Awalnya, bangunan Masjid Cut Meutia ini merupakan kantor perusahaan pada zaman kolonial. | Thoudy Badai/Republika

Arsitektur

31 Oct 2021, 14:45 WIB

Masjid Cut Meutia, Dari Kantor Kolonial Hingga Rumah Ibadah

Awalnya, bangunan masjid ini merupakan kantor perusahaan pada zaman kolonial.

OLEH HASANUL RIZQA

 

Berbagai bangunan cagar budaya berdiri tegak hingga saat ini di DKI Jakarta. Salah satunya ialah Masjid Cut Meutia. Berlokasi di Jakarta Pusat, masjid yang didominasi warna putih itu tidak sekadar tempat ibadah kaum Muslimin, tetapi juga sebuah peninggalan dari zaman penjajahan kolonial Belanda.

Alhasil, nuansa masa lalu sangat terasa di sana. Masjid bertingkat tiga itu memiliki sejarah yang cukup panjang. Pendirian awalnya bukanlah sebagai tempat shalat, melainkan kantor sebuah perusahaan.

Tercatat, masjid ini dulunya adalah bangunan kantor biro arsitek sekaligus pengembang, yakni Naamloze vennootschap (NV, semacam perseroan terbatas) De Bouwploeg Pieter Adriaan Jacobus Moojen (1879-1955). Perusahaan inilah yang membangun wilayah Gondangdia di Menteng.

Sebelum menjadi sebuah masjid, bangunan ini pernah digunakan untuk berbagai macam fungsi. Pada masa Hindia Belanda, tempat itu sempat dimanfaatkan tidak hanya sebagai markas perusahaan jasa arsitek, tetapi juga kantor pos pemerintah dan jawatan kereta api.

Seperti dinukil dari buku Maria van Engels karya Alwi Shahab, Gedung De Bouwploeg yang merupakan cikal bakal bangunan Masjid Cut Meutia berada di sebuah kompleks kenamaan di Batavia—Jakarta tempo dulu. Dahulu, di seberang bangunan ini terdapat sebuah monumen yang dibangun demi mengenang “keberhasilan” Jenderal van Heutz dalam menaklukkan Aceh.

Jatuhnya Bumi Serambi Makkah berarti suksesnya rezim kolonial Belanda menyatukan Nusantara. Di kemudian hari, para pejuang nasionalis meruntuhkan patung tersebut.

photo
Masjid Cut Meutia, dari kantor kolonial hingga menjadi rumah ibadah - (Thoudy Badai/Republika)

Memasuki era pendudukan Jepang (1942-1945), bangunan yang kini Masjid Cut Meutia itu “disulap” menjadi kantor satuan polisi militer (kempeitai) Angkatan Laut Dai Nippon. Sesudah Indonesia merdeka, pemerintah mengubah kegunaan bangunan yang berdiri sejak abad ke-19 itu.

Pertama-tama, fungsinya ialah kantor Kementerian Urusan Perumahan. Sejak 1964, ia menjadi kantor Kementerian Urusan Agama. Sebelum Bung Karno lengser, tempat itu sempat dijadikan sebagai gedung sekretariat Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Saat Jakarta dipimpin Gubernur Ali Sadikin, peruntukan bangunan tersebut berubah drastis. Sejak tahun 1987, fungsinya ialah masjid untuk tingkat provinsi. Status itu dikukuhkan melalui surat keputusan gubernur DKI Jakarta Nomor 5184/1987 tertanggal 18 Agustus 1987.

photo
Interior Masjid Cut Meutia - (Thoudy Badai/Republika)

Sebagai tempat ibadah Muslimin, namanya semula ialah Masjid al-Jihad. Seiring waktu, masyarakat lebih sering menyebutnya Masjid Cut Meutia. Barangkali, hal itu lantaran lokasinya yang terletak di Jalan Cut Meutia.

Tidak hanya dari pemerintah kota setempat, ada banyak pula tokoh masyarakat yang turut berjasa menjadikan bangunan bekas era kolonial itu sebuah masjid. Di antaranya ialah para eksponen Angkatan 66.

Begitulah riwayat bangunan bergaya arsitektur art nouveau tersebut. Yang tersisa dari nama awalnya—NV Bouwploeg—bukan hanya catatan sejarah. Sebab, pasar tradisional yang berada tak jauh dari Masjid Cut Meutia dinamakan Pasar Boplo—pelafalan lokal untuk bouwploeg. Letaknya tepat di sisi barat stasiun kereta api Gondangdia.

Sebagai bangunan cagar budaya, penampilan asli Masjid Cut Meutia terus terlindungi dan terjaga. Salah satu masjid tertua se-Ibu Kota itu terbilang unik. Sebab, tidak ada kubah yang menghiasi bagian atapnya. Malahan, nuansa Eropa Barat amat kental terasa.

photo
Tiang-tiang dan lampu menghiasi ruang utama Masjid Cut Meutia. - (Thoudy Badai/Republika)

Pengunjung akan mendapati pilar-pilar besar pada setiap sisi bagian muka Masjid Cut Meutia. Begitu memasuki ruangan utama, hawa sejuk terpancar. Sirkulasi udara terbilang baik karena didukung letak langit-langit yang cukup tinggi. Ada sebanyak 50 jendela dan 16 buah pintu yang tersebar di seluruh bangunan masjid ini.

Peletakan sajadah atau permadani di sana tidak simetris dengan sisi-sisi tembok. Hal itu wajar kiranya. Sebab, sejak awal bangunan ini tidak dimaksudkan sebagai sebuah masjid sehingga tidak menghadap ke arah kiblat.

Ruangan utama secara garis besar terbagi menjadi tiga, yakni area shalat jamaah laki-laki, area jamaah perempuan, serta kantor kesekretariatan dari pengurus masjid ini. Bila lantai dasar penuh, lantai dua yang berupa balkon dapat dipakai untuk jamaah. Tempat wudhu berada pada sisi samping belakang masjid tersebut.

photo
Salah satu sudut ruangan Masjid Cut Meutia. - (Thoudy Badai/Republika)

Berada di dekat kawasan perkantoran, Masjid Cut Meutia sangat strategis. Setiap waktu, rumah ibadah ini selalu ramai kecuali pada saat-saat pengetatan di tengah situasi pandemi Covid-19. Pada waktu normal, jamaah tidak hanya disuguhkan suasana tenang di dalamnya.

Hanya beberapa langkah dari bangunan cagar budaya tersebut, ada area tempat para penjaja makanan menawarkan sajiannya. Pengunjung pun dapat menikmati jajan di sana. Untuk pengguna moda transportasi umum, terdapat Stasiun Gondangdia sekira beberapa meter dari Masjid Cut Meutia.

photo
Salah satu sudut ruangan Masjid Cut Meutia. - (Thoudy Badai/Republika)

Karena berada di jantung Ibu Kota, masjid ini sering mendapatkan kunjungan dari tokoh-tokoh penting. Pada masa Orde Baru, misalnya, Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto beserta keluarga melakukan sujud syukur di sana usai berhaji tahun 1991.

Sejumlah konsulat atau duta besar negara-negara mayoritas Muslim juga kerap mendirikan ibadah di Masjid Cut Meutia. Karena itu, tidak mengherankan bila di dalam kotak amal kerap ditemukan mata uang asing.


×