Santri mengibarkan bendera Merah Putih dan Nahdlatul Ulama saat mengikuti kirab santri di Desa Ciwulan, Telagasari, Karawang, Jawa Barat, Senin (25/10/2021). | ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

Opini

12 Nov 2021, 03:45 WIB

NU, Petani, dan Lumbung Pangan Nasional

Keberpihakan NU pada petani sangat dibutuhkan dalam membangun pertanian yang inovatif, mandiri dan modern.

HADI M MUSA SAID, Ketua Bidang Pertanian PP GP Ansor

Petani adalah penolong negeri. Begitulah ungkapan sederhana dari pendiri NU Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'Ari. Ungkapan ini mempunyai makna dalam dan penuh tanggung jawab untuk generasi mendatang.

Ungkapan itu harus dimaknai sebagai bentuk keberlanjutan dalam memajukan pertanian di Tanah Air. NU sebagai jam'iyah, mempunyai tanggung jawab besar melanjutkan perjuangan tersebut bagi rakyat Indonesia dan warga NU, khususnya.

Keberpihakan NU pada petani sangat dibutuhkan dalam membangun pertanian yang inovatif, mandiri dan modern. Indonesia negara agraris yang menghasilkan banyak hasil bumi. Namun, jumlah petani belakangan ini terus menurun.

Penyebabnya, makin berkurangnya lahan pertanian akibat pembangunan tak merata. Setiap tahun, jumlah petani berkurang. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2020 jumlah petani 33,4 juta orang. Padahal pada 2019, jumlahnya 34,58 juta orang.

 
Keberpihakan NU pada petani sangat dibutuhkan dalam membangun pertanian yang inovatif, mandiri dan modern.
 
 

Pada 2018, jumlahnya mencapai 35,70 juta orang. Gambaran tersebut menunjukkan, ini masalah serius. Pemerintah harus segera turun tangan mengatasi masalah ini.

Berkaitan dengan ini, NU yang banyak berkecimpung di wilayah perdesaan, banyak bersentuhan langsung dengan petani. Bahkan, sebagian besar warga NU petani. Ini artinya NU mempunyai peran sentral membantu petani meningkatkan kesejahteraan mereka.

Penghasilan para petani saat ini sangat minim. Ini disebabkan terus menurunnya harga hasil pertanian. Belum lagi masuknya sejumlah produk impor di bidang pertanian. Karenanya, jika tidak segera dibantu, lambat laun makin sedikit masyarakat yang menjadi petani.

Saat ini sangat kentara, sedikit sekali generasi muda yang mau terjun menjadi petani. Lulusan perguruan tinggi bahkan dari jurusan pertanian sekalipun, enggan menjadi petani, lebih senang bekerja di kota atau menjadi pegawai, yang dianggap lebih menjanjikan.

 
Padahal, petani ringan saja harapannya, yakni akses permodalan mudah, harga produk pertanian yang menguntungkan, dan pupuk mudah didapat.
 
 

Persoalan klasik lain, sulitnya petani mendapatkan akses permodalan ke bank. Urusan administrasi yang njlimet dan dan tetek bengek lainnya membuat petani enggan mengurusi.

Belum lagi soal harga tak stabil. Petani lebih banyak menjadi korban ketimbang pemain. Mereka lebih banyak diperdaya bukan diberdayakan. Tengkulak bagai hantu yang membuat khawatir petani. Mereka selalu menakut-nakuti para petani.

Padahal, petani ringan saja harapannya, yakni akses permodalan mudah, harga produk pertanian yang menguntungkan, dan pupuk mudah didapat.

Selama ini, akses modal yang menyiapkan tengkulak, pupuk sulit saat musim tanam, giliran panen mereka sulit menjual dengan harga yang baik. Akibatnya, hasil pertanian dijual dengan harga murah.

Petani milenial

Program petani milenial, sejalan dengan yang disampaikan Presiden Jokowi yang mangajak pemuda tak malu menjadi petani. "Saya berharap keberadaan forum petani organik muda saat ini dapat mengajak lebih banyak lagi anak-anak muda untuk kembali bertani, tidak perlu malu, tidak gengsi.” (30/10/20).

Presiden menuturkan, Indonesia memiliki potensi pengembangan pertanian organik melalui sejumlah inovasi, yang mencakup seluruh proses industri pertanian, mulai dari penanaman, pemeliharaan, pengolahan, banding, pengemasan, hingga pemasaran.

Sementara Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian mencatat, petani muda di Indonesia berusia 20-39 tahun berjumlah 2,7 juta orang atau sekitar 8 persen dari total petani Indonesia yang berjumlah 33,4 juta orang.

Sektor pertanian yang memiliki peluang besar dalam perekonomian dan pembangunan nasional ini masih sering dianggap kurang menguntungkan terutama oleh para orang tua dan generasi muda saat ini.

Banyak orang tua yang lebih mendukung anak-anak mereka untuk bekerja di sektor lain. BPS mencatat bahwa mayoritas kelompok rumah tangga miskin menurut sumber penghasilan utama berasal dari kelompok pertanian.

 
Semoga, Muktamar ke-34 NU di Lampung, menghasilkan satu rekomendasi khusus bidang pertanian yang bertujuan menjadikan petani makin sejahtera. 
 
 

BPPSDMP mencatat, 74 persen petani di Indoneaia adalah lulusan SD dan tidak SD, bahkan tidak bersekolah. Padahal ada 200 lebih perguruan tinggi yang menghasilkan sarjana pertanian setiap tahunya.

Namun, mayoritas dari mereka memilih sektor lain karena stereotype yang cenderung meremehkan profesi petani. Ini harus diubah. Dulu petani miskin, sekarang bisa kaya dan menguntungkan, dengan memanfaatkan teknologi yang tepat guna dan murah.

Seperti yang lakukan anak-anak muda Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang menciptakan alat perontok padi dengan inovasi sederhana namun sangat membantu petani saat musim panen.

Pada musim tanam, saat kemarau alat itu juga bisa digunakan membantu menyiram dan mengalirkan air ke sawah. Ini hanya contoh kecil. Di sinilah NU dituntut menjadi jembatan kebijakan antara petani dan negara, dalam memajukan pertanian di Indonesia.

Semoga, Muktamar ke-34 NU di Lampung, menghasilkan satu rekomendasi khusus bidang pertanian yang bertujuan menjadikan petani makin sejahtera. 


×