Kongres Rabithah Alawiyah pada masa kolonial Belanda. Rabithah Alawiyah merupakan salah satu wujud pergerakan keislaman dan kebangsaan yang dimotori para habib keturunan Rasulullah SAW di Indonesia. | DOK Rabithah Alawiyah

Tema Utama

21 Nov 2021, 19:05 WIB

Khazanah Ilmu Habaib Indonesia

Para habib tak hanya bergiat di dakwah lisan, tetapi juga tulisan.

OLEH MUHYIDDIN

Ulama adalah pewaris para nabi. Begitulah sabda Rasulullah SAW. Di antara kaum ulama itu, terdapat orang-orang alim yang berasal dari zuriyah beliau. Bagi masyarakat Indonesia, yang demikian itu akrab disebut sebagai habib (plural: habaib).

Mereka tidak hanya aktif menyebarkan syiar Islam melalui dakwah lisan, tetapi juga tulisan. Filolog A Ginandjar Sya’ban mengatakan, kalangan habaib—setidaknya sejak abad ke-18 atau 19—telah mewariskan ribuan kitab. Karya-karyanya meningkatkan kecintaan umat terhadap ilmu-ilmu agama.

Ia menyebut satu contoh sosok teladan, yakni Habib Salim bin Ahmad bin Jindan. Dai kelahiran Surabaya, Jawa Timur, itu diketahui telah menulis lebih dari 150 buku di sepanjang hayatnya. Sebagian besar karyanya masih dapat dijumpai di pelbagai perpustakaan, termasuk Maktabah Kanzul Hikmah yang diasuh Majelis Hikmah Alawiyah (Mahya) di Jakarta Selatan.

Ginandjar Sya’ban menjelaskan, Habib Salim menulis dengan penuh kesadaran sebagai orang Indonesia. Buktinya, pada setiap sampul buku-buku karyanya selalu tergurat nama lengkapnya yang ditambahi dengan gelar “al-Indunisi” atau “al-Jawi.” Salah satu disiplin keilmuan yang dikuasainya ialah hadis.

Bahkan, lanjut Ginandjar, Habib Salim disebut-sebut sebagai ahli ilmu hadis terbesar di Indonesia pada masanya. Di samping itu, dirinya pun menekuni bidang penulisan biografi para alim ulama, khususnya guru-guru yang pernah menjadi tempatnya belajar.

Di antara buah tangan karyanya yang monumental ialah kitab Raudhah al-Wildan. Isinya menghimpun biografi ulama-ulama Nusantara yang begitu komprehensif.

Dalam manuskrip kitab ini, Habib Salim menuliskan profil ratusan guru-gurunya. Tulisan-tulisannya itu disusun secara ensiklopedis. Kitab ini merupakan salah satu warisan yang sangat berharga sekali dalam tradisi keilmuan umat Islam di Indonesia. Sebab, Raudhah al-Wildan tidak hanya memuat sanad periwayatan, tetapi juga informasi historis.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Selama hidupnya, menurut Ginandjar, habib yang wafat pada 1 Juni 1969 ini telah berguru kepada lebih dari 400 alim. Mereka tersebar di berbagai penjuru dunia. Hampir setengah dari total gurunya itu adalah para ulama Nusantara. Sebut saja, KH Kholil Bangkalan, KH Ahmad Marzuki, KH asy-Syekh Arsyad ath-Thawil, dan lain-lain.

Ada pula seorang tokoh habib lainnya yang prolific di dunia kepenulisan. Dialah Habib Utsman bin Yahya. Sosok yang dijuluki “Mufti Jakarta” itu telah menulis banyak kitab. Ginandjar memaparkan, karya-karya sang habib dapat diklasifikasi menjadi dua corak, yakni kitab yang berisi tuntunan dan yang bersifat respons terhadap fenomena kontekstual pada masanya.

Salah satu kitab yang menjadi legasi Habib Utsman ialah Thulu’ul Badrul Ilmi Murtafa’. Dalam buku ini, menurut Ginandjar, Habib Utsman mengkaji perihal fatwa hukum penggunaan piring rekaman. Yang menjadi fokusnya ialah suara orang mengaji Alquran yang kemudian direkam pada benda tersebut.

“Tapi memang, karya-karya Sayyid Utsman yang bersifat respons terhadap masalah-masalah pada zamannya itu kebanyakan tersimpan di Perpustakaan Leiden, Belanda,” jelas dia dalam sebuah acara diskusi daring yang bertajuk “Menyusuri Jejak Cinta”, beberapa waktu lalu.

photo
Habib Salim bin Djindan, salah satu triumvirat ulama Betawi pada masanya. Habib Salim disebut-sebut sebagai ahli ilmu hadis terbesar di Indonesia pada masanya. - (DOK WIKIPEDIA)

De Universitaire Bibliotheken Leiden (UBL) merupakan salah satu perpustakaan di Eropa yang cukup banyak menyimpan koleksi manuskrip atau arsip habaib Nusantara. Hal itu diakui Ginandjar.

Akademisi ini menuturkan, pada zaman silam pemerintah kolonial memanfaatkan koleksi tersebut untuk merumuskan kebijakan penjajahan di Nusantara. Salah seorang peneliti yang utama dalam kaitan ini ialah Christiaan Snouck Hurgronje (1857–1936).

Orientalis yang juga penasihat pemerintah Belanda itu kerap menghibahkan arsip atau manuskrip terkait ulama-ulama Nusantara yang diperolehnya dari rihlah akademik. Terlepas dari sosoknya yang kontroversial, Hurgronje diakui telah berhasil menyimpan dan menginventaris ribuan data ulama dan habaib Tanah Air.

Ia juga menyimpan banyak arsip terkait tradisi pemikiran keislaman di nusantara. Maka, tak mengherankan jika karya Sayyid Utsman bin Yahya juga ditemukan di koleksi milik profesor Universitas Leiden itu.

Ikhtiar merawat

Sebagai upaya untuk menyelamatkan dan merawat karya-karya habaib, Mahya mendirikan Maktabah Kanzul Hikmah. Perpustakaan yang berlokasi di Jalan Kalibata Timur Raya No 31A, Jakarta Selatan, itu didirikan untuk menghimpun, antara lain, kitab-kitab karangan para habib, utamanya di Nusantara.

Sebagaimana perpustakaan buku-buku Islam, Maktabah Kanzul Hikmah juga mengoleksi berbagai jenis buku. Mulai dari kitab fiqih, maulid, manakib, hingga risalah-risalah yang berisi pemikiran para ilmuwan Islam. Bedanya, gedung ini memiliki lebih banyak koleksi terkait karya-karya para Alawiyyin atau ulama keturunan Nabi Muhammad SAW.

Ketua Umum Majelis Hikmah Alawiyah Habib Ahmad bin Salim menjelaskan, perpustakaan yang terbuka untuk umum ini didirikan untuk merawat warisan generasi silam. Khususnya, alim ulama dengan nasab Alawiyyin. Sebab, kitab-kitab tersebut merupakan legasi yang sangat berharga bagi generasi penerus, terutama yang akan bergiat dalam dakwah Islam.

"Maktabah Kanzul Hikmah hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menjawab kebutuhan tersebut, yaitu adanya medium berbentuk perpustakaan yang menyimpan dan merawat kitab-kitab warisan para Alawiyyin," kata Habib Ahmad.

 
Maktabah Kanzul Hikmah hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menjawab kebutuhan adanya medium berbentuk perpustakaan yang menyimpan dan merawat kitab-kitab warisan para Alawiyyin.
 
 

Berdiri sejak 2019 lalu, peresmian bangunan ini dihadiri antara lain menteri agama RI saat itu, Lukman Hakim Saifuddin. Hadir pula seorang pakar tafsir Alquran, Prof M Quraish Shihab serta para tamu undangan.

Saat ini, perpustakaan tersebut telah mengoleksi 12 ribu kitab. Di antaranya, banyak yang masih berupa teks tulisan tangan atau manuskrip yang didapat dari perpustakaan pribadi.

Program Maktabah Kanzul Hikmah diantaranya adalah melakukan digitalisasi dan penjilidan pada naskah-naskah yang berupa tulisan tangan tersebut. Selain itu, saat ini seluruh koleksi juga dalam proses pengunggahan di sistem informasi perpustakaan Senayan Library Manajement System (SliMS) yang tujuannya memudahkan pencarian buku secara daring (online).

Di perpustakaan ini, tidak hanya terdapat karya tulis habaib, tapi juga menampung banyak penelitian atas sejarah hasil karya pemikiran ulama yang pernah ada di Thariqah Alawiyah. Untuk menjaga dan melestarikan karya kaum habaib, pihaknya juga membutuhkan kerja sama dengan pelbagai kalangan, baik ulama dan garis keturunannya serta masyarakat umum dan pemerintah.

 

 

Jaringan Intelektual Ulama Alawiyyin

 

Tradisi keilmuan Islam memiliki berbagai karakteristik. Di antaranya ialah perhatian pada sanad. Secara kebahasaan, istilah tersebut bisa dimaknai sebagai ‘sandaran’ atau 'hubungan'. Menurut istilah, ia adalah rentetan rawi hadis yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Dengan perkataan lain, sanad adalah mata rantai yang melaluinya ujaran atau fatwa seorang ahli ilmu bisa diyakini bersandar pada wahyu dan tuntunan Rasulullah SAW. Filolog A Ginandjar Sya’ban mengatakan, keberlanjutan sanad merupakan ciri khas intelektual Islam.

“Ini adalah satu keistimewaan dari agama kita, yang itu tampaknya tidak begitu dipunyai oleh saudara-saudara kita di agama lain,” ujar Ginandjar Sya’ban dalam sebuah acara diskusi daring yang bertajuk “Menyusuri Jejak Cinta”, beberapa waktu lalu.

Kalangan habaib pun, katanya, sangat memerhatikan aspek sanad dalam menyebarluaskan ilmu. Satu sama lain diikat oleh sanad keilmuan yang kuat. Pertalian itu terus menyambung antargenerasi selama lebih dari 1.400 tahun. Hal inilah yang turut menjadi pilar utama dalam perkembangan Islam di Indonesia.

 
Alim ulama tidak hanya diisi golongan habib. Di Indonesia, hubungan antarorang alim itu—yakni kelompok habib dan dai lokal—selalu hangat dan dekat. Apalagi, terkait dengan jaringan sanad keilmuan.
 
 

Tentu saja, alim ulama tidak hanya diisi golongan habib. Di Indonesia, menurut Ginandjar, hubungan antarorang alim itu—yakni kelompok habib dan dai lokal—selalu hangat dan dekat. Apalagi, terkait dengan jaringan sanad keilmuan.

Bagaimanapun, sambung dia, dalam beberapa tahun belakangan ini terkesan ada pihak-pihak yang ingin membuat renggang hubungan habaib dan ulama di Tanah Air. Ini kiranya perlu diwaspadai bersama.

“Jadi hubungan yang sangat kuat dalam pemikiran, keilmuan, dan spiritual antara para habaib dan ulama Nusantara itu sudah sangat kuat dan lama sekali terjadi,” ujarnya.

Jejak sanad

Pada setiap abad, Ginandjar memaparkan, selalu ada ulama yang menulis tentang tradisi keilmuan sanad. Misalnya, pada abad ke-20, terdapat seorang ulama besar yang pakar hadis.

Dialah Syekh Muhammad Yasin al-Fadani. Dai berdarah Minangkabau ini lama berkiprah di Makkah al-Mukarramah. Salah satu karyanya ialah kitab periwayatan yang berjudul Al-Iqdu al-Farid min Jawahir al-Asanid.

Melalui buah tangannya itu, ia menghimpun sanad ulama-ulama Nusantara. Karena itu, kitab ini juga memiliki kedudukan yang penting. Dengan menelaahnya, pembaca dapat menemukan jejaring dan genealogi intelektual para ulama Nusantara secara jelas dan runut.

Selain itu, ada pula kitab Silsilatul Masyayikh yang menjelaskan jaringan intelektual atau geneologi keilmuan antara para habaib dan ulama Nusantara. Pembahasannya berkaitan dengan kondisi sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Ginandjar menegaskan, salah satu modal besar bagi tradisi keilmuan Islam di Nusantara ialah keterhubungan ini, yaitu antara habaib dan ajengan atau kiai lokal. “Itu dipertalikan dengan hubungan intelektual, hubungan keilmuan, dan hubungan spiritual,” ucapnya.

photo
Kongres Rabithah Alawiyah pada masa kolonial Belanda. RA merupakan salah satu wujud pergerakan keislaman dan kebangsaan yang dimotori kaum keturunan Rasul SAW di Indonesia. - (DOK Rabithah Alawiyah)

Sebagai contoh, sanad para ajengan Sunda. Mereka umumnya tersambung dengan Syekh Nawawi al-Bantani. Sosok itu pernah menjadi imam besar Masjidil Haram. Banyak ulama Sunda juga terhubung dengan kalangan habaib, semisal Sayyid Utsman bin Yahya, Habib Ali Kwitang, Habib Salim bin Jindan, dan Habib Anis Solo.

Karena itu, lanjut filolog ini, tidak mengherankan bila sejak masa modern hingga kini, corak pemikiran keislaman di Indonesia nyaris sama merata. Yakni, menganut paham akidah Asy'ariyah. Mazhab teologi ini disandarkan kepada Imam Abul Hasan al-Asy'ari (wafat 323 H/935 M).

Dalam menjelaskan jaringan habaib dan ulama di nusantara, Ginandjar juga mengungkapkan sebuah dokumen yang menarik. Itu adalah sebuah arsip dari majalah tua yang ditulis pada 1928 M. Naskah dengan aksara Jawa Pegon ini berjudul “Rapat pertemuan antara Rabithah Alawiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU)”.

Di antara beberapa tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Habib Alwi bin Tahir al-Haddad yang kemudian menjadi Mufti Johor. Ada pula, Habib Alwi bin Muhammad al-Muhdhor Bondowoso. Adapun ulama-ulama dari NU yang hadir di sana, antara lain, ialah KH Wahab Hasbullah dan KH Mas Alwi.

Dalam pertemuan tersebut, para ulama Rabithah Alawiyah dan NU membicarakan identitas keislaman ahlussunnah wal jamaah (aswaja). Mereka ingin menguatkan agar identitas Islam aswaja tersebut tetap berkembang di Nusantara.


×