ILUSTRASI Gambar kaligrafi Nabi Muhammad SAW. Biografi tentang Rasulullah SAW disebut sebagai Sirah Nabawiyah. | dok piqsels

Kitab

10 Nov 2021, 08:06 WIB

Teladan Rasulullah: Jangan Lelah Bersikap Positif

Bersikap positif seperti yang dilakukan Rasulullah menjadi semakin urgen di masa sekarang ini

MUHAMMAD ABDUL AZIZPostgraduate Student Institute of Knowledge Integration (IKI) Georgia dan Anggota Sahabat Pena Kita (SPK). Menulis lebih dari 12 buku antologi

 

Rasulullah Saw, pada tahun 1978, ditahbiskan oleh Michael H. Hart dalam karyanya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History sebagai figur pemimpin paling sukses dalam sejarah kemanusiaan. Di antara ajaran kesuksesan tersebut adalah agar seseorang itu selalu bersikap positif terhadap segala yang menimpa dirinya. Baik nikmat atau pun cobaan.

Bersikap positif tersebut menjadi semakin urgen di masa sekarang ini, ketika kita mulai membiasakan diri hidup di era normal baru (new normal), yaitu ketika manusia di hampir seluruh dunia dipaksa hidup berdampingan dengan Covid-19. Bekerja dari rumah, memakai masker, dan menjaga jarak sosial tentu menimbulkan rasa bosan. Apalagi ketika kasus Covid-19 tiba-tiba naik. Tentu timbul rasa panik.

Buku ini, Kitab Kehidupan: Minum Kopimu, Baca Dirimu; Temukan Fitrahmu, Hayati Hidup Baru lahir di waktu yang tepat. Berangkat dari sekian fragmen kehidupan yang dialaminya, Much Khoiri, sang penulis, menawarkan cermin baru sekaligus memberikan contoh bagaimana berdamai dengan segala kebosanan, kesedihan, dan kepanikan di atas.

Untuk mampu berdamai dengan segala penderitaan tersebut, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah merubah cara pandang (worldview). Bahwa segala apa yang terjadi di dunia ini, baik kegembiraan maupun penderitaan, tidak lain adalah cobaan belaka. Lantaran itu, seorang Muslim yang baik tidak akan pernah kehilangan akal untuk selalu bersikap positif dan memetik hikmah dalam setiap fragmen kehidupan yang dialaminya. 

Perubahan cara pandang ini dicontohkan oleh Khoiri dalam artikel pertama yang merupakan gagasan utama buku ini. Berjudul Dunia ini Madrasah, Penulis menyadarkan bahwa “kita [manusia adalah] penduduk langit yang mengembara dan hadir ke dunia untuk bersekolah. Itulah yang diteladankan oleh Adam As dan Hawa Ra beserta penerusnya untuk sekian generasi.” (hal. 4)

Pengembaraan untuk bersekolah yang dikemukakan Penulis ini senada dengan konsep yang disebutkan dalam al-Qur’an bahwa dunia ini sesungguhnya adalah fitnah (al-Ankabut 3), yaitu ujian untuk kemudian darinya ditentukan ayyukum ahsanu amalan (al-Mulk 2), yakni siapa yang paling terbaik amalnya. Karena menyadari bahwa suka dan duka adalah satu paket kehidupan, maka orang yang terbaik akan selalu bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika mengalami musibah. 

photo
Kover buku kitab kehidupan - (kitab kehidupan yang mengajarkan orang berpik)

Sang Penulis kembali lagi mencontohkan pelajaran memetik hikmah tersebut melalui satu peristiwa pada 1993. Tepatnya ketika dalam perjalanan pulang dari Amerika Serikat setelah mengikuti Iowa International Writing Program. Lantaran badai musim dingin, badan pesawat yang ditumpanginya bergoncang sangat keras. Setiap penumpang lain memegang handel seat. Tangis, jeritan, dan kepanikan luar biasa menyelimuti setiap orang. Tentu Khoiri takut juga, tapi ia lebih memilih untuk berdoa tanpa jeda sedikit jua. Andaikan mati juga, ia berdoa agar istri, anak, dan seluruh keluarganya diberikan kekuatan lahir batin.

Pesawat pada akhirnya mampu melakukan pendaratan darurat. Ketika ia kemudian pada esok harinya menjumpai pesawat yang sama, baru disadarinya bahwa doa itulah yang sangat boleh jadi menyelamatkannya. Pangkal kiri sayap pesawat itu rusak cukup serius. “Diam-diam saya bersyukur, karena masih diselamatkan Allah Swt dari bencana patahnya sayap itu. Tanpa pertolongan-Nya, saya mungkin sudah menjadi abu.” (hal. 120)

Yang tidak kalah menariknya adalah pengalaman di masa pandemi. Dalam artikel berjudul Titik Balik Menuju Cahaya, ia mengaku mengalami gejala Covid-19 terutama sesak nafas dan kehilangan indra penciuman. Akibat sesak nafas itu, ia mengaku tidak jarang tidur dalam posisi setengah duduk. Sebab, jika terlentang, dadanya terasa makin sesak. 

“Tatkala saya dalam kondisi drop, termasuk sesak nafas, saya tak jarang membayangkan kematian. Astagfirullah, Ya Allah, betapa banyak dosa dan kesalahan saya selama hidup ini, baik dosa kepada-Nya maupun dosa kepada sesama manusia dan lingkungan sekitar. Saya sangat kotor, dan belum pantas untuk kembali kepada-Mu.” (hal. 162) Namun, karena tetap sabar berusaha dan bersikap positif terhadap cobaan dan penderitaan ini, maka Khoiri akhirnya kembali ‘menuju cahaya’. Ia sehat sebagaimana sedia kala. 

Buku yang pada mulanya merupakan kumpulan artikel Penulis di berbagai media massa ini terbagi ke dalam tiga bab; Menghayati Ilmu dengan Amal, Belajar Memetik Hikmah, dan Jalan Menuju Cahaya. Melihat kedekatan dan kegemarna penulisnya dengan literatur-literatur keagamaan, tidak mengherankan jika sebanyak 39 artikel di dalamnya diklasifikasikan dengan sangat koheren. 

Artinya, hikmah lahir sebagai hasil dari proses pengamalan dan penghayatan ilmu yang didapatkan. Jika ilmu, amal, dan hikmah itu bersatu, maka seseorang tersebut akan mampu menuju stasiun ‘cahaya’; mengenal Allah Swt (ma’rifatullah). Hal terakhir inilah yang disebut oleh banyak sarjana sebagai tujuan pensyariatan Islam (maqasid al-shari’ah).

Sampul buku ini didesain cukup filosofis. Latar belakang gelap dengan pintu kecil menuju sebuah area hijau merefleksikan perjalanan mencari cahaya ilahi, satu fenomena yang hampir dapat dikatakan terjadi pada hampir setiap Muslim. Warna hijau itu sendiri, yang merupakan warna favorit Rasulullah Saw, adalah simbol ketenangan, sikap positif, dan berdamai dengan segala penderitaan dan cobaan.

Kata Pengantar yang diberikan oleh Prof Muhammad Chirzin, Guru Besar bidang Tafsir UIN Sunan Kalijaga, menegaskan kualitas dan arti penting buku ini untuk bisa dinikmati masyarakat Indonesia. “Tiap hari adalah hari baru bagi orang yang berfikiran tajam.”

Masuk lebih dalam, akan kita temukan beberapa ilustrasi menarik. Setiap artikel dilengkapi dengan kutipan berwarna di bagian awal, tengah, dan akhir sehingga memudahkan pembaca menemukan gagasan utama. Menariknya lagi, buku ini juga sudah tersedia di Apple Books. Bagaimana pun juga, buku ini lebih cocok untuk pembaca umum. Referensi yang terbatas menjadikan buku ini kurang representatif bagi para spesialis Studi Islam. 

Buku ini ibarat kitab kehidupan bagi mereka yang senantiasa memperbarui niat, semangat, dan cara bagaimana mengarungi kehidupan sehari-hari. Semangat pembaruan ini terjadi bagi mereka yang mampu menemukan esensi primordial (fitrah) dalam diri mereka masing-masing. Kitab dengan pandangan baru seperti ini, sekali lagi, tentu sangat penting untuk dibaca terlebih di era normal baru yang sedang kita hadapi sekarang ini. Selamat Membaca!

 

• Judul Buku: Kitab Kehidupan: Minum Kopimu, Baca Dirimu; Temukan Fitrahmu, Hayati Hidup Baru

• Penulis: Much. Khoiri

• Penerbit: Genta Hidayah, Sidoarjo

• Jumlah Halaman: 208 halaman

• Tahun Terbit: 2021

• Cetakan: Pertama, Mei 2021.

• ISBN: 978-623-235-199-9

 


×