Ilustrasi kegiatan Bank BNI | ANTARA FOTO/ Reno Esnir
26 Oct 2021, 10:08 WIB

Laba BNI Melonjak 73,9 Persen

pertumbuhan NII merupakan efek pendistribusian kredit BNI yang masih tumbuh 3,7 persen.

JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk meraup laba Rp 7,7 triliun pada kuartal III 2021. Capaian laba tersebut melonjak 73,9 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, yakni sejumlah Rp 4,3 triliun.

"Pertumbuhan laba ini utamanya berasal dari pertumbuhan fee based income (FBI) dan net interest income masing-masing sebesar 16,8 persen dan 17,6 persen secara tahunan," kata Direktur Utama BNI Royke Tumilaar saat paparan publik secara virtual di Jakarta, Senin (25/10).

Pencapaian tersebut juga merupakan hasil dari transformasi digital BNI yang salah satunya ditujukan untuk penguatan kapabilitas dalam transactional banking. Bank pelat merah tersebut mencatat kinerja penghimpunan dana murah yang sehat dan merupakan salah satu faktor pendukung kredit yang solid.

Komposisi himpunan dana murah atau CASA mencapai 69,7 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) atau tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Royke mengatakan, CASA tumbuh 8 persen secara tahunan dari Rp 431,3 triliun pada kuartal III 2020 menjadi Rp 465,7 triliun pada kuartal III 2021.

Terkait

CASA mendominasi DPK yang juga tumbuh 1,4 persen secara tahunan dari Rp 659,52 triliun pada kuartal III 2020 menjadi Rp 668,55 triliun pada kuartal III 2021. "Pertumbuhan CASA tersebut berdampak pada penghematan beban bunga sebesar 10 basis poin dari kuartal sebelumnya," ujar Royke.

Sementara itu, pendapatan bunga bersih (NII) meningkat 17,6 persen (secara tahunan) dari Rp 24,39 triliun pada kuartal III 2020 menjadi Rp 28,7 triliun pada kuartal III 2021. Royke menjelaskan, pertumbuhan NII tersebut merupakan efek pendistribusian kredit BNI yang masih tumbuh 3,7 persen (secara tahunan), yaitu dari Rp 550,07 triliun pada kuartal III 2020 menjadi Rp 570,64 triliun pada kuartal III 2021.

Royke mengatakan, BNI juga mengembangkan bank digital yang nantinya akan berfokus pada sektor usaha kecil dan menengah (UKM) dan bisa menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas. Menurut dia, kehadiran bank digital akan membuat biaya operasional bank menjadi lebih murah dan bisa melayani sektor UKM yang memiliki potensi dan peran besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kami percaya dengan memiliki anak perusahaan yang fokus sebagai bank digital akan membawa BNI memiliki layanan perbankan yang lebih efektif dan lebih tepat sasaran. Kami telah mencapai kesepakatan awal untuk akuisisi bank ini yang memiliki ekosistem bisnis yang kuat untuk dikembangkan menjadi bank digital," ujar Royke.

Meski demikian, Royke menolak menyebutkan nama bank yang akan diakuisisi oleh emiten berkode saham BBNI tersebut. Ia menyampaikan, rencana beserta dana yang dialokasikan perseroan untuk pengembangan bank digital tersebut sudah masuk dalam Rencana Bisnis Bank atau RBB tahun 2021.

"Target idealnya BUKU I BUKU II bedasarkan klasifikasi bank sebelumnya, yang artinya modal intinya tidak lebih dari Rp 3 triliun. Tentunya, proses akuisisi akan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku dan kami akan pastikan memiliki valuasi yang wajar," kata Royke.

Saat ini, Royke menambahkan, BNI memiliki kecukupan modal yang kuat untuk melakukan ekspansi, baik secara organik maupun anorganik. Baru-baru ini, BNI menjadi bank pertama di Indonesia yang menerbitkan Additional Tier-1 Capital Bond Tahun 2021 sebesar 600 juta dolar AS atau sekitar Rp 8,6 triliun sebagai penguatan modal.

 
Rencana akusisi tidak akan bedampak signifikan terhadap permodalan BNI.
 
 

"Sehingga, rencana akusisi tidak akan bedampak signifikan terhadap permodalan BNI. Untuk rencana dukungan permodalan dua tahun ke depan, masih dalam proses pengkajian dengan mempertimbangkan banyak bisnis modal bank digital yang akan kita adopsi. Yang pasti kita fundamentalnya akan sangat kuat," kata Royke.

Dikatakannya, transformasi digital merupakan salah satu strategi utama BNI agar dapat melayani nasabah dengan lebih. Transformasi digital yang dilakukan BNI akan terfokus pada tiga area. Pertama, mendigitalisasi platform bisnis perusahaan.

Kedua, pengembangan produk-produk digital. Ketiga, memperkuat ekosistem digital dengan API Open Banking di mana saat ini BNI adalah bank yang unggul dalam pengembangan API Open Banking dengan 283 jenis layanan, dan sudah digunakan oleh 4.000 klien.

Penguatan kapabilitas digital juga dilakukan dengan cara kolaborasi dengan banyak partner, di antaranya melalui kerja sama di bisnis pay later, di mana BNI menjadi early adaptor layanan ini di Indonesia melalui kerja sama dengan beberapa fintech dan e-commerce, termasuk Traveloka dan Shopee. 

Sumber : Antara


×