Cover Dialog Jumat edisi 29 Oktober 2021. Melawan Propaganda dengan Karya. | Dialog Jumat/Republika

Laporan Utama

31 Oct 2021, 03:32 WIB

Saatnya Nussa Gantikan Superman

Film Nussa kaya akan nilai-nilai keluarga.

OLEH IMAS DAMAYANTI, GUMANTI AWALIYAH

Propaganda kaum lesbian, biseksual, gay, dan transgender (LGBT) yang menyusup lewat superhero seakan dijawab oleh gemilangnya karya animasi anak bangsa, Nussa. Besarnya animo penonton terhadap film tersebut menunjukkan kerinduan masyarakat kita akan animasi berkualitas dengan segmen keluarga. Semoga saja, kehadiran Nussa dan beragam tokoh animasi Muslim lainnya mampu menjadi superhero baru bagi anak-anak Muslim Nusantara.

Melawan Propaganda dengan Karya

Film animasi lokal yang menonjolkan karakter keluarga Muslim seperti Nussa dan Ricko The Series ternyata mendapatkan animo yang tinggi dari masyarakat. Setelah rilis di bioskop, film Nussa sudah ditonton lebih dari 100 ribu orang.

Film besutan Little Giantz dan Visinema Pictures ini pun menjadi film terlaris pada 2021. Demikian halnya dengan film Ricko The Series yang tayang di sebuah stasiun televisi swasta. Film produksi Garis Sepuluh yang mengisahkan karakter Ricko dengan robotnya Q11O mendapat sambutan hangat di tengah masyarakat.

Pengisi suara Bibi Mur, salah satu karakter dalam film Nussa, Asri Welas menjelaskan, film yang masa produksinya memakan waktu hingga tiga tahun ini kaya akan nilai-nilai keluarga. Film Nussa juga membantu anaknya untuk memahami nilai-nilai kehidupan yang mungkin terkadang sulit dikomunikasikan secara langsung oleh orang tua kepada anak.

Oleh karena itu, Asri menilai Nussa sebagai film yang patut ditonton oleh keluarga Indonesia. "Banyak nilai-nilai yang bisa ditiru ya," ungkap Asri

CEO Garis Sepuluh Teuku Wisnu menjelaskan, Ricko the Series merupakan film animasi yang bercerita tentang anak usia delapan tahun dengan rasa ingin tahu yang besar. Film ini bermuatan hal-hal positif, edukatif, dan diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami terinspirasi efek hadirnya Nussa dan Rara. Ketika anak kecil makan pakai tangan kanan, lalu saya tanya kenapa pakai tangan kanan? Dia jawab, seperti di (film) Nussa dan Rara. Ini artinya, pesan-pesan dari film tersebut sampai dan meresap dengan baik ke anak-anak. Itulah mengapa, kami juga terinspirasi menciptakan Ricko the Series, namun dengan angle yang berbeda (dari Nusa dan Rara),” kata Teuku Wisnu kepada Republika.

photo
Cover Dialog Jumat edisi 29 Oktober 2021. Melawan Propaganda dengan Karya. - (Dialog Jumat/Republika )

Dia menjelaskan, Ricko the Series mengusung muatan yang positif, edukatif, dan dapat memberikan hiburan kepada anak-anak Indonesia. Ke depan, dia berharap, sumbangsih dari kreasi animasi ini dapat berkontribusi mewujudkan generasi Rabbani.

Salah satu yang terlibat dalam produksi film-film bernuansa Muslim adalah pimpinan Yayasan iHAQI Ustaz Erick Yusuf. Ustaz Erick menjelaskan, kehadiran film animasi anak bercirikan keumatan penting untuk diwujudkan. Menurut dia, terdapat banyak kisah positif yang dapat menjaga anak-anak agar tidak terkontaminasi kepada hal-hal negatif. 

“Karenanya penting sekali keumatan ini bergerak bersama-sama membumikan animasi Muslim. Saya, insya Allah ingin menyambungkan semuanya. Saya ingin menyatukan semua, kaum aghniya (orang-orang kaya), ahli animasi, semuanya,” kata Ustaz Erick saat dihubungi Republika, Selasa (26/10).

Ustaz Erick yang juga aktif dalam memproduksi film-film keumatan seperti Hayya dan Kun Anta ini menjelaskan, untuk menggeser hegemoni film-film superhero Barat dibutuhkan strategi yang ciamik dan dukungan dari setiap elemen. Penulisan skenario, teknik, efek, nilai konten, dan sejumlah detail produksi film animasi Muslim tak boleh kalah dari strategi Barat.

photo
Poster promosi film Nussa yang sedang tayang di bioskop-bioskop saat ini. - (istimewa)

Dia menjelaskan, proyek besar untuk memproduksi film-film animasi keumatan ini bukan sesuatu yang murah. Namun demikian dia meyakini, apabila umat Islam bersatu memberikan sumbangsih terbaiknya maka bukan tidak mungkin film-film animasi Muslim kelak bisa menggantikan hegemoni Marvel dan DC Comics yang telah menciptakan banyak karakter ‘superhero’. 

Tidak sedikit karakter superhero produksi dua produsen ternama asal Amerika Serikat tersebut yang dipoles sehingga mengalami penyimpangan orientasi seksual. Terakhir, DC Comics telah memutuskan bahwa karakter Superman yang diperankan oleh Jon Kent adalah seorang biseksual. Jon Kent merupakan putra dari Clark Kent dan Lois Lane yang memiliki kekuatan super seperti ayahnya.

photo
Film Nussa yang masa produksinya memakan waktu hingga tiga tahun ini kaya akan nilai-nilai keluarga - (Eric Iskandarsjah/Republika)

“Kita lihat bahwa hegemoni Marvel dan DC Comics dalam menciptakan karakter ‘superhero’ itu sangat kencang, dan itu masuk betul-betul merasuk ke alam bawah sadar anak-anak kita. Makanya penting kita berikan film-film tandingan yang dapat memperkenalkan superhero Muslim yang bisa ditiru,” kata dia.

Dia menambahkan, meski Indonesia belum memiliki ekosistem industri animasi yang bernafaskan keumatan, tapi embrio tersebut sudah tampak. Terbukti hal itu dihadirkan dengan adanya sejumlah film animasi seperti Nusa dan Rara serta Ricko the Series yang sukses meraih animo masyarakat.

“Ini harus dibikin blue print-nya. Kenapa Kpop digandrungi dunia? Ya karena ada grand design yang bagus yang di dalamnya ada kerja sama banyak elemen, termasuk pemerintah,” ujar dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)


×