Inovasi | Dok

Inovasi

25 Feb 2019, 19:25 WIB

HEMAT WAKTU UNTUK TRANSKRIP SUARA

Teknologi ini hadir bukan untuk menggantikan sekretaris, melainkan mempermudah kerja notulen.

Dalam forum-forum resmi seperti rapat dan diskusi, peran notulen yang mencatat isi pembicaraan selama acara berlangsung diperlukan. Masalah kadang muncul apabila acara berlangsung sangat lama dan rumit sehingga kerja notulen makin be rat, bahkan bu kan tak mung kin no tulen mele watkan poin-poin pen ting yang se ha rus nya dicatat.

Perkembangan teknologi pun kini hadir untuk makin mempermudah pekerjaan para notulen.
Pekan lalu, di Jakarta, perusahaan anak bangsa yang berfokus pada pengem bangan produk berbasis tek nologi informasi dan komunikasi (TIK), PT Bahasa Kita, memperkenalkan inovasi bernama Notula Lisan.

Direktur Utama PT Bahasa Kita Oskar Riandi menjelaskan, Notula Lisan merupakan aplikasi mobileyang memung kinkan pengguna melakukan transkrip suara menjadi tulisan secara real time. Notula Lisan adalah aplikasi berbasis Android dan laman yang melakukan transkrip dari lisan ke tulisan secara otomatis.

Notula Lisan dapat digunakan kapan saja secara real timemaupun luring ketika tidak ada koneksi internet.
Untuk saat ini, Notula Lisan hadir dalam versi alfa. Oskar menargetkan aplikasi tersebut sudah naik menjadi versi beta pada Mei men datang. Nantinya, jika sudah dirilis resmi untuk masyarakat luas, skema penggunaan apli kasi No tula Lisan akan mene rapkan model berlangganan.

photo
HEMAT WAKTU UNTUK TRANSKRIP SUARA FOTO-FOTO BAHASAKITA.COM



Sejatinya, Notula Li san adalah versi yang lebih sederhana dan ringkas dari produk lain PT Bahasa Kita, yakni Notula Rapat. Prinsip kerja kedua produk tersebut sa ma. Namun, No tula Rapat mem butuh kan banyak perang kat, di antaranya komputer, mik ro fon, server, dan penyimpan data.

Tidak hanya membuat transkrip, perangkat ini dapat menghitung jumlah kata dan relevansi terhadap topik yang di sam paikan.

Notula Rapat juga dapat mengenali ka rakter suara pembicara dan secara oto matis dapat memunculkan nama pembicara dalam transkrip rapat.

Pengenalan karakter suara ini bekerja menggunakan 200 parameter untuk membedakan suara setiap orang. Notula Rapat juga dilengkapi bank data ejaan yang disempurnakan (EYD), bahasa daerah, serta dialek sehari-hari. "Notula Rapat bekerja secara luring karena sistem bekerja di local storage," ujar Oskar.

Perangkat tersebut bahkan dapat menganalisis percakapan sehingga dapat mengetahui topik yang dibicarakan (topic detection) dengan cepat dan membuat resume rapat.

Namun, Notula Lisan dan Notula Rapat tetap membutuhkan peran manusia sebagai penyunting karena tingkat akurasinya baru mencapai 70 persen.

Jika selama ini perangkat yang sudah ada di pasaran hanya dapat menyimpan teks tanpa suara, Notula berbeda. Sistem di Notula akan menyimpan suara dan transkrip sehingga pengguna dapat mengecek ulang kebenaran dari kalimat yang ditranskrip.

Menurut Oskar, pengguna Notula Rapat cenderung ke arah B2B (business to business)
dan B2G (business to government). Oleh karena itu, Oskar dan timnya mengembangkan Notula Lisan.

"Sayang kalau produk seperti ini hanya bisa dimanfaatkan sebagian orang. Jika dibuat di cloud, pasti lebih banyak orang yang ter bantu dalam proses penulisan dan wawancara. Kami ingin produk kami digunakan khalayak lebih luas dengan harga lebih murah," ungkap alumnus Japan Advan ced Institute of Science and Technology ini.

Fokus riset perusahaan ini memang dikhususkan pada pemrosesan suara (speech processing) dan bahasa alami (natural- language processing) seperti sistem pengenal wicara otomatis (automatic speech recognition), mesin penerjemah (translation machine), penyintesa teks ke ucapan (text to speech synthesizer), dan biometrik suara (voice biometrics).

Perangkat speech-to-textPT Bahasa Kita juga sempat diterapkan untuk mentranskrip acara debat pilpres putaran pertama Januari silam. Oskar mengungkapkan, transkrip debat yang dirilis oleh pihaknya telah diakses hingga 30 ribuan pengguna saat hari H dan H+1. "Ke depan, perangkat kami tidak akan meng gantikan tugas sekretaris, tapi mempermudah kerja notulen," ujar Oskar.

Salah satu lembaga yang sudah mengadopsi inovasi besutan PT Bahasa Kita adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Deputi KPK Bidang Informasi dan Data Hary Bu diarto mengatakan, KPK menggunakan No tula Rapat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

"Ketika ada sidang, biasanya panitera lama membuat notulensi, bisa dua pekan hing ga dua bulan. Agar notulensi bisa lebih ce pat selesai, kami terapkan speech-to-text un tuk merangkum hasil persidangan," tutur Hary.

Hasil dari speech-to-textitu selanjutnya digunakan para penuntut untuk mempelajari jalannya sidang lebih detil. Selama sidang, biasanya konsentrasi penuntut sulit terfokus karena banyak yang harus dipikirkan.

"Dengan adanya teks tersebut, kami bisa melihat lebih detail lagi dan membuat berkas dengan lebih lengkap hingga proses inkrah,"ungkap Hary. ed: setyanavidita livikacansera ';

×