Sejumlah pelajar mengikuti pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) di SDN 084 Cikadut, Jalan Jamaras, Kota Bandung, Jumat (12/11/2021). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Nasional

22 Nov 2021, 03:45 WIB

Mengembalikan Pemahaman Pendidik Seperti UU Sisdiknas

Pendidik memiliki peran agar setiap peserta didik aktif mengembangkan potensi diri dengan cara masing-masing.

JAKARTA -- Menjelang Hari Guru Nasional 2021, guru diajak kembali memaknai pengertian dasar tentang pendidikan, terutama yang diatur dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).

Direktur Pengembangan dan Peningkatan Mutu Sekolah Islam Al-Iman, Zulfikri Anas mengatakan, pendidikan adalah usaha mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya. Menurut Zulfikri, pendidik memiliki peran mewujudkan suasana agar setiap peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri dengan caranya masing-masing.

"Tadi sudah disampaikan, bagaimana seorang individu itu, dia punya jalan masing-masing, kecepatan masing-masing, keunikan masing-masing dan itu harus dioptimalkan. Itu harus dilayani sepenuhnya," tutur dia dalam webinar, Sabtu (20/11).

Zulfikri menyampaikan, aturan tersebut juga menunjukkan, pendidikan adalah upaya mengeluarkan potensi atau kekuatan yang sudah ada di dalam diri manusia atau yang dia sebut sebagai inside out. Menurut dia, pada dasarnya manusia memiliki kekuatan yang berbeda beda agar tidak terjadi benturan dalam kehidupan.

Namun, selama ini dunia pendidikan justru sebaliknya, memasukkan materi kepada para peserta didik dan mereka dituntut untuk bisa memahami semua itu.

Dia mengatakan, hal yang dapat lebih memprihatinkan lagi ialah ketika menilai keberhasilan anak peserta didik dengan angka rata-rata untuk semua mata pelajaran.

Menurut Zulfikri, langkah tersebut hanya akan membuat siswa kehilangan jati diri dan mengkondisikan mereka untuk melakukan manipulasi atau kamuflase dari apa yang seharusnya dia tuju sebagai seorang manusia.

"Itu juga membuat dia tega untuk menjajah dirinya sendiri. Dan itu juga yang membuat dia kehilangan harapan masa depan dan kehilangan kemampuan untuk merencanakan masa depan yang lebih baik. Pertanyaannya, sampai kapan kita mau melakukan hal semacam ini di dunia pendidikan," tegas Zulfikri.

Direktur Nurul Fikri Education Center, Rahmat Syehani, menyampaikan, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru. Pertama, guru dituntut untuk menjadi fasilitator yang unggul. Di mana seorang guru harus bisa menerima siswa apa adanya dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.

"Kita sebagai guru juga harus trust sama siswa. Jangan curiga sama siswa sebelum terbukti dia bersalah. Jangan dibalik ya, kita mencari kesalahan dia padahal belum terbukti dia bersalah," ujar Rahmat.

Kemudian, seorang guru juga ia sebut penting untuk memiliki empati pada muridnya. Dengan empati, siswa dapat lebih terbuka dengan gurunya dan dengan itu guru dapat lebih memahami kebutuhan siswa secara keseluruhan, terutama kaitannya dalam proses belajar-mengajar.

"Hargai siswa. Selain trust, hargai juga, respect, ke siswa apapun karya siswa. Cara menghargai paling sederhana, tiap siswa mengerjakan tugas langsung dikoreksi. Itu berarti kita respect sama siswa. Dampak dalam manajemen juga bagus jadinya," kata dia.

Hal yang tak kalah penting ialah seorang guru harus bisa menghadirkan perasaan atau hatinya dalam proses belajar-mengajar. Sehingga, yang diajarkan ke para siswa bukan hanya sekadar logika. Menurut dia, para siswa akan dapat merasakan segala tindak-tanduk yang dilakukan secara tulus oleh para gurunya selama mengajar di dalam kelas.

"Bawa hati kita ke depan anak-anak kita. Senyum dengan senyum yang tulus, sapaan yang manis, tatap mata siswa satu per satu. Curahkan cinta kasih kita ke mereka lewat tatapan mata kita," tutur Rahmat.


×