Anak-anak migran beain di pusat logistik di pos pemerikdaan Kuznitsa di perbatasan Belarusia-Polandia, Kamis (18/11/2021). Para imigran tersebut bakal dipulangkan setelah tak berhasil menembus perbatasan Polandia. | AP/Leonid Shcheglov/BelTA
24 Nov 2021, 03:45 WIB

Pemulangan Migran dari Belarusia Berlanjut

Migran yang pulang harus mengubur mimpi keluar dari konflik di negeri sendiri.

MOSKOW – Migran yang ada di Belarusia terus dipulangkan ke negara asal mereka. Kementerian Dalam Negeri Belarusia mengeklaim telah membantu pemulangan 118 imigran, Senin (22/11). Kantor berita Rusia, Tass melaporkan semakin banyak imigran yang akan dipulangkan dari Belarusia pada Selasa (23/11).

Seorang petinggi di keimigrasian Belarusia, Alexei Begun, mengatakan, para petugas bekerja setiap hari demi kelancaran pemulangan. Namun, ia tak menyebutkan kewarganegaraan atau negara tujuan migran yang dipulangkan.  

Pekan lalu, sekitar 430 warga Irak dipulangkan ke negara mereka. Mereka dipulangkan dengan penerbangan yang diberi wewenang oleh Pemerintah Irak.

Sejak 8 November, sejumlah besar migran berkumpul di Belarusia, dekat perbatasan Polandia. Migran itu kemudian terperangkap di tengah saat pasukan keamanan dari Belarusia dan Polandia saling berhadapan.

Terkait

photo
Anak dari imigran Irak ikut mengantre menuju penerbangan pulang ke Irak dar Minsk, Belarusia, Kamis (18/11/2021). - (AP/Andrey Pokumeiko/BelTA)

Migran itu sebagian besar dari Timur Tengah. Mereka ingin memasuki Eropa melalui pintu Polandia.

Polandia menuduh Belarusia terus membawa imigran ke perbatasan meski Belarusia mengosongkan tenda-tenda imigran di perbatasan pada pekan ini. Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki berkeliling negara-negara Baltik meminta dukungan untuk mengatasi krisis imigran di perbatasan.

Eropa menuduh Belarusia menerbangkan ribuan orang dari Timur Tengah dan mendorong mereka menyeberang ke Uni Eropa. Presiden Belarusia Alexander Lukashenko diduga ingin membalas Uni Eropa yang menjatuhkan sanksi kepada Belarusia. Tudingan ini dibantah Belarusia.

Pekan lalu, mereka membersihkan tenda-tenda imigran di perbatasan. Kemudian memulangkan beberapa imigran ke Irak, tampaknya Belarusia mengubah taktiknya dalam konflik yang telah menjamur menjadi konfrontasi Timur dan Barat.

photo
Penampakan kemah-kemah imigran yang ditelantarkan di dekap poin pemeriksaan Kuznitsa di perbatasan Belarusia-Polandia, Kamis (18/11/2021). - (AP/Leonid Shcheglov/BelTA)

Namun, Polandia mengatakan, Belarusia terus mengirimkan ratusan imigran ke perbatasan. Sudah sekitar 10 imigran yang diyakini telah meninggal dunia di perbatasan Polandia-Belarusia karena cuaca yang membekukan.

"Sabtu lalu, sekelompok sekitar 100 orang asing yang sangat agresif, dibawa ke perbatasan oleh tentara Belarusia, mereka mencoba masuk Polandia dengan paksa, tentara (Polandia) mencegah mereka menyeberang," kata penjaga perbatasan Polandia di Twitter, Ahad (21/11).

Mengubur mimpi

Azad masih menahan nyeri akibat luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Tatapannya kosong saat pesawat yang ditumpanginya hendak mendarat di bandara Erbil, Irak. Ia menggenggam kuat tangan istrinya.

Azad dan istrinya termasuk dalam kelompok migran yang gagal memasuki Eropa dari Belarusia. Mereka, bersama 430 warga Irak lainnya, akhirnya direpatriasi dengan menumpang pesawat dari bandara Minsk pada Kamis lalu.

photo
Para migran dari Timur Tengah diadang terntata Belarusia di perbatasan dengan Polandia, Ahad (14/11/2021). - (AP/Oksana Manchuk/BelTA)

Azad dan istrinya sebenarnya masih berharap bisa memasuki Eropa. Namun situasi yang mereka hadapi di perbatasan Belarusia-Polandia, bukan hanya sulit, tapi juga mengancam jiwa.

Pasukan Belarusia menggencet para migran agar terus mendekat ke area perbatasan Polandia. Sementara di sisi lain, polisi Polandia menghantam mereka untuk kembali. Tak jarang para migran ditodong menggunakan senjata.

Azad merasa dia dan para migran lainnya diperlakukan seperti binatang. "Saat itulah kami berpikir sudah waktunya untuk melepaskan mimpi pindah ke Eropa," ujarnya saat diwawancara Aljazirah.

Kembali ke Irak bukanlah keputusan yang mudah dibuat. Sama seperti banyak migran lainnya yang hendak menyeberang ke Eropa, Azad menabung dan meminta dukungan keuangan dari keluarganya. Ia bahkan hampir menjual rumahnya.

Saat mendengar Pemerintah Irak menawarkan penerbangan repatriasi dari Minsk bagi mereka yang ingin kembali secara sukarela, rekasi pertama Azad adalah "Tidak". Reaksi demikian turut muncul dari banyak migran lainnya. Oleh sebab itu, meski situasi yang dihadapi mencekam, masih ada migran yang memilih bertahan di perbatasan Belarusia-Polandia.

Namun, Azad dan istrinya akhirnya memilih ikut penerbangan repatriasi ke Irak. "Saya ingat saya memberi tahu istri saya di tenda kami pada malam hari bahwa kami tidak menghabiskan semua uang serta membuat energi ini, sehingga kami akan kembali ke Irak," ucapnya.

Sumber : Reuters/Associated Press


×