Sejumlah warga melintasi Jalan Lintas Melawi yang terdampak banjir dengan perahu di Ladang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Jumat (12/11/2021). Banjir yang melanda 12 kecamatan tersebut belum juga surut selama tiga pekan terakhir akibat curah hujan y | ANTARA FOTO/Abraham Mudito

Nasional

13 Nov 2021, 03:45 WIB

Wapres: Tingkat Keparahan Bencana Meningkat

Wapres mengimbau jajaran di pemerintahan melakukan upaya mitigasi bencana sejak dini.

JAKARTA -- Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengatakan, tingkat keparahan bencana hidrometeorologi makin meningkat dengan terjadinya kerusakan lingkungan di hulu dan daerah aliran sungai. Karena itu, Ma’ruf meminta jajaran pemerintahan dari tingkat pusat hingga daerah untuk melakukan upaya mitigasi bencana sejak dini.

Ma’ruf mengatakan, konservasi tanah dan air di hulu sungai melalui penghijauan, penataan daerah aliran sungai, serta edukasi kepada masyarakat menjadi upaya penanggulangan bencana hidrometeorologi jangka panjang. Padahal berdasarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Indonesia sedang mengalami fenomena anomali cuaca yang diakibatkan perubahan suhu di Samudera Pasifik atau fenomena La-Nina.

Fenomena La-Nina ini turut berdampak pada meningkatnya curah hujan di wilayah Indonesia yang mencapai 20-70 persen di atas normal sehingga menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan badai tropis. Wapres mengatakan, BMKG juga telah memperingatkan kemungkinan terjadinya curah hujan yang jauh lebih tinggi selama November 2021 hingga Januari 2022. 

"Lakukanlah perencanaan mitigasi dengan lebih baik mengingat peringatan dari BMKG telah diberikan jauh sebelumnya," kata Ma’ruf melalui siaran pers, Jumat (12/11).

Saat ini, cuaca ekstrem yang terjadi di Indonesia menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah daerah. Lokasi dan titik banjir pun bergantian setiap pekannya. 

Banjir yang terjadi di Kecamatan Batu Mandi, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, pada Kamis (11/11), menyebabkan 242 keluarga atau 721 jiwa terdampak hingga kemarin. 

Banjir di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, terjadi sejak Rabu (10/11). Hingga kemarin, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Katingan mencatat lokasi terdampak banjir meliputi tujuh kecamatan.

“Kecamatan Katingan Hulu, Kecamatan Marikit, Kecamatan, Kecamatan Sanaman Mantikei, Kecamatan Katingan Tengah, Kecamatan Pulau Malan, Kecamatan Tewang Sangalang Garing dan Kecamatan Katingan Hilir," ujar Plt Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari.

Di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), dua desa, yakni Desa Sekotong Tengah, dan Desa Persiapan Pengantap, terendam air. Banjir juga menyebabkan sebuah jembatan putus.

Kapolsek Sekotong, Polres Lombok Barat, Iptu I Kadek Sumerta, mengatakan banjir terjadi akibat tingginya curah hujan yang terjadi sejak Kamis (11/11) hingga Jumat. "Curah hujan yang tinggi menyebabkan debit air yang turun dari atas perbukitan cukup besar sehingga menyebabkan air sungai yang ada meluap," katanya.

Peristiwa jembatan putus juga terjadi di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, pada Senin (8/11), sekitar pukul 09.00 WIB. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi tanah longsor mengakibatkan tiga jembatan putus dan sejumlah rumah warga rusak.

Hingga kemarin, terdapat 21 rumah warga rusak. Material longsor terdapat di daerah aliran sungai (DAS) Peusangan dan 10 titik longsoran lain di kabupaten ini. 

Muhari menjelaskan. peristiwa tanah longsor terjadi setelah hujan berintensitas tinggi. "Pihak BPBD setempat masih melakukan proses pendataan di lokasi terdampak yang berada di Jalan Kampung  Blang Paku," kata dia. 

photo
Foto aerial rumah warga yang terendam air luapan Danau Limboto di Desa Buhu, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Jumat (12/11/2021). Pemkab Gorontalo mendirikan empat tenda pengungsian korban banjir yang dihuni oleh 370 jiwa di Desa Buhu dan 142 jiwa di Desa Hutadaa. - (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat mencatat selama dua pekan terakhir ada 57 titik banjir yang terjadi di wilayah Jabar selama musim penghujan.

"Update per 12 November 2021, itu ada 57 titik banjir atau 57 kejadian bencana di Jawa Barat," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar Dani Ramdan pada acara Jabar Punya Informasi (Japri) di Bandung, Jumat (12/11).

Menurut Dani, saat ini wilayah Jawa Barat belum memasuki puncak musim penghujan dan diprediksi puncak musim penghujan di Jawa Barat akan terjadi pada Januari hingga Februari 2022.

"Artinya kewaspadaan (bencana alam) harus kita tingkatkan. Namun jika dilihat dari bulan sebelumnya ini memang ada peningkatan cukup signifikan dari jumlah kejadian banjir dan longsor sejak Oktober dan November ini," katanya.

Dani mengatakan, sesuai dengan instruksi Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil yang meminta BPBD untuk siaga satu menghadapi potensi bencana alam di musim penghujan ini pihaknya telah menyiapkan sejumlah antisipasi.

photo
Warga melihat kondisi kendaraan dan bangunan yang rusak akibat banjir bandang di Desa Panyadap, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, Kamis (11/11/2021). Sebanyak dua rumah rusak berat, dua rumah rusak ringan dan ratusan jiwa di desa tersebut terdampak banjir bandang akibat jebolnya tanggul Sungai Cisunggalah aliran Sungai Citarum yang terjadi pada Rabu (10/11). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Salah satunya, kata Dani, BPBD Jawa Barat telah mendirikan posko tanggap darurat di sejumlah daerah yang rawan terjadi bencana alam. "Sesuai instruksi Pak Gubernur Jabar yang meminta kami siaga satu. Maka hal ini ditandai dengan aktivitas pokso-posko tanggap darurat," katanya.

Menurut Dani, ada sejumlah kabupaten/kota di Jawa Barat yang masuk dalam daerah rawan bencana alam di musim penghujan ini. Daerah rawan bencana alam di Jabar yang pertama, adalah Kabupaten Cianjur. Kemudian, Garut disusul oleh Sukabumi dan Kabupaten Bogor.

"Kemudian di utara (Jabar) itu ada Karawang, Cirebon, Indramayu," katanya. Khusus di daerah yang rawan longsor, kata Dani, BPBD Jawa Barat juga telah menyiagakan alat berat di UPDT terdekat.

"Kami siapkan alat berat di UPDT bukan di kantor dinas karena ini untuk lebih mendekatkan jika terjadi bencana alam di lokasi tersebut," katanya.


×