Film Paranoia | Youtube

Geni

09 Nov 2021, 09:20 WIB

Paranoia dan Imajinasi Tinggi Para Pemain

Paranoia adalah salah satu film Indonesia yang menerima dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

OLEH GUMANTI AWALIYAH 

Nuansa ketegangan sangat terasa dalam film terbaru Miles Films, Paranoia. Film yang dibintangi oleh Nirina Zubir, Lukman Sardi, Nicholas Saputra, dan Caitlyn North Lewis ini secara umum ingin menangkap kegelisahan semua orang ketika pandemi Covid-19.

"Ini tuh seperti menggambarkan paranoia diri kita, bahwa film ini berusaha menjadi bagian dari kegelisahan semua selama pandemi, apalagi ketika para napi diberi remisi, begitu," kata sutradara Paranoia, Riri Riza, dalam konferensi pers di Epicentrum XXI, Kamis (4/11).

Film bergenre thriller pertama Miles Films ini akan tayang mulai 11 November di bioskop. Paranoia menceritakan tentang pelarian Dina (Nirina Zubir) dan anaknya Laura (Caitlyn North Lewis) dari Gion (Lukman Sardi), ayah sekaligus suami yang merupakan pelaku kriminal dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Dina diburu oleh Gion karena selain lari bersama anak mereka, dia juga membawa sebuah barang berharga. Dalam persembunyiannya, seorang pria asing bernama Raka (Nicholas Saputra) muncul dan mengusik hubungan Dina dan Laura. Situasi menjadi bertambah sulit dan ancaman semakin mendekat.

Ketegangan yang mencekam dibangun melalui penyutradaraan yang terampil dan dukungan akting yang berkelas dari pemerannya. Ditambah lagi scoring musik yang akan membawa penonton terbawa dalam ketegangan cerita sampai akhir. 

Meski menjadi karya thriller pertama Miles Film, Paranoia langsung masuk dalam nominasi Piala Citra untuk kategori Film Panjang Terbaik FFI 2021. Produksi sinama tersebut dimulai pada November 2020, dengan lokasi syuting yang terbatas. Bali dipilih oleh Riri dan Mira Lesmana (selaku produser) sebagai lokasi syuting karena sesuai dengan cerita dan masuk zona hijau.

"Jadi, waktu masa PSBB dulu, Bali khususnya area yang kami pilih untuk syuting, masuk zona hijau," kata Mira.

Untuk memastikan proses syuting berjalan dengan aman, Mira juga berkonsultasi dengan epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono. Sementara Riri, mencoba mengimprovisasi pengambilan gambar pada setiap adegan agar tidak seperti di lokasi yang sama.

“Daerah syuting yang kami pakai itu kira-kira 12 kilometer, segitu untuk semua adegan. Jadi, saya dan tim harus putar otak dalam pengambilan gambar dan angle kameranya,” kata Riri.

Berbicara soal perilisan, Mira berharap film Paranoia bisa disambut hangat oleh para pencinta film Indonesia. Dia juga mengajak para pencinta film untuk mau kembali kembali ke bioskop. "Kami harus sampaikan ke penonton kalau bioskop sudah aman, dan mari kita sama-sama bangkitkan kembali perfilman Indonesia," ujarnya.

Para pemeran utama, seperti Nirina, Nicholas, dan Lukman sama-sama merasa tertantang bermain dalam film Paranoia karena mereka harus memerankan karakter yang tidak biasa. Nirina, misalnya, dia berperan sebagai Dina yang merupakan ibu sekaligus istri korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Ini memang jadi salah satu pilihan mengapa aku menerima tawaran memerankan Dina. Udah kayak wow, menantang sekali," ujar Nirina.

Alasannya, selain belum pernah mempunyai pengalaman menjadi korban KDRT, dia  harus memperkaya riset dan diskusi, khususnya dengan Riri selaku sutradara. Nirina juga berupaya menggunakan imajinasi tingginya untuk memahami apa yang dirasakan oleh para korban KDRT.

Seneng banget karena bisa diskusi dua arah sama Mas Riri karena memang KDRT itu sangat kompleks, sangat penuh dengan diskusi," kata Nirina.

Tidak hanya dengan sutradara, Nirina juga berusaha membangun diskusi dan chemistry dengan Lukman Sardi yang berperan sebagai Gion, suami karakter Dina. Menurut dia, itu penting dilakukan agar bisa totalitas dalam berakting.

Untuk beberapa adegan yang agak kasar, Lukman sampai meminta maaf kepada Nirina sebelum bermain. “Aku bilang sikat aja, Mas. Enggak usah ragu-ragu, biar total dan senyata mungkin," kata Nirina.

Begitu pun dengan Nicholas yang harus berusaha lebih keras agar bisa mendalami karakter Raka sebab tidak pernah punya pengalaman yang sama. Raka memiliki masa lalu kelam di mana dia bercerai dan anaknya meninggal dalam kecelakaan. Kepedihan itu terus-menerus menghantui hidupnya sehingga dia terus hidup dalam pelarian dan persembunyian.

 
Ini tantangan banget karena kebetulan saya sendiri belum menikah, apalagi punya anak. Jadi, enggak tahu gimana rasa sedihnya.
 
 

"Ini tantangan banget karena kebetulan saya sendiri belum menikah, apalagi punya anak. Jadi, enggak tahu gimana rasa sedihnya," ujar Nicho.

Untuk mendalami karakter tersebut, pada akhirnya dia mencoba membangun imajinasi. Dia juga memperkaya riset dan diskusi dengan sutradara. Dia harus bisa menggambarkan bagaimana kegelisahan Raka, ketika hilang arah, ditambah kondisi pandemi. “Makanya, saya pakai imajinasi dan diskusi untuk menghayati karakter Raka," kata Nicho.

Hal serupa dilakukan Lukman Sardi. Dia harus berakting sebagai pelaku KDRT, padahal sekali pun dia tidak pernah melakukan tindakan itu terhadap istrinya. "Jadi, memang saya juga berusaha untuk memakai imajinasi dan riset untuk bisa total memerankan si Gion,” ujar dia. 

Sajian sinematik yang disuguhkan oleh film Paranoia membuktikan bahwa Miles Films terus konsisten dalam membuat film berkualitas. Hal ini pun dibuktikan dengan raihan empat nominasi Piala Citra pada Festival Film Indonesia 2021, yakni Film Terbaik, Sutradara Terbaik untuk Riri Riza, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Nirina Zubir, dan Penata Suara Terbaik untuk Aria Prayogi dan Arief BudiSantoso.

Paranoia adalah salah satu film Indonesia yang menerima dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Bidang Perfilman untuk skema promosi film melalui Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Film ini juga telah terlebih dahulu tayang di 25th Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) 2021, Korea Selatan, dan juga terpilih untuk berkompetisi di Spanyol untuk Asian Film Festival Barcelona 2021.


×