Habib Salim bin Djindan, salah satu triumvirat ulama Betawi pada masanya | DOK WIKIPEDIA
21 Nov 2021, 05:57 WIB

Habib Salim bin Djindan, Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Habib Salim bin Djindan dikenal berada di garda depan untuk melawan propaganda komunis

OLEH HASANUL RIZQA 

Salah satu sifat Nabi Muhammad SAW ialah rendah hati. Beliau tidak pernah sama sekali menyombongkan diri, baik dalam ucapan, perbuatan, dan lain-lain. Statusnya yang mulia tidak mencegahnya untuk berbaur di tengah umat.

Karakteristik tawaduk itu memancarkan keteladanan. Seorang alim yang begitu meneladan sifat tersebut ialah al-Habib Salim bin Djindan. Seperti tampak pada gelarnya, habib, tokoh kelahiran Kota Surabaya, Jawa Timur, itu merupakan keturunan Rasulullah SAW.

Khususnya bagi masyarakat Muslim Betawi, reputasi Habib Salim sangat masyhur. Mereka menghormatinya sebagai seorang ulama besar. Bagaimanapun, sang mubaligh selalu konsisten mengikuti contoh Nabi SAW, termasuk dalam hal rendah hati.

Dikisahkan, pernah ada seseorang yang ingin menuliskan sebuah buku autobiografi tentangnya. Orang ini pun berkesempatan menyampaikan maksudnya langsung kepada Habib Salim. Setelah mendengarkan penuturan si penulis, sayyid tersebut menyatakan penolakan.

“Apa yang kalian lakukan? Menulis autobiografi saya, nantinya akan membuat anak cucu saya fakhr (berbangga diri -Red),” ujarnya.

Intinya, ulama yang telah menulis lebih dari 150 buku itu enggan dengan popularitas dan publikasi. Habib Salim kemudian meminta baik-baik naskah autobiografi itu dan merobek-robeknya, tanpa peduli pandangan si penulis yang menyatakan bahwa orang seperti dirinya perlu menerbitkan autobiografi agar jasa-jasanya diketahui khalayak umum.

Habib Salim lahir pada 7 September 1906 M, atau bertepatan dengan 18 Rajab 1324 H. Nama lengkapnya adalah Salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Jindan. Sejak kecil, dirinya menerima pengajaran agama dari lingkungan keluarga serta masjid sekitar.

Guru pertamanya ialah orang tua sendiri. Ayahnya, Habib Ahmad bin Djindan, menerapkan pola pendidikan yang penuh disiplin. Melalui bimbingannya, Salim kecil pun mencintai ilmu-ilmu agama.

Di rumahnya yang besar, tidak hanya ada kedua orang tua, tetapi juga kakeknya dari garis ibu. Habib Ali bin Mushthafa—demikian namanya—juga sering mengajarkannya berbagai ilmu keislaman.

Habib Ali merupakan murid dari Imam Ahmad bin Zaini Dahlan serta Habib Idrus bin Umar al-Habsyi. Pernah suatu ketika, di hadapan guru-gurunya itu kakek Habib Salim ini membacakan lebih dari 200 kitab untuk mendapatkan ijazah.

Di rumah besar yang sama, wanita-wanita hebat nan salehah juga bermukim. Pertama-tama, ibunda Habib Salim sendiri, yaitu asy-Syarifah Muznah binti Ali bin Mushthafa. Selain itu, kakak perempuannya yang bernama Khadijah pun tumbuh menjadi perempuan yang alim. Kelak, Muslimah ini menjadi istri seorang wali, al-Habib Ahmad bin Ghalib al-Hamid.

Di luar keluarga, Salim yang masih berusia belia pun belajar kepada banyak guru. Di antaranya ialah Habib Abdullah bin Umar Assegaf serta Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, yang saat itu mengasuh Madrasah al-Khairiyah Surabaya.

Salim muda mulai mengadakan rihlah intelektual saat usianya beranjak remaja. Seorang gurunya ialah Habib Abdullah bin Muhsin Alatas alias Habib Keramat Empang, yang makamnya terdapat di daerah Empang, Bogor, Jawa Barat.

 
Salim muda mulai mengadakan rihlah intelektual saat usianya beranjak remaja. Seorang gurunya ialah Habib Abdullah bin Muhsin Alatas alias Habib Keramat Empang.
 
 

Selain itu, yang juga menjadi gurunya ialah Habib Muhammad bin Muhammad Almachdor dari Bondowoso. Adapun dari Gresik, ulama tempatnya mengaji ialah Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf. Dengan begitu, sanad keilmuannya sampai pada Syaikhona KH Kholil Bangkalan, seorang yang disebut-sebut sebagai waliyullah.

Kegigihan dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu berbuah manis. Habib Salim lantas mendapatkan ijazah dari sejumlah ulama. Mereka mengakuinya sebagai seorang pakar dalam beberapa bidang, utamanya hadis dan sejarah. Ia pun digelari muhaddis (ahli hadis) dan bahkan musnid (ahli sanad hadis).

Dalam menguraikan suatu hadis, Habib Salim sangat fasih dan hafal sumber-sumbernya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Penulis beberapa kali mengikuti kegiatan dakwahnya.

 
Habib Salim sangat fasih dan hafal sumber-sumbernya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Penulis beberapa kali mengikuti kegiatan dakwahnya.
 
 

Inilah yang membuat orang kagum terhadap daya ingatnya yang demikian cemerlang. Sebagai seorang yang hormat kepada guru-gurunya yang selama bertahun-tahun dia tekuni, dia pun memberikan penghargaan yang tinggi pada mereka.

Habib Salim pernah berkata, ''Aku telah berkumpul dan hadir di majelis mereka. Sungguh dapat aku rasakan bahwa majelis mereka merupakan majelis para sahabat Rasulullah SAW di mana terdapat kekhusyukan, ketenangan, dan kharisma yang terpencar di hati mereka.''

Kendati sudah terkenal sebagai dai muda (17 tahun) sewaktu di Surabaya, namanya makin berkibar saat hijrah ke Jakarta. Dalam masa remaja itu, dia juga berdakwah di kota-kota lain, seperti Pekalongan, Tegal, hingga Bogor, di samping membuka majelis taklim di kediamannya di Bidaracina (kini Jl Otista), Jakarta Timur.

Sikap tegas

Di tengah kaum Muslimin, Habib Salim merupakan pribadi yang bersahaja, lemah lembut, serta tawadhu. Sebaliknya, sikap yang tegas dan bahkan cenderung keras ditunjukkannya kepada setiap kezaliman. Baginya, amar makruf nahi munkar adalah prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar.

Pada zaman Presiden Sukarno, misalnya, ketegasannya terbuktikan. Seperti diceritakan Ibnu Umar Junior dalam risalah Fenomena Kramat Jati, seorang ajudan Bung Karno yang bernama Kolonel Sabur pernah berang kepada mubaligh tersebut.

Sang dai dinilai telah melancarkan kritik-kritik kepada pemerintah. Termasuk dalam sebuah acara yang dihadiri proklamator RI itu di Palembang, Sumatra Selatan, pada 1957.

“Kolonel Sabur menyuruh Habib Salim turun dari mimbar. Di kesempatan itu, beliau (Habib Salim) berkata kepada para hadirin, 'Suara rakyat adalah suara Tuhan. Apakah saya harus terus ceramah atau tidak?' Serempak para hadirin menjawab, ‘Teruuus',” tulis Ibnu Umar.

 
Kolonel Sabur menyuruh Habib Salim turun dari mimbar. Di kesempatan itu, beliau (Habib Salim) berkata kepada para hadirin, 'Suara rakyat adalah suara Tuhan. Apakah saya harus terus ceramah atau tidak?' Serempak para hadirin menjawab, ‘Teruuus'.
 
 

Sikap kritisnya itu direspons reaktif oleh penguasa. Tidak jarang, sang habib terpaksa melalui malam-malamnya di penjara.

Pada zaman revolusi, dirinya pun lantang melawan kekuatan kolonial yang hendak menjajah lagi Indonesia. Waktu itu, Habib Salim sudah bergiat dakwah di Jakarta. Banyak jamaah pengajiannya yang berasal dari kalangan pemuda. Semangat mereka kian membara begitu mendengar pidato sang guru.

NICA—tentara Belanda—terus berupaya memadamkan perjuangan sang mubaligh. Bahkan, Habib Salim sampai dipenjara. Bagaimanapun, ia tetap sabar dan pantang menyerah.

Menurut sejarawan Alwi Shahab (1936-2020), Habib Salim adalah salah satu simpul dakwah yang sangat penting dalam sejarah masyarakat Betawi. Ia, bersama dengan Habib Ali Alhabsyi (Kwitang) dan Habib Ali bin Husin Alatas, dikenal sebagai tiga serangkai (triumvirat) dalam berdakwah.

Alwi menambahkan, publik mengingat ciri khas Habib Ali, yakni cenderung kalem. Adapun Habib Ali Kwitang kerap mengingatkan kaum Muslimin tentang cinta Ilahi. Sementara, Habib Salim bin Djindan dengan suara yang menggebu-gebu kadang mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggapnya berlawanan dengan ajaran Islam.

Masih pada zaman Orde Lama, satu contoh ketegasannya terjadi tatkala Partai Komunis Indonesia (PKI) berjaya. Partai berlogo palu-arit ini sedang dekat dengan penguasa. Para kader dan simpatisannya terus menyerang dengan sentimen anti-Islam.

Habib Salim senantiasa berada di garda depan untuk melawan propaganda komunis. Padahal, waktu itu PKI sedang kuat-kuatnya. Berbagai ancaman tidak dipedulikannya. Sebab, yang terpenting ialah marwah agama Islam. Tak letih-letihnya sang habib mengingatkan umat Islam akan bahaya besar bila komunis berkuasa di Tanah Air.

 
Habib Salim senantiasa berada di garda depan untuk melawan propaganda komunis.
 
 

Habib Salim terkenal sebagai ulama yang tegas dan keras, terutama terhadap hal-hal kemaksiatan. Ia juga sering kali mengingatkan umat akan kerusakan moral. Kepada kaum wanita, Habib mengingatkan mereka agar memerhatikan cara berpakaian dan menutup aurat.

"Jagalah wanita-wanita kalian. Peringatkan anak-anak dan istrimu agar menjaga aurat mereka. Karena, penyakit tabarruj (memamerkan aurat) bisa menyebar ke rumah-rumah kalian," kata Habib Salim.

Dalam buku 12 Habaib Berpengaruh, Habib Salim berkata kepada keluarganya, "Aku mengharapkan datangnya kematian. Karena, aku menginginkan perjumpaan dengan orang-orang yang aku cintai. Mereka adalah para ulama dan salihin dan aku mengharapkan berkumpul bersama ajdad (para leluhurku) dan bersama datukku, Muhammad Rasulullah."

Pada 16 Rabiul Awwal 1389 H bertepatan 1 Juni 1969 M, singa podium itu wafat. Ribuan umat Islam dari berbagai pelosok Jabodetabek bertakziah ke kediamannya di Otista (Jalan Otto Iskandardinata). Umat Islam pun merasa kehilangan dengan kepergian sang ulama.

Estafet dakwah diteruskan kedua putra almarhum, yakni Habib Shahahuddin dan Habib Novel. Yang terakhir itu membuka sebuah majelis taklim di Larangan, Tangerang, Banten. Sepeninggalannya, kini forum ilmu agama tersebut dilanjutkan oleh kedua putranya, Habib Jindan bin Novel dan Habib Muhammad.

photo
ILUSTRASI Habib Salim bin Djindan memang menyukai dunia pustaka sejak masih anak-anak. Tidak cuma rajin membaca, dirinya pun konsisten menghasilkan banyak karya. - (Thoudy Badai_Republika)

Singa Podium yang Prolifik 

Habib Salim bin Djindan berdakwah dengan lisannya yang tajam. Dalam arti, ia tidak pernah ragu bersuara melawan kezaliman, baik pada masa sebelum maupun sesudah Indonesia merdeka.

Karena itu, beberapa kali dirinya merasakan sebagai tahanan di balik jeruji penjara. Penguasa mungkin bisa memenjarakannya, tetapi tidak akan mampu meredam semangatnya dalam amar ma’ruf nahi munkar.

Tidak hanya bil lisan. Dakwahnya pun tergurat dalam banyak tulisan. Ulama kelahiran Surabaya, Jawa Timur, ini memang menyukai dunia pustaka sejak masih anak-anak. Tidak cuma rajin membaca, dirinya pun konsisten menghasilkan banyak karya.

Habib Salim menulis kitab-kitab tentang berbagai disiplin ilmu, khususnya hadis dan sejarah. Dalam sebuah seminar daring baru-baru ini, filolog A Ginandjar Sya’ban mengatakan, sang habib merupakan penulis lebih dari 150 buku di sepanjang hayatnya. Sebagian besar karyanya masih dapat dijumpai hingga kini di beberapa perpustakaan, semisal Maktabah Kanzul Hikmah yang diinisiasi Majelis Hikmah Alawiyah (Mahya) di Jakarta Selatan.

 
Sang habib merupakan penulis lebih dari 150 buku di sepanjang hayatnya.
 
 

Salah satu karyanya ialah Raudhah al-Wildan. Isinya menghimpun biografi ulama-ulama Nusantara dengan begitu komprehensif. Menurut Ginandjar, Habib Salim menulis dengan penuh kesadaran sebagai orang Indonesia. Buktinya, pada setiap sampul buku-buku karyanya selalu tergurat nama lengkapnya yang ditambahi dengan gelar “al-Indunisi” atau “al-Jawi.”

Ginandjar menambahkan, ulama yang lama berdakwah di Jakarta itu merupakan seorang ahli hadis, bahkan yang terbesar pada masanya. Ia memiliki lebih banyak periwayatan hadis dibanding ulama-ulama lain yang sezaman dengannya di Tanah Air.

Salah satu karyanya, As Sami fi Mu’jam Al Asami menguraikan para musnid pada masanya. Termasuk di dalamnya, sejumlah ulama Hadramaut, para dosen Universitas al-Azhar, serta kalangan alim Jawi yang mengajar di Masjidil Haram. Keseluruhan kitab ini mencapai 37 jilid.

Dalam bidang ilmu sejarah, sebuah karyanya berjudul Mu’jam al-Awadim fii al-Ansaab wa at-Taraajim. Tertulis dalam daftar isi kitab tersebut, karya ini mencapai tebal 1.200 halaman. Kesemuanya ditulis dengan tulisan tangannya. Sayang sekali, kitab yang monumental ini hilang dan tidak diketahui keberadaannya hingga kini.


×