBD, jajaran Dinkes Jateng telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan di 35 kabupaten/ kota.

Menurut dia, koordinasi itu dilakukan untuk memantapkan strategi pengendalian penyakit utamanya penyakit tular vektor dan "zoonosis" atau penyakit yang dibawa oleh hewan.

Ia menyebut kewaspadaan oleh masyarakat itu penting walaupun hampir dua tahun terakhir angka kasus penyakit itu menurun.

"Kesiapsiagaan dari logistik baik dari provinsi maupun dari kabupaten/kota, kemudian pemberdayaan masyarakat untuk ikut menanggulangi vektor nyamuk atau tikus. Lalu, untuk kader juru pemantau jentik termasuk di tingkat sekolah karena PTM sudah mulai berjalan. Itu perlu koordinasi lintas sektor," ujarnya.

Terkait dengan hal itu itu, warga disarankan melakukan pola hidup sehat dan melakukan aktivitas menguras, menutup tampungan air, dan mengubur barang yang berpotensi menampung air (3M).

"Jika menemukan gejala DBD seperti demam, mual, pusing, nyeri perut, warga diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat," katanya.

Mengenai adanya pihak-pihak yang menyelenggarakan pengasapan (fogging)secara mandiri, dirinya meminta sebaiknya tetap berkoordinasi melalui petugas puskesmas setempat.

"Karena 'fogging' itu ada aturannya, hubungi puskesmas, tanyakan apakah 'fogging' itu berizin atau tidak," ujarnya.

Dinkes Catat 349 Kasus DBD di Tangsel

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) pada 2021, menunjukkan tren peningkatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel mencatat, ada 349 kasus DBD mulai awal Januari hingga 15 November 2021.

“Dari bulan Juli sampai November ini memang mengalami peningkatan kasus (DBD),” ujar Kepala Dinkes Kota Tangsel Alin Hendalin Mahdaniar di Kota Tangsel, Provinsi Banten, Senin (22/11).

Dia memerinci, pada Juli 2021 terdapat laporan 29 kasus DBD, pada Agustus 2021 ada 30 kasus, sebanyak 32 kasus pada September 2021, dan pada Oktober 2021 naik menjadi 43 kasus, serta puncaknya pada 1-5 November 2021 terdapat 63 kasus DBD. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Menurut Alin, pada Juli hingga November 2020, laporan DBD sebanyak 24 kasus, 14 kasus, delapan kasus, enam kasus, dan 27 kasus. “Tapi, secara keseluruhan akumulasi jumlah memang tahun sekarang lebih sedikit dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu kasus DBD ada 498, tahun 2021 hingga November ini 349 kasus,” ujarnya.

Menurut dia, Dinkes Kota Tangsel dan masyarakat perlu melakukan bersama mengantisipasi secara lebih masif untuk menekan peningkatan kasus DBD. Pasalnya, kondisi cuaca yang cenderung ekstrem turut mempengaruhi kenaikan DBD.

“Tempat-tempat penampungan yang menjadi sarang nyamuk harus diadakan, tetap dengan 3M, menguras, menutup, dan mendaur ulang, serta menghindari gigitan nyamuk. Pokoknya program kita satu rumah satu jumantik harus digalakkan,” kata Alin.

Polisi turun tangan

Kepolisian Resor Kabupaten Gresik, Jawa Timur menerjunkan petugas Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhahinkamtibmas) untuk menekan penyebaran nyamuk demam berdarah dengue (DBD) di wilayah setempat.Kapolres Gresik AKBP Mochamad Nur Azis di Gresik, Senin, mengakui datangnya musim hujan selalu disertai penyebaran penyakit demam berdarah, dan penyebarannya didominasi wilayah padat penduduk.

"Saluran drainase yang kurang baik menjadi tempat favorit perkembangan nyamuk aedes aegypti penyebab DBD. Oleh karena itu, kami menerjunkan Bhabinkamtibmas untuk mengingatkan masyarakat harus menjaga kebersihan lingkungan," kata Nur Azis kepada wartawan.

Ia berharap dengan menggerakkan Bhabinkamtibmas mampu mengedukasi masyarakat dan tidak ada genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk.

"Saat masuk musim hujan seperti sekarang ini, kami dorong anggota kami di desa untuk bersama-sama membersihkan lingkungan agar terhindar dari potensi DBD," katanya.

Ia menjelaskan petugas juga akan berkoordinasi dengan Puskesmas dan bidan desa dalam mengedukasi kepada masyarakat."Kami selalu mengimbau langkah pencegahan DBD, antara lain menguras bak mandi seminggu sekali, bersihkan juga wadah air. Pasang kasa atau kelambu nyamuk, dan jangan menumpuk atau menggantung baju terlalu lama. Kemudian gunakan lotion antinyamuk, pakaian tertutup saat keluar rumah, dan upaya penyemprotan," katanya.

Sementara itu, Kepala UPT Puskesmas Manyar dr Ovaldo Kurniawan mengatakan hingga saat ini masih belum ada peningkatan kasus DBD di wilayahnya."Pada April 2021, tercatat 2 kasus DBD, Mei 3 kasus, Juni 9 kasus, Juli 2 kasus, Agustus 2 kasus, dan Oktober 1 kasus. Sedangkan pada November belum ada kasus DBD," katanya.

Untuk wilayah Puskesmas Sukomulyo, tercatat 1 kasus DBD dan 3 kasus di wilayah Puskesmas Sembayat pada November 2021."Kami bersyukur tidak ada kematian akibat kasus DBD. Kami berharap ke depan juga tidak ada," kata Ovaldo.

Sumber : Antara


×