Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika
24 Oct 2021, 10:16 WIB

Dari Brur Menjadi Bung, Panggilan Jongos Pun Berganti Bung

Sapaan Bung akrab di masa revolusi kemerdekaan.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Suatu siang, Februari 1973, seorang Belanda di restoran Indonesia di lantai pertama Gedung Carlton, Amsterdam. Ia menyeru pelayan dengan panggilan jongos. Ternyata masih ada yang memanggil jongos setelah 28 tahun Indonesia merdeka.

Bukan pelayan yang datang, melainkan manajer restoran itu. Dalam bahasa Belanda, manajer itu meminta pelanggannya memanggil pelayan dengan sebutan Ober (pelayan). Lalu, ada yang menanyakan kasus ini kepada Atase Pers KBRI di Amsterdam.

“Sebelum kami merdeka, pelayan di restoran memang dipanggil jongos. Sekarang tak mau dipanggil begitu lagi karena bernada merendahkan. Jika Anda ingin memanggilnya dengan bahasa mereka, panggillah Bung, yang artinya Brur. Atau Ober, untuk pelayan di Belanda,” jelas Atase Pers KBRI.

Terkait

Koran De Telegraaf menceritakan kasus ini dengan judul “Jongos itu sekarang Bung”.

Sapaan Bung akrab di masa revolusi kemerdekaan. Bung lalu melekat pada Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Bung Tomo. Koran Algemeen Handelsblad pernah menurunkan laporan berjudul “Presiden atau Bung” pada November 1950, dengan memberikan catatan arti Bung sama dengan Brur. Sukarno sebagai pemimpin pemerintahan menyandang sapaan Presiden, sedangkan Sukarno sebagai pemimpin rakyat disapa Bung.

Ketua DPRS Mr Sartono pernah mengungkapkan adanya keluhan terhadap posisi Sukarno ketika menyampaikan pernyataan. Sebagai pemimpin rakyat, Bung Karno bisa berbicara sangat keras, tapi sebagai pemimpin pemerintahan, Presiden Sukarno diharap berbicara santun.

Negara Barat banyak yang kecele karena di forum resmi pun -–yang dihadiri perwakilan negara asing—Sukarno tetap berbicara sebagai pemimpin rakyat. “Bung Karno hanya akan menerima pemilihannya sebagai presiden jika dia diizinkan untuk terus bertindak sebagai pemimpin rakyat,” ujar Sartono seperti yang ditulis Algemeen Handelsblad.

Sebagai pemimpin rakyat terbukti dari banyaknya orang yang hadir saat Sukarno berpidato. Pada awal Januari 1932, misalnya, saat Bung Karno hadir di Kongres Indonesia Raya di Surabaya ada 10 ribu orang yang menyambutnya. Ada juga yang menyebut cuma lebih dari 3.000 orang yang hadir, ada pula yang menyebut 6.000 orang yang hadir untuk mendengarkan pidato perdana Bung Karno setelah keluar dari penjara Sukamiskin itu.

Setelah menyingung perpecahan PNI, ia menegaskan, tiga hal tentang mewujudkan persatuan, yaitu semangat nasional, kehendak nasional, dan tindakan nasional. Saat menyampaikan hal itu, ia membahasakan dirinya sebagai Bung Karno.

Di buku biografi yang ditulis Cindy Adams, Sukarno mulai berpidato tentang nasionalisme sejak semester kedua 1926. Di masa-masa itulah ia mengaku mulai memakai sapaan Pak, Bu, dan Bung yang ia sebut lebih demokratis.

 
Sukarno mulai berpidato tentang nasionalisme sejak semester kedua 1926. Di masa-masa itulah ia mengaku mulai memakai sapaan Pak, Bu, dan Bung yang ia sebut lebih demokratis.
 
 

Sukarno memakai sapaan Bung sejak masih di HBS pada 1917. Cak Dul Arnowo, sahabat Sukarno, menceritakan itu kepada Suara Merdeka pada Juni 1978. Suara Merdeka mengurai, Bung berasal dari Brur.

Orang Jawa mengalami kesulitan melafalkan r dibelakang b, sehingga terucap Bur, lalu menjadi Bung, sebagaimana halnya orang Jawa mengucap Pur menjadi Pung. Saat itu ada pula sapaan Zus untuk pemudi.

Namun ternyata, Bung sudah ada jauh sebelumnya. Pada 1889, di Java-Bode, seorang bernama pena Bung, menulis pengalamannya berkelana di Jawa. Salah satu tulisannya mengomentari pengajaran bahasa Melayu pada pegawai pemerintah Hindia di Batavia.

Guru bahasa Melayu, Gerth van Wijk, menanggapi komentar Bung dengan terlebih dulu menyapanya: Pak/Tuan Bung, meski gaya dan argumen Bung tak mencirikan gaya dan argumen laki-laki. “Kalau saya salah, tolong diganti dengan Nyonya atau Nona,” kata dia.

Surat Gerth van Wijk ditanggapi Pak Bung, sekaligus mempertanyakan pengetahuan Gerth van Wijk dalam hal bahasa Melayu. Pertama-tama tentu saja ia mempersoalkan sapaan Pak Bung yang kurang pada tempatnya.

“Apakah ‘Bung’ itu ‘maskulin’ atau ‘feminin’? Mengapa tidak ‘netral’?” tanya Pak Bung kepada Gerth van Wijk. Pak Bung perlu menjelaskan makna Bung kepada Gerth van Wijk.

Selain menyebutkan sapaan Bung (sapaan untuk laki-laki di kalangan orang-orang berbahasa Melayu di Batavia), Pak Bung juga menyebut adanya sapaan untuk perempuan, yaitu Susi. Tapi, ia tak tahu, apakah Susi berasal dari Zusje dan atau Zussie atau malah dari Susu?


×