Ilustrasi imam masjid berkumpul setelah mendirikan shalat. | ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie

Khazanah

02 Nov 2021, 10:36 WIB

Kemenag Kembali Berangkatkan Imam ke UEA

Imam yang diberangkatkan Kemenag akan bertugas di masjid-masjid yang tersebar di sejumlah wilayah UEA.

JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Uni Emirat Arab mengirimkan sejumlah imam untuk berdakwah di masjid-masjid negara Teluk tersebut. Sebanyak 15 orang dari rombongan pertama telah diberangkatkan dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, dengan penerbangan maskapai Ettihad nomor EY 475, Sabtu (30/10) malam.

Pada Ahad (31/10), mereka sudah berada di kantor KBRI Abu Dhabi untuk mendapatkan arahan dari duta besar (dubes) setempat. Menurut Dubes RI untuk Uni Emirat Arab (UEA) Husin Bagis, para imam itu akan bertugas di masjid-masjid yang tersebar di sejumlah wilayah, semisal al-Ain, Dhafra, Fujairah, dan Ras al-Khaimah.

Mereka adalah kelompok pertama dari total 28 orang imam yang lulus seleksi pada Maret 2021 lalu di Jakarta. Penjaringan itu dilakukan Kemenag dengan Otoritas Umum Urusan Islam dan Wakaf UEA. 

Husin mengatakan, sebanyak delapan imam akan menyusul dan dijadwalkan tiba di UEA pada pertengahan November 2021. Adapun lima orang lainnya tidak jadi berangkat dengan perincian tiga orang tidak lolos pengecekan medis (medical check-up), satu orang mengundurkan diri, dan seorang sisanya meninggal dunia.

“Alhamdulillah, kami senang program pengiriman imam asal Indonesia terus berlanjut. Kerja sama pengiriman imam merupakan bukti lain dari kedekatan kedua negara, yang tidak hanya terfokus pada kerja sama ekonomi,” ujar Husin Bagis dalam keterangan tertulis yang diterima Republika di Jakarta, Senin (1/11). 

Ia menambahkan, RI dan UEA terus berkomitmen untuk lebih mempromosikan pandangan serta pemahaman keislaman yang moderat. Pengiriman imam masjid dari Indonesia ke negara Arab itu adalah salah satu wujud iktikad demikian. Selain itu, program tersebut dinilai semakin memperkuat persahabatan kedua negara. Para imam Indonesia dan warga UEA akan saling belajar dan berbagi pengalaman masing-masing untuk merawat wasathiyah Islam.

“Para Imam asal Indonesia dapat belajar bagaimana Islam dijalankan di UEA dengan penuh toleransi dan berkontribusi pada penciptaan perdamaian di masyarakat, tanpa menimbulkan gesekan-gesekan. Saat nanti kembali ke Indonesia, mereka bisa menerapkan dan mempromosikan hal yang sama,” katanya menjelaskan.

KBRI Abu Dhabi dan Kemenag RI akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait di UEA untuk menyelenggarakan seleksi berikutnya. Penjaringan yang teranyar pada Oktober 2021 telah menyeleksi sebanyak 89 orang kandidat.

Dari jumlah itu, sebanyak 23 orang imam terpilih. Saat ini, proses penerbitan persetujuan masih dilakukan otoritas terkait di UEA. Menurut Husin, mereka kemungkinan dapat segera diberangkatkan ke negara ini pada Desember 2021.

Pengiriman imam asal Indonesia ke UEA merupakan implementasi dari kesepakatan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Putra Mahkota Abu Dhabi, Syekh Mohamed bin Zayed al-Nahyan. Kedua pemimpin sepakat untuk mengadakan program itu hingga akhir tahun 2022. Menurut target yang ada, sebanyak 200 imam asal Indonesia dapat bertugas di negara monarki tersebut. 

Pada Rabu (3/11), Presiden Jokowi juga dijadwalkan akan kembali bertemu dengan Syekh Mohamed bin Zayed di Abu Dhabi. Keduanya akan menghadiri perayaan Indonesia National Day and Cultural Performances di ajang Expo 2020 Dubai.


×