Kondisi jalan yang nyaris kosong di Wina, Austria pada Senin (15/11/2021). Austria menjalankan vaksinasi bagi anak 5-12 tahun guna menangkal pesatnya penularan Covid-19 di negara itu belakangan.. | AP/Lisa Leutner

Internasional

20 Nov 2021, 03:45 WIB

Austria Terapkan Lockdown Nasional

Lockdown nasional itu diambil saat Austria menghadapi gelombang keempat Covid-19.

WINA – Austria akan menerapkan lockdown nasional mulai Senin (22/11) dan dapat berlangsung antara 10 dan  20 hari. Langkah itu diambil saat negara tersebut menghadapi gelombang keempat Covid-19.

Austria pun akan menjadi negara Eropa pertama yang melakukan lockdown kembali dan mewajibkan vaksinasi Covid-19. Kewajiban vaksinasi berlaku menyeluruh mulai 1 Februari. Saat ini baru dua per tiga populasi yang mendapat vaksinasi penuh. Ini adalah capaian  terendah dibanding negara lain di Eropa Barat.

“Kita belum berhasil meyakinkan banyak orang untuk divaksin,” kata Kanselir Austria Alexander Schallenberg kepada awak media, Jumat.

Sementara dalam hal tingkat infeksi, Austria menjadi yang tertinggi di Benua Biru. Ia mencatatkan 971,5 kasus per 100 ribu orang dalam sepekan. Kasus harian pun terus mencatatkan rekor.

“Kita tidak menginginkan gelombang kelima,” ujarnya dikutip laman Sky News.

Banyak warga Austria yang skeptis terhadap vaksin. Pandangan ini antara lain didukung oleh partai ekstrem kiri, Freedom Party. Mereka bahkan berencana menggelar unjuk rasa menentang pembatasan.

Dengan lockdown ini, kegiatan belajar mengajar harus kembali dilakukan secara daring. Tempat-tempat umum seperti restoran akan ditutup. Sementara acara-acara publik bakal dibatalkan.

Memasuki musim dingin jumlah kasus Covid-19 mengalami peningkatan di benua Eropa. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa sistem kesehatan di sebagian besar negara Eropa akan runtuh ketika liburan Natal dan Tahun Baru.

Slowakia dan Ceska melaporkan catatan tinggi untuk kasus baru. Sedangkan Hungaria dan Polandia melaporkan angka kasus tertinggi dalam enam bulan terakhir.

"Kita semua sangat lelah dan sekarang tempat tidur rumah sakit penuh lagi,” Presiden German Society of Intensive Care Medicine., Christian Karagiannidis, yang dikutip laman ABC, Jumat.

Jerman status darurat

Kepala Robert Koch Institute, Lothar Wieler menilai, Jerman telah memasuki “status darurat nasional” karena meningkatnya kasus infeksi Covid-19. Wieler menilai, perawatan yang bisa tidak lagi bisa menjamin para pasien karena rumah sakit dan unit perawatan intensif (ICU) kewalahan.

photo
Warga melintasi stasiun bawah tanah di Frankfurt, Jerman, Sabtu (13/11/2021). - (AP/Michael Probst)

“Seluruh Jerman kini menjadi kejadian luar biasa (KLB) secara luas,” kara Wieler di Berlin, Jumat. “Ini kondisi darurat seluruh negeri. Kita perlu menarik tanda tuas darurat.”

Pada Jumat, majelis tinggi di parlemen yaitu Bundesrat, menyetujui langkah baru untuk mengendalikan KLB. Di antara langkah itu adalah persyaratan kepada warganya untuk menunjukkan bukti vaksin, baru sembuh dari Covid-19, atau telah dinyatakan negatif dari virus tersebut. Ini berlaku untuk warga yang bekerja di tempat umum dan menggunakan transportasi umum.

Angkatan Udara Jerman mengonfirmasi bahwa mereka mempersiapkan diri untuk mengangkut pasien ke klinik yang memiliki tempat tidur kosong. Sebelumnya, isu ini diberitakan media Bild.

RI Masuk White List UE

Uni Eropa (UE) mengumumkan Indonesia masuk dalam daftar pengecualian pembatasan perjalanan ke wilayah Uni Eropa, Kamis (18/11). Warga Indonesia dapat melakukan perjalanan non-esensial ke UE.

"Hal ini patut diapresiasi dan saya berharap kondisi ini tetap dapat dipertahankan ke depannya dengan tetap menjaga protokol kesehatan yang ketat," ujar Duta Besar RI untuk UE Andri Hadi dalam keterangan pers KBRI Brussels yang diterima Republika, Jumat (19/11).

Namun, UE belum mengakui vaksin Sinovac yang banyak digunakan di Indonesia. Vaksinasi yang diterima secara umum oleh UE adalah vaksin yang sesuai anjuran European Medicine Agency (EMA), yakni Pfizer, Moderna, AstraZeneca dan Johnson & Johnson.

Warga Indonesia yang melakukan perjalanan ke UE tetap perlu melakukan tes PCR, maksimal 72 jam sebelumnya dengan hasil negatif. Karantina masih berlaku di negara-negara Eropa, tergantung negara yang dituju.

Sumber : Reuters


×