Sejumlah santriwati mengikuti kajian kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Amin, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (27/4/2021). Pada saat bulan suci Ramadhan mengaji kitab kuning merupakan salah satu tradisi pesantren untuk memperdalam ilmu agama a | ANTARA FOTO/Makna Zaezar
25 Oct 2021, 08:34 WIB

Santriwati Dinilai Perlu Difasilitasi

Santriwati adalah generasi penerus bangsa.

JAKARTA — Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid menyampaikan bahwa santriwati atau santri perempuan perlu difasilitasi. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan pidato kunci pada acara C-Talk The Power of Santriwati bertema “Santriwati Berdaya, Indonesia Damai” secara virtual pada Sabtu (23/10).

Yenny mengatakan, alasan Wahid Foundation memberikan penekanan khusus terhadap santriwati bukan karena santriwan tidak penting. Santriwan tentu superpenting, tapi santriwan itu sudah berdaya.

"Sementara (santriwati) perempuan kadang-kadang masih malu-malu, ada di belakang sehingga potensi dirinya tidak bisa terungkapkan dengan baik dan maksimum," kata Yenny dalam forum yang diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional itu.

Ia pun mencontohkan, ada perempuan punya potensi sebagai pemimpin, tapi karena tidak difasilitasi tidak bisa keluar potensi dirinya. Misalnya, seorang perempuan punya potensi sebagai saintis yang hebat, tapi perempuan itu percaya bahwa ilmu pengetahuan alam dan komputer itu milik laki-laki. Maka, akhirnya perempuan itu yang seharusnya bisa menjadi programmer hebat malah tidak yakin dengan dirinya.

Terkait

Karena itu, menurut dia, perempuan masih perlu difasilitasi karena masih banyak sekali hambatan yang mengadang perempuan, baik dari sisi eksternal maupun internal. Pada sisi eksternal, masih ada salah konsep mengenai kodrat bahwa perempuan kodratnya hanya di rumah tangga dan lain sebagainya.

"Dan ada beban ganda yang disandang perempuan, dia (perempuan) bekerja ke luar rumah sudah boleh, tapi beban untuk mengurus rumah tangga tetap menjadi beban perempuan itu namanya beban ganda," ujarnya.

Sementara hambatan internal, Yenny melanjutkan, yakni perempuan masih berpikir dirinya tidak mampu. Padahal, jika perempuan difasilitasi dengan aturan-aturan yang ada dan didukung untuk bisa lebih maksimal dalam berkiprah di masyarakat, dampaknya kepada masyarakat akan sangat luar biasa.

 

"Kalau sebuah negara memfasilitasi anak-anak perempuan agar bisa sekolah sampai tinggi, sampai S-2 dan S-3, misalnya, maka yang terjadi adalah ada peningkatan signifikan dalam penghasilan negara dan pendapatan negara," kata Yenny.

Begitu pendapatan negara meningkat yang terjadi adalah masyarakat lebih makmur dan sejahtera. Maka, negara bisa membangun fasilitas umum dan berbagai macam pembangunan.

"Pendapatan negara meningkat kalau perempuan-perempuan di sebuah negara difasilitasi agar bisa berkiprah secara maksimal di negaranya," kata Yenny.

Pada forum yang sama, santri perempuan asal Papua, Aminatus Sadiyah, mengatakan, seorang santriwati harus bisa memberikan contoh yang baik bagi masyarakat. Menurut dia, di Papua cukup sulit menyampaikan ajaran agama Islam. Namun, ia bersyukur, kesulitan itu sedikit demi sedikit dapat dilewati.

Ia bersyukur, adik-adik yang dididiknya ada yang mau belajar di pondok pesantren di Jayapura dan Jawa Timur. “Semoga adik-adik atau generasi muda santriwati bisa memberi contoh yang baik ketika kembali ke tengah masyarakat dari pesantren,” katanya.

Sementara, anggota Kepolisian RI alumnus Pondok Pesantren Gontor, Bripda Agustina Untari, mengatakan, berbekal pengalaman, tentunya santriwati memiliki porsi pengalaman yang lebih daripada pelajar pada umumnya.

"Ustazah kami waktu di pesantren pernah mengatakan seorang santri ketika bangun tidur sampai akan tidur lagi adalah pendidikan. Jadi, segala sesuatu yang kami hadapi, yang kami lewati di dalam pondok pesantren itu adalah pendidikan," kata Agustina.

Menurut dia, untuk bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat, santriwati bisa memberi contoh yang baik bagi masyarakat. Tunjukkan bahwa seorang santriwati bisa berkiprah, berprofesi, dan berkarier seperti pelajar-pelajar pada umumnya.


×