Makam Kiai Anom Besari di Desa Kuncen, Caruban, Jawa Timur. Beliau adalah pendakwah Islam abad ke-17 | M Husnil
27 Oct 2021, 15:03 WIB

Melacak Silsilah Kiai Ageng Muhammad Besari 

Ayah Kiai Ageng Muhammad Besari, yaitu Kiai Anom Besari memilih hidup seperti orang awam, meski statusnya adalah bangsawan.

MUHAMMAD HUSNIL; Penulis Sejarah 

Tradisi tasawuf mencatat nama Ibrahim bin Adham yang hidup pada abad ke-VIII masehi. Dia adalah seorang bangsawan yang hidup dengan bergelimang harta dan kuasa. Namun, dua kenikmatan duniawi itu rela dia tinggalkan. Hidupnya kemudian berubah menjadi sederhana: berhijrah dari satu kawasan ke lainnya. Meski sudah 13 abad lalu wafat, namanya tetap hidup menjadi inspirasi para salik menjalani penghambaan kepada Sang Pencipta.

Tak hanya Ibrahim bin Adham, di Nusantara, bil khusus Pulau Jawa, terdapat seorang salik yang kehidupannya mirip Ibrahim bin Adham. Dia adalah Kiai Anom Besari. Dia adalah bangsawan keturunan Sultan Trenggono, Raden Patah, dan silsilahnya terus bersambung sampai kepada para raja Majapahit. Namun kehidupannya dijalani seadanya. Dia memilih hidup dengan menjual gerabah atau barang pecah belah dari tanah liat. Darinyalah ajaran Islam menyebar luas, dan diteruskan keturunannya, para ulama yang melahirkan kiai besar di Jawa. Berikut ini adalah sedikit kisah hidupnya.

Tulisan ini adalah serial atau kelanjutan dari tulisan sebelumnya berjudul Sanad Keilmuan Kiai Ageng Muhammad Besari

Terkait

 

***********************

 

Dalam karya klasiknya, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XII dan XVIII, Azyumardi Azra menyimpulkan bahwa ada empat tema pokok dalam islamisasi di Nusantara ini. Kita bisa menyebut ini sebagai tesis Azyumardi.

Pertama, Islam datang langsung dari tanah Arab. Pendapat ini membatalkan teori yang menyatakan bahwa Islam pertama yang datang ke sini berasal dari India, Persia, atau dari Tiongkok.

Kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru dan penyair profesional. Mereka memang bertujuan secara sengaja untuk mendakwahkan Islam. Kita mengenalnya sebagai dai atau muballigh. Ketiga, yang mula-mula masuk Islam adalah para penguasa. Dari atas, lalu menetes ke bawah.

Terakhir, kebanyakan para dai ini masuk ke Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13. Dalam sejarah Islam, periode ini dikenal sebagai masa pematangan ilmu-ilmu keislaman, mulai dari fiqih, ushul fiqih, hadits, ushul hadits, sampai tasawuf. Adalah Imam al-Ghazali yang menjadi salah satu tokoh penting abad 12 di dunia Islam. 

Berdasarkan tesis ini kita mengetahui bahwa para ulama yang menyebarkan Islam ke kepulauan Nusantara ini memiliki keilmuan yang mumpuni. Hal ini sungguh tepat, karena berdasarkan catatan riwayat hidup para Alawiyin (keturunan Rasulullah), ayah para ulama mendidik anak-anaknya dengan sungguh-sungguh. Sejak kecil mereka diajarkan Alquran, hadis, dan sirah Rasulullah. Kemudian keimanan ditanamkan dengan kuat melalui majelis keilmuan.

Setelah bekal ilmu keislaman mantap, barulah mereka berhijrah dari tempat asal ke berbagai penjuru dunia, salah satunya adalah Nusantara, daerah yang oleh sebagian ulama Hadhramaut pada abad ke-18 dianggap sebagai lumbung berkah.

Yang menarik adalah tesis Azyumardi di atas membantu memahami dengan baik silsilah Kiai Ageng Muhammad Besari. Tesis di atas cocok digunakan membaca data lapangan terkait ayah Kiai Ageng Muhammad Besari. Penelusuran silsilah ini penting karena kemasyhuran Kiai Ageng Muhammad Besari dalam mendirikan dan mengembangkan Pesantren Tegalsari, sudah banyak orang tahu.

Tetapi, jarang yang mengetahui profil ayahandanya. Padahal, ayahnya punya peran penting dan besar dalam mengarahkan Ki Ageng Muhammad Besari dan kedua saudaranya dalam meniti jalan dakwah Islam. 

Alasan paling utama karena ayah Kiai Ageng Muhammad Besari juga seorang dai atau muballigh. Bernama Kiai Ageng Anom Besari atau biasa dipanggil Kiai Ageng Nggrabah. 

Pada nisan yang terdapat di makamnya tercatat bahwa beliau wafat pada kurun abad 17, tepatnya pada 1658. Pada periode ini, islamisasi di Jawa sudah mulai menancap cukup kuat. Kekuatan politik sudah disegani yang ditandai dengan Kesultanan Demak dan Mataram Islam yang sudah diperhitungkan. Tetapi, dakwah Islam memang masih bukan perkara mudah. Diperlukan pendekatan dan strategi khusus agar masyarakat secara umum bisa menerima Islam sebagai agama mereka.

Pada titik inilah poin ketiga tesis Azra di atas menemukan relevansinya. Bahwa yang melakukan islamisasi adalah para guru dan penyair profesional atau lebih tepatnya adalah ulama dan auliya’. Pendekatan tasawuf cenderung lebih arif menjadi pisau pembedah dan pengurai masalah-masalah keagamaan karena menitikberatkan kepada aspek penataan batin. Pendekatan itu membuat islam lebih mudah diterima masyarakat luas. Merembes secara pelan-pelan. Setelah itu baru menata aspek ibadah lahiriah, seperti shalat, puasa Ramadhan, atau zakat.    

Menurut Carol Kresten dalam Mengislamkan Indonesia, Islam menawarkan satu cara pemersatu untuk menghadapi tantangan yang diberikan kerajaan-kerajaan sawah di Asia Tenggara daratan. Islam memberikan persekutuan politis alternatif. Inilah yang kemudian mendorong para penguasa dan golongan elite lainnya memeluk Islam. Bisa jadi, ini pintu masuk.

Tetapi kemudian para elite itu memilih Islam sebagai agama dengan sadar. Sehingga, tidak jarang mereka rela turun kelas dan meninggalkan semua fasilitas kemewahan yang melekat padanya, sebagaimana kisah Sunan Bayat atau Sunan Pandan Aran dalam tulisan sebelum ini. 

Begitu pun dengan Kiai Ageng Anom Besari ini. Bernama Raden Neda Kusuma dan memiliki trah sampai ke pendiri Majapahit, Prabu Kertarajasa Jaya Wardhana atau Raden Wijaya (1293-1309 M). Kalau diurut, Kiai Ageng Anom Besari ini berarti generasi ke-13. Menurut Mbah Icuk, keturunan ke-10 Kiai Ageng Anom Besari, dan diperkuat Haris Daryono Ali Haji dalam Dari Majapahit menuju Pondok Pesantren, ayah Kiai Ageng Anom Besari adalah trah Majapahit yang mulai menggunakan nama Islam, yaitu mengambil nama Abdul Mursad.

Meski terlahir dari keluarga kerajaan, Abdul Mursad memilih menjadi mubaligh. Dia melakukan “bunuh diri kelas”. Dia yang semula mendapatkan banyak sekali keistimewaan secara sosiologis masyarakat Jawa abad 16-17 karena lahir dari keluarga kerajaan, rela melepaskan semuanya. Dia meniti jalan untuk menyebarkan agama Islam. Di kemudian hari dia dikenal dengan nama Syekh Abdul Mursad. 

Jalan hidupnya dilanjutkan sang anak, Raden Neda Kusuma. Mulai mengaji kepada ayahnya, dan kemudian memperdalam pengetahuannya di Giri Kedaton (Gresik Jawa Timur). Saat itu Sunan Giri Prapen, cucu Sunan Giri, yang menjadi pengasuhnya. Raden Neda Kusuma diangkat mantu. Dia lantas mengikuti jalan ayahandanya dan menyebarkan pengetahuan yang dia dapat dari Giri Kedaton.

Dia bergerak ke pedalaman. Mengembara sambil menyebarkan Islam. Dia tidak lagi menggunakan identitas keraton, tetapi sudah menggunakan nama Anom Besari dan kemudian dikenal dengan Kiai Ageng Anom Besari. Pada satu titik dia bermukim di daerah perdikan bernama Kuncen, Caruban, Madiun. 

Yang unik adalah dalam menyebarkan Islam dia sambil bekerja berprofesi sebagai pembuat gerabah. Sehingga, dia juga dikenal dengan julukan Kiai Ageng Nggrabahan. Bisa jadi, Kiai Ageng Anom Besari melakoni jalan ini karena dia mengikuti laku sufi. Hal ini, menurut Azra yang mengutip Anthony Johns, indonesianis asal Australia, karena para dai itu rela hidup dalam kemiskinan. Mereka sering terkait dengan kelompok dagang atau kerajinan tangan. Kiai Ageng Anom Besari memilih gerabah. 

Kiai Ageng Anom Besari memiliki tiga putra, yaitu Kiai Ageng Khotib Besari, Kiai Ageng Muhammad Besari, dan Kiai Ageng Nur Shodiq Besari. Kiai Ageng Anom Besari memasrahkan pendidikan agama ketiga anaknya kepada keturunan Sunan Bayat yang menyebarkan Islam di Ponorogo, Kiai Danapura di Setono, Jetis. 


×