Petugas PT PGN melakukan pengecekan rutin jaringan gas (jargas) pelanggan rumah tangga di Kawasan Batu Aji, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (8/7/2020). Hingga 2019 PT PGN telah membangun jargas sepanjang 3.838 Km atau sebanyak 537.936 sambungan rumah tangga ( | ANTARA FOTO/M N Kanwa
21 Oct 2021, 10:33 WIB

PGN Perkuat Bisnis LNG

PGN menjelaskan bahwa harga gas saat ini sedang meroket.

JAKARTA -- PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk selaku subholding gas PT Pertamina (Persero) bersinergi dengan PT Badak Natural Gas Liquefaction (PTB). Keduanya bekerja sama terkait pemanfaatan dan pengembangan bisnis liquified natural gass (LNG) di lingkup holding minyak dan gas bumi (migas).

Direktur Utama PGN M Haryo Yunianto mengatakan, saat ini harga LNG sedang meroket. Momen ini dimanfaatkan perusahaan dengan memperkuat infrastruktur dan logistik LNG.

Terminal LNG Badak sebagai LNG hub untuk supply point pasokan LNG bagi proyek gasifikasi maupun regasifikasi subholding gas. Haryo menyebutkan, di antaranya untuk proyek gasifikasi kilang Pertamina, LNG Trading, LNG Bunkering, LNG Storage and Reloading, gasifikasi Smelter, Small Scale LNG Isotank, dan Small Scale LNG serta proyek development lainnya.

“Untuk regasifikasi LNG dilakukan untuk keperluan Refinery Development Master Plan (RDMP) RU V Balikpapan dan industri di Kalimantan Timur, pemenuhan energi ramah lingkungan untuk ibu kota baru di Kalimantan Timur dan pengembangan cold storage,” kata Haryo di Jakarta, Rabu (20/10).

Terkait

Haryo menambahkan, kerja sama PGN dengan PTB juga mencakup pelatihan dan pengembangan pekerja serta technical services, yang meliputi technical advisor, troubleshooting, dan repair.

Menurut Haryo, PTB memiliki keahlian dalam penyediaan studi, engineering, procurement, construction, commissioning (EPCC) and operations & maintenance (O&M) yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan proyek LNG dalam lingkup subholding gas. Di sisi lain, adanya capacity building bidang LNG di subholding gas yang bisa dipenuhi dari expertise PTB.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Heru Setiawan mengatakan, transformasi peran PGN sebagai subholding gas memperkuat peran PGN dalam pengelolaan bisnis gas bumi nasional, termasuk LNG. Untuk itu, PGN akan fokus pada hal-hal strategis dan menumbuhkan segmen bisnis.

Peluang pada era LNG, Heru menambahkan, dimanfaatkan PGN untuk meningkatkan performa bisnis dan mendukung program-program strategis holding migas, seperti dekarbonisasi dan efisiensi yang salah satunya melalui penyediaan LNG untuk Kilang Cilacap dan pembangunan Terminal LNG.

Di lingkup pasar domestik, bisnis LNG akan memiliki kontribusi besar melalui proyek konversi bahan bakar minyak (BBM) ke LNG untuk pembangkit listrik PLN sesuai Kepmen 13/2020.

Sementara untuk pasar luar negeri, PGN melakukan pendekatan dengan pemain LNG di negara-negara target. PGN juga mulai mengarahkan kepada pasar global dengan Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Cina, negara Asia Tenggara, dan negara-negara Eropa sebagai negara target.

Terkait bisnis LNG, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mencatat realisasi lifting migas hingga kuartal III tahun ini mencapai 149,5 kargo. Jumlah tersebut terdiri atas Kilang Bontang 60,7 kargo dan dari Kilang LNG Tangguh 88,8 kargo.

Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas Arief S Handoko mengatakan, hingga September 2021 realisasi penyaluran LNG untuk kebutuhan domestik mencapai 43,9 kargo, sementara untuk ekspor sebesar 105,6 kargo. “Sebanyak 42,3 kargo atau sekitar 96 persen diperuntukkan ke sektor kelistrikan, sisanya untuk industri dan pabrik pupuk,” kata Arief.

Menurut Arief, secara global permintaan LNG memang meningkat. Sementara, pasokan masih terbatas yang disebabkan oleh produksi yang belum optimal. Karena itu, harga LNG juga merangkak naik.

“Memang global demand tinggi jauh lebih tinggi dari yang bisa kita suplai ditambah ada beberapa aktivitas hulu yang memproduksi LNG yang belum selesai sehingga menambah shortage suplai LNG, makanya harga bisa sampai 30 dolar AS per MMBTU,” kata Arief.

Arief mengatakan, untungnya Indonesia sempat mendapatkan berkah dari tingginya harga LNG tersebut. Ia menyebutkan, ada sekitar 4,5 kargo LNG uncommitted yang dijual di pasar internasional dengan harga tinggi.

Negara, Arief menambahkan, memperoleh pendapatan mencapai 350 juta dolar AS dari penjualan LNG tersebut. “Ada 4,5 kargo dari Bontang yang dijual, termasuk uncommitted dengan harga antara 28-29 dolar AS per MMBTU bagus buat penerimaan migas kita,” ujar Arief.

Sementara, hingga akhir tahun ini, SKK Migas memproyeksikan lifting LNG mencapai 211,9 kargo dengan rincian produksi dari kilang Bontang sebesar 93,6 kargo dan Tangguh 118,3 kargo.


×