Lanskap Kota Konya di Turki. Tampak Museum Mevlana dengan ciri khasnya, kubah runcing berwarna hijau. | DOK EPA/Sedat Suna

Arsitektur

21 Nov 2021, 01:13 WIB

Museum Mevlana, Semerbak Memori Sang Sufi Jalaluddin Rumi

Kompleks mausoleum Jalaluddin Rumi ini diubah menjadi museum sejak 1954.

OLEH HASANUL RIZQA

Jalaluddin Rumi merupakan seorang penyair-sufi legendaris dalam sejarah peradaban Islam. Masyarakat Iran dan Afghanistan menyebutnya Jelaluddin Balkhi. Sebutan Balkhi merujuk pada kota tempat kelahirannya, Balkh, Afghanistan utara.

Sosok dari abad ke-13 tersebut akhirnya masyhur dengan nama belakang Rumi, yang bermakna ‘orang Roma’ atau ‘Anatolia’—Turki pada masa itu. Penggubah syair-syair cinta transendental itu memang menetap hingga wafat di Konya, Turki tengah.

Rumi pertama kali datang ke Konya tatkala dirinya berusia 22 tahun. Ia bersama dengan ayahandanya, Bahauddin Walad. Keluarga kecil ini mengungsi dari Balkh yang saat itu sedang ditarget balatentara Mongol. Penguasa Anatolia saat itu, Raja Muhammad, menyambut bapak dan anak ini dengan hangat.

Rumi pun tumbuh menjadi pemuda yang gemar belajar ilmu-ilmu agama. Di samping itu, orang-orang mengenalnya sebagai pribadi yang rendah hati dan zuhud, sama seperti ayahnya. Pada puncak kariernya sebagai ilmuwan, putra daerah Balkh ini menekuni fikih. Mazhabnya ialah Hanafi.

Kehidupannya berubah total sejak berjumpa dengan seorang salik misterius, Syamsuddin alias Syamsi Tabrizi. Lelaki tua itu berasal dari Tabriz, Persia. Kebiasaannya ialah mengembara dari satu wilayah ke wilayah lain.

photo
Museum Mevlana di Konya, Turki. Pada zaman Utsmaniyah, kompleks ini juga menjadi tempat persinggahan dan pusat aktivitas kaum sufi, khususnya dari ordo Maulana. - (DOK WIKIPEDIA)

Orang awam yang tidak mengetahui kedalaman ilmunya kerap menyangka sang sufi sebagai gelandangan. Wajarlah, sebab pakaian yang dikenakannya hanyalah jubah wol kusam yang menutupi kepala hingga kakinya.

Pada hari itu di Konya, sekira tahun 1244 M, Rumi sedang asyik membaca buku. Tiba-tiba, Syamsi Tabrizi merebut kitab yang sedang dibaca ulama Hanafiyah tersebut dan melemparnya ke kolam air.

“Sekarang, engkau harus hidup dari apa yang engkau ketahui,” kata sufi-pengelana itu.

photo
Hari pertama sejak mausoleum Jalaluddin Rumi dibangun, pemerintah kota Konya membuka taman-taman bunga di sekitarnya. - (DOK WIKIPEDIA)

Rumi terkejut. Tanpa basa-basi, dirinya segera berlari untuk menyelamatkan bukunya. Belum hilang rasa kagetnya, alim itu kembali diperingatkan. Syamsi berseru, semua buku yang dibacanya tidak berarti apa-apa.

“Tapi kalau engkau memang menginginkannya, aku bisa mengeluarkan buku yang tercebur itu dari kolam dalam keadaan kering,” tambahnya.

Benar saja, orang asing ini mengambil kitab itu seolah-olah benda tersebut tidak pernah tersentuh air sebelumnya. Rumi menyadari, pria yang ada di hadapannya ini bukanlah orang biasa. Ada kharisma dan kebijaksanaan yang mempesona dari sosok berpakaian lusuh itu.

Sejak itu, keduanya bersahabat erat. Ulama Konya itu memandang sang darwis bak matahari yang menyinari hidupnya dalam jalan menuju Sang Maha Cinta.

photo
Kubah hijau yang menjadi ciri khas mausoleum Jalaluddin Rumi di Konya, Turki. Tepat di bawahnya terdapat makam sang sufi dan ayahandanya. - (DOK WIKIPEDIA)

Menjaga memori

Pancaran tasawuf Rumi menyinari banyak kalangan. Menjelang akhir hayatnya, ia membentuk komunitas tasawuf Mevlevi atau al-Maulawiyah—yang hingga kini masih diikuti banyak orang terutama di Turki dan Suriah. Nama tarekat itu merujuk pada panggilan sayang dirinya oleh para pengikutnya, “Maulana.”

Pada 17 Desember 1273 (672 Hijriah), Rumi berpulang ke rahmatullah dalam usia 66 tahun. Ribuan orang melepas kepergiannya dengan duka mendalam. Jenazahnya dimakamkan di Konya, tepat di sebelah kuburan ayahnya.

Sultan Alauddin Kayqubad mula-mula membangun sebuah taman mawar di sekitar permakaman bapak-anak itu. Pembangunan tersebut dilakukannya sebagai bentuk penghormatan. Beberapa waktu kemudian, mursyid al-Maulawiyah menginisiasi berdirinya kawasan makam besar (kubbe-i hadra) di area tempat peristirahatan terakhir Rumi.

photo
Pemerintah Republik Turki kemudian mengubah status kawasan bersejarah ini menjadi museum. Sejak 1954, namanya menjadi Museum Mevlana. - (DOK Wikipedia)

Sultan Seljuk tidak hanya merestui rencana ini, tetapi juga mendatangkan seorang arsitek terkemuka kala itu, Badruddin Tabrizi. Akhirnya, pada 1274 kompleks mausoleum itu tuntas dikerjakan.

Keberadaan Makam Besar Rumi terus bertahan di sepanjang masa kekuasaan Turki Utsmaniyah. Sesudah kekhalifahan tersebut tumbang, pemerintah Republik Turki kemudian mengubah status kawasan bersejarah ini menjadi museum. Sejak 1954, namanya menjadi Museum Mevlana.

Seperti halnya sebuah museum, kompleks bangunan ini berfungsi menjaga memori tentang Jalaluddin Rumi. Sang sufi tidak hanya menjadi inspirasi bagi komunitas Islam, tetapi juga non-Muslim. Sebab, yang kerap disuarakan penulis Matsnawi, Fihi Ma Fihi, dan Maktubat  itu ialah hakikat cinta antara manusia dan Sang Pencipta serta spiritualitas.

photo
Seorang pengunjung memotret makam Syekh Jalaluddin Rumi di Museum Mevlana, Konya, Turki. - (DOK WIKIPEDIA)

Maka, Museum Mevlana pun tampil dengan pelbagai keindahan. Sebagai contoh, hamparan taman bunga mawar di sana. Saking indahnya kebun tersebut, warga Turki menamakan museum ini sebagai Istana Mawar. Tiap memasuki musim semi, ratusan bunga mawar akan mekar dan menyebarkan semerbak keharuman.

Sebagian area museum tersebut pernah menjadi tempat tinggal para salik. Salah satu kegiatan mereka ialah berlatih tarian sufi Samaa (whirling dervishes). Kesenian ini diciptakan Rumi sebagai bentuk ekspresi akan ekstase cinta Ilahi.

photo
Kompleks bangunan ini berfungsi menjaga memori tentang Jalaluddin Rumi. Museum Mevlana pun tampil dengan pelbagai keindahan. - (DOK Wikipedia)

Dari kejauhan, keanggunan museum itu sudah tampak. Sebuah kerucut hijau toska besar menghiasi atap sebuah bangunan di sana. Tepat di bawah kerucut itu, terdapat kuburan Rumi yang berdampingan dengan makam ayahanda dan putra sulungnya, Sultan Walad—dikenang antara lain sebagai pemopuler whirling dervishes.

Sebelum memasuki ruang makam, setelah memasuki pintu utama, pengunjung akan langsung bertemu sebuah taman berhias kolam. Itulah simbol dari “Malam Penyatuan.” Istilah itu diciptakan Rumi yang pernah menyebut kematiannya sebagai momen penyatuan diri dengan Tuhan. Di taman itu pula, tarian Samaa dipertunjukkan setiap tanggal 17 Desember untuk memperingati hari wafatnya Rumi.

Pesona Konya tentunya bukan hanya pada Museum Mevlana. Bentang kota tersebut juga dipenuhi berbagai bangunan ikonik dan bersejarah. Misalnya, Masjid Besarebey, Masjid Abdulaziz, dan Masjid Hasbey Darulhuffaz. Begitu pula dengan Madrasah Ince Mineret. Meskipun berusia kuno, bangunan-bangunan cagar budaya itu selalu terawat dengan baik.


×