Sammy Muhammad FM terkesan dengan ajaran Islam tentang taharah, sebagaimana tampak dari ibadah wudhu. | DOK IST

Oase

31 Oct 2021, 10:26 WIB

Sammy Muhammad FM, Terkesan Ibadah Wudhu

Mualaf ini memandang Islam sangat memperhatikan aspek kebersihan dan kesucian.

 

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

Menurut ajaran Islam, seorang Muslim harus dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar saat beribadah. Bahkan, agama ini juga mengajarkan pentingnya kebersihan. “Bersuci merupakan setengah dari iman,” begitu sabda Nabi Muhammad SAW.

Salah satu cara taharah ialah wudhu. Bagi umumnya orang Islam, berwudhu merupakan ibadah yang rutin, sekurang-kurangnya untuk mendirikan shalat lima waktu. Karena seringnya dilakukan, amalan tersebut barangkali dipandang biasa saja oleh sebagian Muslimin.

Akan tetapi, kesan demikian tidak berlaku bagi Sammy Muhammad Farid Massie. Mualaf yang kini berusia 54 tahun itu melihat wudhu sebagai salah satu tanda kesempurnaan dan keindahan agama Islam. Malahan, melalui ibadah itulah hidayah datang mengetuk hati dan pikirannya.

Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Cabang Jakarta Timur itu menuturkan kisahnya. Ia mengaku tumbuh besar di lingkungan yang majemuk. Sejak berusia anak-anak, dirinya terbiasa memiliki kawan dari banyak umat agama, termasuk Islam.

Banyak teman dekatnya yang Muslim. Karena itu, acap kali dirinya mengikuti kebiasaan mereka dalam beribadah. Umpamanya, setiap azan maghrib berkumandang. Begitu mendengar suara tersebut, para sahabatnya itu langsung pamit dari bermain dan bersiap ke masjid.

“Saya tinggal di lingkungan yang mayoritas Muslim. Begitu juga teman-teman sekolah dan di rumah—kebanyakan orang Islam. Jadi saya lebih sering bermain dengan mereka,” kata Sammy ketika berbincang dengan seorang pengurus PITI Pusat, Firdaus Sanusi, seperti dilansir Republika dari akun YouTube-nya, beberapa waktu lalu.

Pergaulannya dengan teman-teman yang beragama Islam membuatnya penasaran tentang ajaran Nabi Muhammad SAW. Terlebih lagi, beberapa sahabatnya yang Muslim menunjukkan sifat alim atau taat dalam menjalankan ibadah sehari-hari. Dari mereka, ia menangkap kesan tentang pentingnya agama dalam membentuk karakter seseorang.

Suasana keislaman kian terasa tatkala Ramadhan tiba. Waktu itu, Sammy cenderung tidak memahami kapan bulan tersebut berlangsung. Sebab, Ramadhan tidak seperti bulan-bulan dalam penanggalan Masehi, yang memang digunakan orang Indonesia dalam rutinitas.

Maka dari itu, Sammy menyadari datangnya Ramadhan ketika menyaksikan teman-temannya mulai berpuasa. Tentunya, lingkungan tempat tinggalnya pun lebih semarak, khususnya pada menjelang petang hingga malam hari. Banyak warga yang membuka stan di bazar dadakan, untuk menjual berbagai panganan iftar.

Meskipun tidak begitu memahami esensi puasa, Sammy kecil suka dengan nuansa Ramadhan. Kawan-kawannya yang Muslim menahan diri dari makan dan minum seharian. Bagaimanapun, tiap sore hari mereka dengan semangat yang sama mengisi waktu menjelang berbuka dengan bermain bersama. Istilahnya, ngabuburit.

 
Meskipun tidak begitu memahami esensi puasa, Sammy kecil suka dengan nuansa Ramadhan.
 
 

Saat sedang bermain, kira-kira setengah jam sebelum azan maghrib bergema, teman-temannya itu sudah undur diri. Mereka ingin siap-siap berbuka puasa, baik di rumah masing-masing maupun masjid terdekat. Sammy menyaksikan pemandangan itu dengan hati lapang. Ia merasa, ajaran Islam merekatkan orang-orang. Agama ini memiliki daya kohesi sosial yang tinggi.

Sammy kecil memiliki rasa keingintahuan yang besar. Akhirnya, ia diam-diam ikut beberapa ibadah khas Ramadhan, semisal berpuasa atau shalat tarawih berjamaah. Semua itu dilakukannya tanpa sepengetahuan keluarga, termasuk kedua orang tuanya. Kawan-kawannya yang Muslim sempat menganggapnya aneh atau lucu, tetapi kemudian tidak lagi mempertanyakannya.

Sammy terus menyimpan rasa penasaran terhadap Islam hingga dirinya beranjak dewasa. Saat di bangku kuliah, lelaki yang hobi membaca ini sempat dilanda keraguan. Ia merasa berkewajiban untuk menentukan posisi dirinya sebagai seorang yang beriman kepada Tuhan.

Dalam kehidupan religinya, ia hingga saat itu masih berstatus memeluk agama non-Islam. Akan tetapi, dirinya sudah terlanjur menyukai ibadah-ibadah Islam. Bahkan, beberapa amalan sudah dihafalnya.

Begitu lulus dari universitas tempatnya belajar, Sammy segera mendapatkan pekerjaan. Ia bersyukur karena dari segi finansial dirinya serba cukup. Malahan, sering kali penghasilannya melebihi kebutuhan.

Satu problem tetap menggayuti hatinya. Ia mengakui tertarik pada ajaran Islam, tetapi masih ragu-ragu untuk beralih iman ke agama tauhid. Padahal, pasti suatu saat dirinya akan membangun rumah tangga dan menjadi seorang kepala keluarga. Alhasil, keyakinan spiritual menjadi sangat penting tidak hanya untuknya pribadi, tetapi juga istri dan anak-anak.

Sammy memang sudah memikirkan untuk menikah. Allah berkehendak, lelaki ini mendapatkan jodoh yakni seorang Muslimah. Nama perempuan itu, Yeni Milasari. Keduanya bertemu pada tahun 1997.

Yeni mengetahui bahwa pria yang mencintainya itu adalah seorang non-Muslim. Namun, setelah mengenal lebih dekat, Yeni memahami adanya pergolakan batin dalam diri Sammy. Sebab, sejak kecil lelaki berdarah Tionghoa itu sudah menyimpan ketertarikan untuk memeluk Islam.

Maka, pertemuan mereka kadang kala diwarnai diskusi tentang agama ini. Dari Yeni, Sammy mendapatkan banyak ilmu baru tentang kisah-kisah Nabi SAW atau adab seorang Muslim. Pada suatu hari, teman wanitanya itu menerangkan tentang ibadah wudhu.

Secara lahiriah, wudhu sebenarnya sangat simpel. Namun, di balik kesederhanaan itu terkandung makna yang sangat dalam. Sammy melihat, amalan tersebut seperti hendak menyampaikan pesan universal tentang tunduknya manusia kepada Sang Maha Pencipta.

 
Betapa Islam sangat mengagungkan Tuhan, ketika hendak beribadah, berkomunikasi dengan Sang Pencipta, kita diwajibkan untuk membersihkan diri dengan bersuci.
 
 

“Betapa Islam sangat mengagungkan Tuhan, yakni Allah SWT. Karena ketika hendak beribadah, berkomunikasi dengan Sang Pencipta, kita diwajibkan untuk membersihkan diri dengan bersuci," ujar dia mengenang percakapannya saat itu.

Akhirnya, Sammy pun membulatkan tekadnya untuk berislam. Pada 1997, bertempat di Masjid Agung al-Azhar Jakarta, dirinya mengucapkan dua kalimat syahadat untuk pertama kali. Disaksikan jamaah dan dibimbing seorang ustaz, ia resmi berstatus Muslim sejak saat itu.

Sebelum menjadi mualaf, nama lengkapnya ialah Sammy Habel Nicholas Massie. Begitu berislam, dirinya memilih nama baru, yakni Sammy Muhammad Farid Massie. Dan, nama itu kini telah resmi tercantum pada kartu identitas penduduk.

photo
Sammy Muhammad FM (paling kanan) bersama keluarga. Sebagai seorang mualaf, Sammy mulai mengenal Islam sejak masih anak-anak. - (DOK IST)

Filosofi wudhu

Dari semua ibadah Islam yang telah diakrabinya sejak kecil, Sammy terkesima pada wudhu. Saat berwudhu, seseorang menyucikan anggota-anggota tubuhnya dengan air yang mengalir. Mulai dari tangan, wajah, sebagian rambut, hingga daun telinga dan kaki.

Menurut Sammy, amalan itu seperti menyimpan filosofi. Ia mengandaikan seorang pegawai yang hendak menemui atasan di kantor. Tentunya, si karyawan harus berpakaian rapi. Badannya pun semestinya segar dan wangi, sekurang-kurangnya dengan cara mandi sebelum berangkat kerja.

“Tentu seharusnya sebagai seorang hamba yang akan beribadah kepada Sang Pencipta, haruslah memerlukan persiapan yang lebih baik,” ucapnya.

Begitu juga saat kita beribadah shalat. Jika terjadi salah satu hal yang membatalkan wudhu, shalat yang sedang dilakukan pun otomatis batal juga. Sammy mengaku mengambil hikmah dari ajaran ini; bagaimana penghambaan diri seorang insan terhadap Tuhan sangat penting. Tak hanya khusyuk saat sedang beribadah. Bahkan, persiapan sebelum melakukan ibadah itu pun harus benar-benar diperhatikan.

Pada 1999, Sammy menikah dengan Yeni. Antara tahun keislaman dan pernikahannya itu, ia cenderung tertutup pada kedua orang tuanya. Maklum, ada kekhawatiran bahwa mereka tidak akan setuju dengan keputusannya memeluk Islam.

Barulah beberapa bulan menjelang pernikahannya itu, Sammy memberanikan diri untuk lebih terbuka. Ia pun bertemu dengan ayah dan ibunya, meminta izin akan menikah dengan Yeni. Sebelum prosesi lamaran, ia kemudian berterus terang.

 
Mereka baru tahu saya telah memeluk Islam. Saya ditanya berbagai hal terutama alasan dan komitmen saya.
 
 

“Mereka baru tahu saya telah memeluk Islam. Saya ditanya berbagai hal terutama alasan dan komitmen saya,” ujar anak bungsu dari enam bersaudara ini.

Bersyukur, apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Kedua orang tua Sammy menerima pilihan hidupnya. Mereka hanya berpesan, setiap pilihan harus disertai dengan kesadaran akan konsekuensi. Jika telah memilih Islam, maka dia harus menjalani agama ini dengan sebaik-baiknya.

Bagi keduanya, anak-anak telah dewasa sehingga berhak memiliki dan menjalani pilihan hidup masing-masing. Orang tua hanya bisa memberikan nasihat bahwa apa pun pilihan yang diambil, anak-anaknya harus memikulnya dengan penuh rasa tanggung jawab.

Pasangan Sammy dan Yeni kini telah dikaruniai dua orang anak. Ia mengaku sangat bersyukur ke hadirat Illahi. Dalam setiap doanya, selalu tersampaikan harapan. Semoga Allah Ta’ala menjadikan dirinya sebagai seorang ayah sekaligus suami yang mampu memimpin rumah  tangga dengan teladan baik.

photo
Bagi Sammy Muhammad FM, perjalanan ibadah ke Tanah Suci menjadi pengalaman yang tak mungkin terlupakan. - (DOK WIKIPEDIA)

Sebagai mualaf, Sammy turut bergabung dalam PITI. Perkenalannya dengan organisasi ini melalui Denny Sanusi, ketua PITI kini. Waktu itu, kebetulan anaknya sedang dirawat di rumah sakit yang sama dengan anak sulung Denny. Setelah mengobrol, ia pun diajak bergabung dengan komunitas tersebut.

Dengan dukungan PITI pula, Sammy akhirnya berkesempatan untuk pergi ke Tanah Suci. Ibadah umrah dilakukannya bersama istri dan kedua mertua pada 2017. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya serta meningkatkan rasa syukurnya kepada Allah.

“Berada pertama kali di Makkah dan melihat Ka’bah, tentu merasa haru luar biasa. Seluruh tubuh merinding karena sebelumnya saya hanya bisa melihat (Ka’bah) di foto atau televisi," katanya mengenang.


×