Foto udara perumahan di kaki Gunung Geulis, Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (16/10/2020). Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) menargetkan dapat menyalurkan kredit kepemilikan rumah sebanyak 75.000 unit di tahun 2021. | ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Ekonomi

23 Nov 2021, 09:35 WIB

Pertumbuhan Kredit Berangsur Naik

BI mencatat seluruh kelompok penggunaan kredit telah tumbuh positif terutama kredit konsumsi dan kredit modal kerja.

JAKARTA – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) optimistis pertumbuhan kredit perbankan semakin membaik. Hal ini terlihat dari penyaluran kredit perbankan yang mampu tumbuh 2,21 persen pada September 2021.

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, intermediasi perbankan mengalami pertumbuhan positif selama empat bulan terakhir atau sejak Juni 2021. Hal ini terjadi dari sisi kredit konsumsi, modal kerja, maupun investasi.

“Mungkin masih single digit, tapi ini adalah masa awal dari recovery yang semakin pasti. Saya yakin, ke depan pertumbuhan kredit akan semakin cepat lagi,” ujar Purbaya dalam webinar Economic Outlook 2022, Senin (22/11).

Purbaya menyebut, pulihnya aktivitas ekonomi dan membaiknya tingkat keyakinan konsumen telah kembali mendorong deposan untuk menggunakan simpanannya untuk belanja dan berinvestasi. Menurut Purbaya, perbaikan likuiditas perbankan nasional tidak lepas dari upaya pemerintah yang secara aktif melakukan injeksi melalui aktivitas fiskal, terutama sejak kuartal II 2020.

“Perkembangan positif dari pemulihan ekonomi tentu tidak terlepas dari adanya sinergi dan koordinasi kebijakan yang baik antara pemerintah bersama Kementerian Keuangan, BI, OJK, dan LPS yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)," ucapnya.

Bank Indonesia (BI) juga optimistis pertumbuhan kredit akan terus meningkat seiring dengan sejumlah indikator pendukung. Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan terus berlanjut diikuti penurunan suku bunga kredit baru.

"Aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat yang meningkat mendorong perbaikan persepsi risiko perbankan, sehingga berdampak positif bagi penurunan suku bunga kredit baru," katanya.

Menurut dia, BI terus mendorong perbankan untuk melanjutkan penurunan suku bunga kredit sebagai bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kredit kepada dunia usaha. Perry mengatakan, penurunan suku bunga kredit masih terus terbuka karena likuiditas industri perbankan sangat longgar.

BI juga masih akan menempuh kebijakan suku bunga rendah terutama karena perbedaaan antara suku bunga kredit dan dana yang masih tinggi. Kemudian, karena persepsi risiko kredit yang cenderung menurun.

Per September 2021, BI mencatat seluruh kelompok penggunaan kredit telah tumbuh positif terutama kredit konsumsi dan kredit modal kerja. Di sektor konsumsi, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) terus mencatat pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 8,87 persen (yoy).

Sementara itu, pertumbuhan kredit UMKM meningkat menjadi sebesar 3,04 persen (yoy). Hal ini menunjukkan berlanjutnya perbaikan di sektor riil dan dunia usaha khususnya UMKM.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2021 akan tumbuh dalam rentang 5,5 persen hingga enam persen. "Kalau kita mau tumbuh di angka empat persen pada tahun ini, maka pada kuartal keempat kita harus memacu (pertumbuhan) menjadi sekitar 5,5 persen sampai enam persen," ujar Airlangga.

Ia meyakini hal tersebut bisa tercapai karena beberapa indikator baik itu Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur hingga indeks keyakinan konsumen sudah masuk zona positif. Sehingga, pada keseluruhan 2021 ekonomi bisa tumbuh empat persen dan meningkat menjadi 5,2 persen pada 2022.

Jika dilihat dari berbagai komponen pengeluaran produk domestik bruto (PDB), seluruhnya menunjukkan pertumbuhan positif baik ekspor, impor, konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah pada kuartal III 2021. Meski sempat menurun, ia memperkirakan konsumsi rumah tangga akan kembali meningkat pada kuartal IV 2021 begitu pula dengan konsumsi pemerintah.

Dari segi sektoral, Airlangga menuturkan, pertumbuhan mayoritas sektor utama tumbuh positif dan konsisten, terutama sektor informasi dan komunikasi sebesar 5,51 persen, jasa kesehatan 14 persen, pertanian 1,31 persen, serta real estat 3,42 persen.

Peningkatan sektor real estate sangat terbantu oleh insentif pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP), yang juga berhasil menggerakan 170 sektor penunjangnya. Demikian pula, industri pengolahan yang tumbuh 3,68 persen dibantu oleh insentif pajak penjualan barang mewah (PPnBM) di sektor otomotif yang juga membuat rantai pasokan bergerak.

"Diperkirakan tahun ini penjualan otomotif bisa kembali ke angka 850 ribu dan ekspornya diharapkan bisa meningkat ke angka 300 ribu," ujar Airlangga.


×