Habib Muhammad Bin Yahya, Sang Mufti Kutai Kartanegara | DOK Wikipedia
21 Nov 2021, 09:26 WIB

Habib Muhammad Bin Yahya, Sang Mufti Kutai Kartanegara

Ulama keturunan Rasulullah SAW ini berasal dari Penang, Malaysia, sebelum tiba di Kalimantan.

OLEH HASANUL RIZQA, AMRI AMRULLAH

 

Baru-baru ini, Presiden Joko Widodo meresmikan penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada seorang tokoh dari Kalimantan Timur, yakni Sultan Aji Muhammad Idris. Dialah pemimpin pertama dari Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang memakai nama Islam. Agama tauhid telah menyebar luas di wilayah setempat setidaknya sejak abad ke-17.

Tulisan berikut ini tidak akan membahas penguasa Muslim yang memerintah antara 1735 dan 1778 tersebut. Kali ini, sosok yang dibahas ialah seorang mufti Kesultanan Kutai Kartanegara yang bernama Habib Muhammad bin Yahya. Ia menjadi kadi kerajaan itu pada masa kepemimpinan Sultan Aji Muhammad Alimuddin yang memerintah pada periode 1899-1910.

Terkait

Kalangan istana menggelarinya Pangeran Noto Igomo. Bagaimanapun, lelaki ini tidak berasal dari ibu kota kesultanan tersebut, Tenggarong. Ia datang dari Penang, Malaya.

Adapun tempat kelahirannya lebih jauh lagi dari Kalimantan, yakni Desa al-Masilah, Hadramaut, Yaman. Sebagai anggota keluarga besar Alawiyyin, nasabnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW melalui garis Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Sewaktu di Penang, ia dikenal dengan panggilan As-Sayyid ath-Thahir. Saat di daerah tersebut, Habib Muhammad bin Yahya sempat bertemu dengan Sri Sultan Hamengkubuwono II (1750-1828). Raja Yogyakarta tersebut saat itu sedang diasingkan Belanda. Dikisahkan, Sri Sultan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengaji kepada sang habib.

 
Sewaktu di Penang, Habib Muhammad bin Yahya sempat bertemu dengan Sri Sultan Hamengkubuwono II.
 
 

Habib Muhammad adalah seorang yang sangat tekun dalam menuntut ilmu. Dirinya selalu bersemangat dalam belajar kepada para guru yang dijumpainya di sepanjang perjalanan. Tambahan pula, lelaki ini sangat berhati-hati di dalam memelihara kehormatan diri sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Apalagi, ia merupakan keturunan Nabi SAW.

Sejak pertengahan abad ke-19, Habib Muhammad gemar mengadakan rihlah ke arah timur Malaya, sampai menyeberangi selat. Pada 1877, untuk pertama kalinya ia tiba di Tenggarong. Masyarakat setempat menyambut hangat kedatangannya. Tidak perlu waktu lama, sang mubaligh diterima menjadi bagian dari mereka.

photo
Habib Muhammad Bin Yahya, Sang Mufti Kutai Kartanegara - (DOK Wikipedia)

Sejak menetap di Tenggarong, reputasi dai muda ini kian dikenal. Bukan saja oleh rakyat, melainkan juga bangsawan Kutai. Salah seorang elite istana yang ingin mengenalnya lebih dekat ialah Pangeran Aji Muhammad.

Sesudah menjadi raja, Aji Muhammad terus menjaga hubungan baik dengan Habib Muhammad. Pada suatu hari, putri Sultan Aji yang bernama Aisyah menderita sakit. Berbagai tabib sudah didatangkan, tetapi penyakit sang putri tak kunjung sembuh.

Akhirnya, raja Kutai itu meminta Habib untuk datang ke istananya. Ulama yang saat itu berusia 33 tahun tersebut mampu mengobati sakit sang putri atas izin Allah SWT. Sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih, Sultan Aji kemudian menikahkan anak perempuannya itu dengan pendakwah tersebut.

Dari pernikahan ini, sosok yang akrab disapa Habib Tenggarong itu dikaruniai sembilan anak. Mereka terdiri atas enam orang laki-laki (Sayid Ahmad, Sayid Umar, Sayid Ali, Sayid Barri, Sayid Abdul Maula, dan sayid Husein) serta tiga orang perempuan (Sarifah Sehhah, Sarifah Nur, dan Sarifah Fatimah).

 
Sang sultan juga mengangkat menantunya itu sebagai mufti kerajaan. Selama mengemban jabatan ini, Habib Tenggarong digelari Raden Syarif.
 
 

Sang sultan juga mengangkat menantunya itu sebagai mufti kerajaan. Selama mengemban jabatan ini, Habib Tenggarong digelari Raden Syarif yang juga sebagai pengakuan bahwa dirinya adalah zurriyat Rasulullah SAW.

Posisi yang diemban Habib Tenggarong bukanlah posisi yang sembarangan. Ia memiliki wewenang penuh untuk mengurus segala persoalan kesultanan yang berkaitan dengan keagamaan. Tidak hanya di lingkungan istana, perannya juga sangat signifikan di tengah masyarakat. Ulama ini berlaku sebagai seorang guru utama bagi penduduk Kesultanan Kutai.

Tak heran bila di luar kesibukannya sebagai mufti resmi kesultanan, ia tetap meluangkan waktu untuk mendidik masyarakat, utamanya generasi muda. Ia aktif mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Kutai, dari ilmu syariat sampai ilmu tasawuf. Semasa hidupnya, beliau curahkan segenap kemampuannya untuk kemaslahatan umat dan masyarakat di Kerajaan Kutai dan sekitarnya.

Bersama para ulama, Habib Tenggarong mendorong akselerasi dakwah Islam di Kalimantan. Salah satu rekan berdakwah yang menyokong “jihad”-nya tersebut adalah Habib Alwi bin Abdullah al-Habsy yang tinggal di Barabai Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan. Keduanya adalah sahabat dekat selama berada di Hadramaut dan dipertemukan kembali oleh Allah di tanah Kalimantan.

 
Bersama para ulama, Habib Tenggarong mendorong akselerasi dakwah Islam di Kalimantan.
 
 

Hubungan sesama sahabat dan ulama ini terjalin sangat baik dan keduanya dikenal bahu membahu menyebarkan agama Islam di Kalimantan. Ini misalnya terlihat dari kerja sama antarkeduanya dalam membangun perekonomian masyarakat. Pada saat Habib Alwi membangun Pasar Batu di Hulu Sungai, Habib Tenggarong mengirimkan bantuan berupa semen dan batu.

Habib Tenggarong wafat pada 26 Rabiul Awal 1366 H dalam usia 103 tahun. Tanggal itu bertepatan dengan 17 Februari 1947 M. Jenazahnya dimakamkan di Pekuburan Jalan Gunung Gandek Tenggarong. Kompleks itu kini dikenal dengan nama Area Permakaman Kelambu Kuning. Peristirahatan terakhirnya itu berdekatan dengan makam sang istri dan mertuanya, Sultan Aji Muhammad Alimuddin.

Idham dalam artikelnya, “Makam Noto Igomo”, yang terbit pada Jurnal Analisa (2014) menuturkan sejumlah kisah yang luar biasa terkait sosok ini. Di antaranya adalah cerita yang terjadi pada masa pendudukan Jepang.

Waktu itu, Habib Gasin Baragbah menginap semalam di kediaman Habib Muhammad bin Yahya. Lalu, sang tuan rumah bertanya, kapan tamunya itu akan kembali pulang ke kota asal, yakni Samarinda. Dijawab, kepulangannya pada esok hari.

Mendengar itu, Habib Muhammad sempat termenung. Agaknya, ia kurang berkenan atas jawaban tersebut. Habib Gasin langsung menanyakan, “Kalau boleh saya bertanya, ada apa gerangan?”

Habib Muhammad kemudian memberi tahu, beberapa hari sebelumnya ia mendapatkan firasat bahwa Samarinda akan gelap gulita. Benar saja, ketika tamunya itu kembali ke kota tersebut, penduduk setempat dilanda kepanikan. Mereka berlari tak tentu arah, mencari perlindungan dari serangan udara Sekutu. Inilah makna dari ungkapan “langit Samarinda akan gelap total”.

Pada lain kesempatan, yakni 1945, Habib Gasim juga pernah bertamu ke rumah sang mufti Kesultanan Kutai. Saat sedang mengobrol, tiba-tiba Habib Muhammad menyampaikan, dirinya menerima alamat bahwa era pendudukan Nippon insya Allah berakhir pada Ramadhan tahun itu.

 
Saat sedang mengobrol, tiba-tiba Habib Muhammad menyampaikan, dirinya menerima alamat bahwa era pendudukan Nippon insya Allah berakhir pada Ramadhan tahun itu.
 
 

Benar saja, Jepang kalah dalam Perang Dunia II. Kekuasaannya tidak lagi mencengkeram Nusantara. Bahkan, Indonesia menyatakan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Seperti umumnya rakyat, masyarakat Kalimantan Timur pun bersukacita atas tegaknya Negara Indonesia. Di Samarinda, acara syukuran atas berakhirnya zaman Jepang dilakukan warga dan tokoh-tokoh setempat. Momen itu bertepatan dengan hari kedua Idul Fitri pada 1945 M.

Turut hadir dalam gelaran ini, sebanyak 200 peserta. Ternyata, jumlah itu melebihi perkiraan sebelumnya. Alhasil, persediaan nasi tidak mencukupi kebutuhan makan mereka. Mau menanak nasi lagi pun tidak mungkin karena acara sedang berlangsung siang itu.

Informasi ini sampai ke telinga Habib Muhammad. Ia lantas menuju ke lokasi dapur. Kemudian, ia mengangkat kedua tangannya dan berdoa seraya memindahkan tasbih dari tangan kanan ke tangan kiri. Akhirnya, ia menepuk tutup panci tempat nasi tersebut seraya berkata, “Ambil nasi yang ada di panci ini, tapi jangan melihat ke dalamnya dan jangan berkata-kata.”

Panitia lantas memaklumkan orang-orang agar melaksanakan anjuran itu. Alhamdulillah, pada saat waktunya makan siang, semua hadirin dapat mengambil dan mengonsumsi nasi. Makanan itu cukup hingga akhir acara.

photo
Habib Muhammad Bin Yahya, Sang Mufti Kutai Kartanegara - (DOK Wikipedia)

Sekilas Histori Kesultanan

Peradaban telah lahir di Kalimantan Timur jauh sejak masa silam. Bahkan, salah satu kebudayaan tertua se-Nusantara diketahui muncul di sana. Sejauh ini, para peneliti telah menemukan tujuh yupa, yakni sejenis tiang batu.

Ketujuh benda tersebutr memuat teks berbahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa, diyakini berasal dari masa awal abad kelima. Isinya memuat puji-pujian dari para pendeta terhadap sikap dermawan raja mereka, Mulawarman.

Sosok itu adalah cucu dari pendiri Kerajaan Kutai Martadipura, Kudungga. Sejak tahun 350 M, kakeknya itu berkuasa, tetapi belum banyak dipengaruhi kebudayaan Hindu (India). Pengaruh India mulai masuk ke sana sejak era ayah Mulawarman, Aswawarman.

Kutai Martadipura berpusat di Muara Kaman, daerah yang kini kecamatan sebelah barat laut Samarinda. Tidak jauh dari sana, muara Sungai Mahakam juga menjadi pusat bagi Kutai Kartanegara. Kerajaan ini didirikan pada 1300 M oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti. Lelaki ini menikah dengan Putri Meneluh sehingga menurunkan silsilah raja-raja Kutai Kartanegara.

Memasuki abad ke-14, kedua Kutai itu tunduk di bawah ekspansi Majapahit. Pada abad ke-15, pengaruh Majapahit mulai memudar. Kutai Kartanegara lalu berada di bawah pengaruh Kerajaan Banjarmasin yang dipimpin Pangeran Samudra, bangsawan pertama Banjarmasin yang memeluk Islam.

Pada abad ke-16, Kutai Kartanegara yang dipimpin Anum Panji Mendapa berhasil menaklukkan Maharaja Dharma Setia, penguasa Kutai Martadipura. Sejak itu, kedua kerajaan tersebut menjadi satu, yakni Kutai Kartanegara ing Martadipura.

 
Pengaruh Islam di Kutai diduga bermula dari ekspansi yang dilakukan Kerajaan Banjarmasin.
 
 

Pengaruh Islam di Kutai diduga bermula dari ekspansi yang dilakukan Kerajaan Banjarmasin. Bagaimanapun, syiar agama ini dapat dilacak sejak penyebaran dakwah Islam oleh para mubaligh yang datang dari Sumatra atau Tanah Melayu.

Ada dua tokoh penting, yakni Datuk Dibandang dan Datuk Ditiro. Setelah sukses menyiarkan Islam di Sulawesi Selatan, keduanya tiba di Kutai pada akhir abad ke-16. Raja Kutai, Mahkota (1545-1610), menerima mereka dengan baik. Bahkan, pada 1605 sang penguasa akhirnya memeluk Islam.

Namun, beberapa sejarawan menduga, masuknya Islam terjadi sebelum era Raja Mahkota. Sebab, Kerajaan Kutai memiliki pelabuhan internasional yang ramai. Berbagai bangsa kerap singgah di sana.

Lepas dari perdebatan siapakah penguasa Kutai pertama yang bersyahadat, dakwah Islam berkembang pesat sejak era Mahkota. Begitu menjadi Muslim, dia memerintahkan pembangunan masjid sebagai pusat penyebaran Islam di Kutai. Dia mendidik putranya, Aji Batara Agung Paduka Nirta, untuk menjadi pengikut Islam yang taat.

 
Lepas dari perdebatan siapakah penguasa Kutai pertama yang bersyahadat, dakwah Islam berkembang pesat sejak era Mahkota.
 
 

Sejak abad ke-17, Kutai harus menghadapi hegemoni kolonial, terutama Kompeni Belanda (VOC). Untuk itu, penguasa setempat juga menjalin kerja sama dengan pihak-pihak tetangga, seperti Makassar atau para pelaut Bugis.

Pada permulaan abad ke-18, raja Kutai mengizinkan orang-orang Bugis untuk mendirikan permukiman di wilayahnya secara terbatas di dekat muara Sungai Mahakam. Permukiman mereka ini terletak di antara dua dataran rendah. Nama awalnya, Sama Rendah. Kelak, daerah ini lebih dikenal dengan sebutan Samarinda.

Pada masa kepemimpinan Aji Muhammad Idris (1735-1778), seluruh wilayah Kutai Kartanegara ing Martadipura telah menerima Islam. Keberpihakannya pada dakwah tidak tanggung-tanggung. Dia merupakan penguasa Kutai pertama yang memakai gelar sultan.

Berbagai perjuangan digelorakan Sultan Aji untuk melawan VOC. Begitu pula para penerusnya, mengupayakan bergeloranya jihad fii sabilillah mengusir penjajah. Hingga akhirnya, pada 1844 Belanda dapat memadamkan total perlawanan mereka.

Sejak saat itu, Kutai Kertanegara berada di bawah administrasi Hindia Belanda. Tenggarong tunduk pada pusat keresidenan di Banjarmasin.


×