Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika
23 Oct 2021, 03:30 WIB

Alquran dan Respons Jiwa

Tak ada satu pun kitab yang secara interaktif dapat menyentuh relung jiwa kecuali Alquran.

OLEH WISNU TANGGAP PRABOWO

Membaca Alquran sejatinya mendorong “dialog” antara ayat-ayat Alquran dan relung jiwa kita. Bukanlah dialog yang dimaksud seperti ketika Malaikat Jibril datang dalam wujud manusia, lalu berdialog dengan Rasulullah tentang perkara iman, tidak juga seperti Allah berbicara langsung sebagaimana berbicara dengan Nabi Musa.

Namun, interaksi yang dimaksud adalah ketika Alquran memberi kesan kepada setiap pembacanya sesuai dengan keadaan orang tersebut. Misalnya, seorang yang menyelami sains, ia akan mudah tersentuh oleh ayat-ayat sains.

Mereka yang menyelami ilmu psikologi akan tergerak hatinya saat membaca ayat-ayat berkenaan dengan tazkiyatun nafs. Sejarawan akan terkagum dengan informasi sejarah umat terdahulu.

Terkait

Ahli ekonomi, pengamat politik, dan praktisi dunia pendidikan pun tak berbeda; mereka tersentuh dan bergetar hatinya dengan kandungan Alquran yang berkenaan dengan bidang-bidang ilmu yang sedang ditekuni.

Tidak hanya itu, bagi yang sedang diuji oleh sakit, Alquran dapat menyembuhkan seseorang yang membacanya. Tentu, semua itu tergantung pada kehendak Allah lalu niat si pembaca.

Tidak ada satu pun terdapat kitab yang secara “interaktif” dapat menyentuh relung jiwa. Bukan hanya menggetarkan kalbu melalui kabar gembira, peringatan, dan ancaman, Alquran juga mendorong pembacanya untuk terus mengasah intelektual. Sehingga Alquran tidak saja bermanfaat bagi hati, tapi juga bagi intelektualitas.

Sebagai contoh, Alquran menyandingkan kabar sejarah dengan salah satu aktivitas intelektual, yakni tafakur. Allah berfirman: "Maka, ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir" (QS al-A’raf: 176).

Ada isyarat dalam ayat di atas bahwa sejarah bukan sekadar kisah pengantar tidur atau penghibur hati, melainkan ia mendorong proses berpikir; membandingkan, meneliti, menyimpulkan, lalu mengambil pelajaran agar menjadi bekal dalam menapaki jalan ketakwaan.

Di lain ayat, Alquran mengisyaratkan bahwa sejarah berkaitan dengan hati. Allah berfirman: "Dan, semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu" (QS Hud: 120).

Berdasarkan isyarat ayat tersebut, sejarah dapat meneguhkan hati yang gundah atau sedang diliputi lara oleh hiruk pikuk dunia dan segala ujiannya. Maka, berinteraksi dengan Alquran dengan cara membaca, merenungkan, dan menadaburinya akan berimbas langsung dengan hati dan akal.

Selain itu, Alquran juga dapat menjadi penyembuh (syifa’un) dan rahmat (rahmatun) baik fisik maupun rohani.

Ia juga akan meninggikan derajat pembacanya jika ia beriman. Namun, kita juga patut ingat, Alquran juga akan menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (QS al Isra: 82). Sudahkah kita membaca Alquran hari ini?

Wallahu a’lam.


×