Masjid Baiturrohman Setono Ponorogo Jawa Timur | M Husnil
21 Sep 2021, 17:08 WIB

Sanad Keilmuan Kiai Ageng Muhammad Besari Tegalsari

Kiai Ageng Muhammad Besari adalah pendiri Tegalsari, pesantren yang melahirkan banyak ulama pendiri pesantren di Jawa.

OLEH: MUHAMMAD HUSNIL

Khadimul Majelis Hijaiyah dan Penulis Sejarah

 

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Hikayat Ikan dari Tegalsari dan Cikal Bakal Pesantren. Ini adalah tulisan yang menjelaskan Pesantren kuno Tegalsari yang meninggalkan jejak arkeologis dan menjadi saksi jatuh bangun kekuasaan di Tanah Jawa. Melalui dakwah Kiai Ageng Muhammad Besari dan keturunannya, Pesantren Tegalsari menjadi poros islamisasi yang melahirkan sejumlah ulama yang kelak mendirikan pesantren besar yang masih berdiri hingga detik ini. 

Terkait

***

KIPRAH dan keberhasilan tiga bersaudara, Kiai Khotib Anom Besari di Tulungagung dan Kiai Ageng Muhammad Besari beserta adiknya, Kiai Nur Shodiq Besari di Tegalsari, dalam menyebarkan dakwah Islam tidak terlepas dari peran penting guru mereka, Kiai Ageng Danapura. Keempat tokoh inilah yang ikut menentukan islamisasi daerah pedalaman Jawa bagian timur pada abad ke-17 dan setelahnya. Tetapi, Kiai Ageng Danapura belum banyak disinggung. Padahal, beliau merupakan mata rantai terpenting untuk menelusuri sanad keilmuan tiga ulama besar tersebut.

Dalam dunia pengetahuan Islam sanad sangat penting, bahkan menempati posisi utama. Ibnu al-Mubarak, seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in, menyatakan bahwa sanad itu bagian dari agama Islam. Seseorang yang tak memiliki sanad akan mengeluarkan pendapat sesuai dengan kepentingannya saja.

Berbicara mengenai sanad keilmuan ini maka kita mesti menengok terus ke belakang, sampai pada kisah tentang Islam masuk ke Kepulauan Nusantara. Para sejarawan memperkirakan bahwa memang benar orang Islam sudah lalu lalang di sini sejak abad ke-7 M atau ke-8 M. Di antara kepentingan mereka mendatangi Nusantara adalah berdagang. Nusantara sejak dahulu menjadi titik persinggungan utama jalur rempah. Para pedagang dari Eropa, Afrika, Timur Tengah datang silih berganti dan bertransaksi di Nusantara.

Tetapi, berbeda dengan negara lain yang dibebaskan dengan kekuatan militer dan biasa disebut sebagai futuhul buldan (pembebasan negara-negara) sehingga menciptakan gelombang warga berduyun-duyun masuk Islam, islamisasi di Nusantara berjalan cukup lama dan berliku. Orang Islam memang sudah ada, tetapi tidak terjadi islamisasi. Belum ada catatan mengenai dakwah Islam. Sejarawan seperti Prof Azyumardi Azra dalam karya klasiknya, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII menyebutkan islamisasi mengalami akselerasi antara abad ke-12 M dan ke-16 M. Dan itu dilakukan oleh para pendakwah profesional. Artinya, mereka memang memiliki kapasitas keilmuan sekaligus tindak laku yang mumpuni untuk berdakwah. Kecenderungan utama para pendakwah ini adalah tasawuf. Mereka sabar dan telaten mengarahkan untuk menjadi Muslim yang saleh dan taat. Makanya tidak ada “dentuman besar”, istilah AH Johns, indonesianis dari Australia untuk menyebut gelombang masuk Islam secara berbondong-bondong, dalam proses islamisasi di Nusantara.

photo
Makam Kiai Danapura, Dukuh Setono, Ponorogo, Jawa Timur - (M Husnil)

Khusus pulau Jawa, mengalami islamisasi pada abad ke-14. Ini ditandai di antaranya dengan keberadaan Ampel Denta, sebuah daerah dekat pelabuhan Surabaya. Ampel Denta ini dipimpin Raden Rahmat, yang juga dikenal dengan Sunan Ampel. Raden Rahmat adalah seorang sayid yang silsilahnya bersambung kepada Abdul Malik Azamatkhan, Alawiyin senior yang hijrah keluar dari Hadhramaut, dan leluhur para walisongo. Lebih lanjut, silsilahnya bersambung kepada Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir, Imam Ja’far ash-Shodiq, Imam Muhammad al-Baqir, Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad, Imam al-Husein Syahid Karbala, Imam Ali bin Abi Thalib yang merupakan suami Fathimah az-Zahra binti Rasulillah SAW.

Sunan Ampel mengajar tentang keilmuan Islam di masjid yang kini masyhur disebut sebagai Masjid Ampel. Dari sekian banyak muridnya, salah satunya kemudian mendirikan Kesultanan Demak: Raden Patah. Ada pula muridnya yang lain bernama Raden Paku mengikuti jejaknya dengan menjadi guru penyebar Islam, yaitu Raden Paku. Dia mendirikan masjid di bukit Giri, dekat pelabuhan Gresik. Menyebarkan Islam dan menerima murid dari berbagai wilayah. Kita mengenalnya sebagai Sunan Giri. Ini proses islamisasi daerah pesisiran. 

Sementara untuk pedalaman, islamisasi berlangsung cepat dan mengandung harapan terjadi pada paruh pertama abad ke-16 M. Menurut penelusuran sejarawan Prancis Dennys Lombard dalam Nusa-Jawa: Silang Budaya (bagian II), saat itu Islam mampu masuk ke jantung Mataram, wilayah sekitar Gunung Merapi. Ini berkat Ki Pandan Arang. Dia dipercaya sebagai memiliki kekerabatan dengan penguasa Demak dan semula adalah Bupati Semarang. Tetapi, dia meninggalkan jabatannya dan memilih untuk mengikuti jalan gurunya dengan menjadi pendakwah, yaitu Sunan Kalijaga.

Sejarawan Belanda, Martin van Bruinessen, dalam Sufi and Sultan in Southeast Asia and Kurdistan: A Comparative Survey menyebutkan bahwa kisah hidup Sunan Bayat mirip dengan cerita sufi agung dari Afghanistan, Ibrahim bin Adham. Dikisahkan bahwa Ibrahim bin Adham ini hidup sebagai seorang raja atau penguasa wilayah. Dia menikmati semua hal keduniawian, sampai kemudian ada peristiwa spiritual yang membelokkan perjalanan hidupnya. Dia lantas meninggalkan kehidupan istana. Dia mengembara dan memilih menjadi seorang sufi sambil menyebarkan Islam. Sunan Bayat ini tidak masuk sebagai anggota Walisongo, tetapi tetap dikenal sebagai aktor penting islamisasi tanah Jawa.

Sebagaimana Walisongo, Sunan Bayat juga dikenal sebagai sufi. Dia mengajarkan tasawuf, tanpa melupakan aspek syariat. Setelah menyebarkan dakwah Islam ke berbagai daerah di pedalaman, seperti Boyolali, Salatiga, Mojosongo, dan Wedi Ki Pandan Arang menetap di bukit Tembayat, sekarang masuk Klaten. Di sana dia mendirikan masjid. Menerima murid dan mengajar ilmu-ilmu keislaman. Juga ilmu kanuragan. Para murid dan keturunannya mengikuti jalurnya. Karena murid-muridnya menjadi tokoh besar dan penting pada masanya, Sunan Bayat menjadi rujukan banyak pihak dalam hal legitimasi keislaman. Bahkan, beberapa kali Sultan Agung pada masa senjanya tabarrukan (mencari keberkahan) ke makam Sunan Bayat. Menurut penelusuran sejarawan Amerika-Australia, Merle Calvin Ricklefs dalam Mystic Synthesis in Java, Sultan Agung bertemu ruh Sunan Bayat dan mengajarinya banyak pengetahuan sekaligus ilmu kanuragan. Bahkan, pada masa-masa dia ziarah ke Sunan Bayat itulah Sultan Agung mengubah penanggalan Jawa ke sistem kalender Islam.  

Sanad keilmuannya diteruskan salah satu keturunan sekaligus santri Sunan Bayat, yaitu  Danapura. Begitulah silsilah keilmuan dan jalur nasabnya sebagaimana diceritakan secara turun-temurun di Tegalsari, Ponorogo. Mbah Icuk, generasi ke-8 Kiai Nur Shodiq Besari, menuturkan bahwa Kiai Ageng Danapura ini memang keturunan langsung Sunan Bayat. Kiai Danapura mendapatkan tugas untuk menyebarkan dan memperkuat Islam ke sekitar gunung Wilis. Dia diminta untuk meneruskan perjuangan Raden Djoko Piturun atau Batoro Kathong, yang masih memiliki kekerabatan dengan Raden Patah dari Demak, dalam mengislamkan tanah yang semula bernama Wengker tersebut.

Ada hal menarik dari islamisasi pada kurun ke-14-17 M, yaitu rata-rata para tokoh itu mendirikan masjid. Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, anggota Walisongo lainnya, bahkan Sunan Bayat, mendirikan masjid untuk mereka gunakan sebagai pusat pengajaran. Pada periode ini belum ada bentuk pesantren atau cikal bakal pesantren. Begitu pun pada periode Danapura mengajar di dukuh Setono, Jetis, Ponorogo. Berdekatan dengan sungai Keyang, dia mendirikan masjid dan menjadikannya sebagai pusat kegiatan keislaman. Dia mengajari masyarakat tentang pengetahuan Islam dan memberikan bimbingan khusus kepada murid-murid yang datang kepadanya. Untuk menghormati posisinya sebagai pembimbing umat dan warga dia masyhur disebut sebagai Kiai Ageng Danapura.  

Masjid yang dia bangun itu terbuat dari jati. Ditopang empat pilar besar, masjid ini cukup untuk menampung sekitar 40 orang, jumlah sah untuk mengadakan shalat Jumat menurut fiqih Syafi’iyah. Karena berdiri di dukuh Setono, masjid itu disebut sebagai Masjid Setono. Mengalami renovasi dan pembangunan beberapa kali. Yang terbaru adalah pembangunan besar-besaran pada 2021. Sekarang dikenal sebagai Masjid Baiturahman Setono. Karena pembangunan ambisius tersebut, sehingga menyisakan peninggalan yang masih asli hanya bedug yang terdapat di bagian depan dan empat pilarnya di bagian dalam. Selain keduanya, semua komponen masjid ini baru.

Tentu agak disayangkan karena mengurangi nilai historis masjid yang dipercaya sebagai salah satu yang tertua di Ponorogo. Apalagi kondisi makam Kiai Ageng Danapura yang berada di depan masjid ini kurang terawat. Padahal, di masjid dan wilayah sekitarnyalah Kiai Ageng Danapura membimbing ketiga putra seorang kiai yang memilih berdakwah dengan menyamar sebagai penjual gerabah, Kiai Anom Besari atau Kiai Nggerabah dari Caruban (Kuncen Caruban), Madiun. Ketiga putranya itu bernama Kiai Khotib Anom Besari, Kiai Ageng Mohammad Besari, dan Kiai Nur Shodiq Besari.


Terkini

×