Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

15 Nov 2021, 03:30 WIB

Lonceng Kematian

Amal baik dan ridha-Nya sebagai sikap terbaik dalam menyimak suara lonceng kematian.

 

OLEH MUHAMAD YOGA FIRDAUS

Manusia tercipta bersandingan dengan fitrah saling melengkapi. Jika ada laki-laki, maka akan ada perempuan. Begitu pula jika ada pagi, akan ada malam. Jika ada kebahagiaan, akan ada kesedihan. Dan jika ada kehidupan, akan ada kematian.

Allah SWT berfirman, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS al-Ankabut: 57).

Ayat ini menjelaskan tentang hakikat keberadaan manusia itu sendiri. Manusia mempunyai kesempatan emas untuk melakukan segala hal sebagai bekal terbaik sebelum ia kembali pada kepastian yang sebenar-benarnya, yakni kematian. Dari mulai manusia dibangkitkan kembali setelah kematian, maka di saat itu pula ia akan menjalani kehidupan abadi dan yang sebenar-benarnya.

Telah menyampaikan kepada kami Abdullah bin Zubair, lalu telah menyampaikan kepada kami Sufyan, lalu telah menyampaikan kepada kami Abdullah bin Abu Bakar bahwa ia mendengar Anas bin Malik RA menjelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Mayyit diiringi tiga hal. Dua hal akan kembali, sedangkan satu hal akan tetap bersamanya. Ia diiringi oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap bersamanya.” (HR Bukhari).

Hadis ini menjelaskan tentang pentingnya mempersiapkan bekal untuk di keabadian. Di saat manusia bertemu jadwal kematian, maka hanya amalnyalah yang akan membersamainya. Yakni, amal baik ataupun amal buruk yang ia miliki selama mengarungi kehidupan yang kelak akan menemaninya dengan setia di keabadian.

Telah menyampaikan kepada kami Yahya bin Bisir, lalu telah menyampaikan kepada kami Syababah dari Warqa’ dari ‘Amru bin Dinar dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas RA ia berkata, “Dahulu para penduduk Yaman berhaji, namun mereka tidak membawa bekal dan mereka berkata, ‘Kami adalah orang-orang yang bertawakal’. Ketika mereka tiba di Makkah, mereka meminta-minta kepada manusia. Maka, Allah SWT menurunkan ayat yang artinya, ‘Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa’ [QS al-Baqarah: 197].” (HR Bukhari).

Hadis ini pun mengajarkan kepada kita agar terus berupaya mempersiapkan bekal terbaik untuk di keabadian. Menyadari bahwa kehidupan di dunia ini adalah hanya sementara. Dengan memaksimalkan keimanan dan ketakwaan pada-Nya menjadi kunci utama kebahagiaan di keabadian (QS al-Bayyinah: 8).

Maka, sungguh beruntunglah ia yang menjadikan amal baik dan keridhaan-Nya dalam menjalani kehidupan sebagai sikap dan jawaban terbaik dalam menyimak secara seksama suara lonceng kematian.

Wallahu a’lam.


×