Rektor Universitas Siber Muhammadiyah, Dr Bambang Riyanta MT. | DOK IST
19 Oct 2021, 09:12 WIB

Universitas SiberMu dan Tantangan Zaman

Muhammadiyah menghadirkan inovasi baru untuk dunia pendidikan dengan membuka Universitas SiberMu.

Muhammadiyah telah lama berkiprah di ranah pendidikan. Organisasi masyarakat (ormas) Islam ini pun berupaya menjawab tantangan zaman kontemporer, yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Sejak bulan ini, persyarikatan tersebut kembali menghadirkan inovasi baru untuk dunia pendidikan. Salah satunya dengan membuka Universitas Siber Muhammadiyah (SiberMu).

Menurut Rektor Universitas SiberMu, Dr Bambang Riyanta MT, berdirinya kampus tersebut dilatari pemikiran Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir beserta para tokoh Majelis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah. Mereka mengamati, pada faktanya kini para peserta didik tidak lepas dari penggunaan teknologi digital.

Itu pun menggeser orientasi pembelajaran, yakni dari metode tatap muka ke dalam jaringan (daring). “Kebetulan, hal itu diakselerasi oleh adanya Covid-19. Berbagai survei menunjukkan pergeseran itu,” katanya.

Terkait

Lantas, apa saja kebaruan yang ditawarkan Universitas SiberMu? Apa yang membedakan kampus ini dari sekadar menyelenggarakan “pembelajaran jarak jauh”? Bagaimana prospek ke depannya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, wartawan Republika Muhyiddin baru-baru ini mewawancarai akademisi yang juga mengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu. Berikut kutipannya.

 

Apa gagasan di balik berdirinya Universitas Siber Muhammadiyah (SiberMu)?

Sebenarnya, Universitas SiberMu sudah diluncurkan sebelum adanya pandemi Covid-19. Inisiatifnya datang dari Prof Haedar Nashir (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah) dan Majelis Pendidikan Tinggi (Dikti) PP Muhammadiyah. Jadi, hadirnya SiberMu bukan semacam respons terhadap pandemi.

Sebab, dari kami Muhammadiyah sudah melihat bahwa mulai ada potensi pergeseran orientasi pendidikan pada generasi baru. Anak-anak muda ini sudah sangat lekat dengan teknologi.

Seperti apa pergeseran orientasi yang dimaksud?

Bisa kita amati dari pada anak-anak muda sekarang. Mereka nyaman-nyaman saja dengan pemanfaatan teknologi (untuk pendidikan). Kebetulan, hal itu diakselerasi oleh adanya Covid-19.

Berbagai survei menunjukkan pergeseran itu. Misalnya, survei di Universitas Indonesia (UI) dan UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Ternyata, cukup banyak mahasiswa yang ingin pembelajaran online. Dan, kita melihat trennya ke depan, pergeserannya (dari minat belajar offline ke online --Red) akan semakin besar. Riset di mana-mana pun sama. Jadi, pemanfatan teknologi mulai banyak diminati.

Universitas SiberMu hanya mengadakan kuliah secara daring?

Karena namanya kampus siber, basisnya memang online. Kampus ini memang didirikan dengan instrumen yang berbeda dengan perguruan tinggi biasa dengan (metode) tatap muka. Jadi, pembelajaran di SiberMu menerapkan fully online e-learning yang berbasis Moodle.

Meskipun fully online, di dalam aturannya itu ada layanan di pusat belajar jarak jauh. Yakni, layanan tutorial untuk mahasiswa agar mereka bisa juga menjalankan (pembelajaran) tatap muka. Namun, tentu yang dominan adalah (pembelajaran secara) online.

Perbedaannya dengan pembelajaran daring, semisal yang melalui Zoom atau grup WhatsApp?

Universitas SiberMu bertumpu pada pemanfaatan Learning Management System (LMS). Jadi, tidak bisa semata-mata diartikan berkuliah dengan hanya memanfaatkan Zoom, WA, GoogleMeet, dan lain-lain. Semua itu bisa, tetapi tidak cukup. Maka, kita manfaatkan LMS itu yang kita dasarkan pada standar Dikti.

Apa saja keunggulan LMS ini?

Dalam pembelajaran yang memanfatkan LMS, aktivitas mahasiswa justru lebih terpantau. Misal, mereka akan ketahuan, apakah sudah membuka file atau belum. Begitu pula, apakah mereka aktif atau tidak di dalam forum. Apakah mereka sudah mengumpulkan tugas atau belum; sudah mengerjakan kuis atau belum; dan sebagainya. Itu semua akan termonitor dengan rapi karena sistem digital ini.

Kelebihan berikutnya adalah, kita juga bisa menjangkau hingga wilayah-wilayah yang lebih luas. Kita bisa berinteraksi dengan mereka di daerah-daerah terpencil. Kemudian, biaya (kuliah) juga menjadi lebih murah. Bahkan, biayanya dalam satu semester bisa menjadi seperempat atau seperlimanya dari (biaya standar) di perguruan tinggi PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah) yang sudah besar.

Tentu, ada tantangan-tantangannya. Semisal, masalah jaringan, koneksi, dan sebagainya. Namun, ini sudah dengan fasilitas asinkron. Dengan begitu, mahasiswa di daerah-daerah yang sulit jaringan masih bisa mengakses pembelajaran, tidak harus pada jam dan waktu tertentu. Tidak harus sinkron (secara waktu) dengan dosennya. Mereka bisa mengakses materi-materi pembelajaran dan penugasan setiap saat.

Ada berapa fakultas dan program studi (prodi) yang dibuka Universitas SiberMu?

Untuk saat ini, ada enam prodi, yaitu Teknologi Informasi, Sistem Informasi, Hukum, Administrasi Kesehatan, Akuntansi, dan Manajemen. Itu semua terbagi ke dalam  dua fakultas, yakni fakultas eksak dan non-eksak.

Bagaimana kesiapan dari segi tenaga pengajar, dosen, dan administrasi?

Sesuai dengan borang, syarat-syaratnya sudah kita penuhi. Misalnya, dosennya harus dengan kualifikasi tertentu. Begitu pula, (dosen yang) lulusan S-2 di masing-masing prodi itu harus ada lima orang. Jadi, kami sudah menyiapkan 30 dosen. Kemudian, harus ada tutor dengan gelar S-1 yang sesuai dengan bidangnya.

Sarana dan prasarana juga sudah kita lengkapi. Misalnya, admisi, sistem informasi akademik, sistem informasi keuangan, portal dosen, portal mahasiswa, dan sebagainya. Sistem informasi untuk menfasiltiasi aktivitas sebuah perguruan tinggi siber sudah kita siapkan semua.

Di dalam syarat, juga harus ada minimal LMS untuk setiap prodi itu lima mata kuliah di tahun pertama. Jadi, minimal ada 30 mata kuliah yang sudah siap digunakan di LMS.

Kita bandingkan dengan perguruan tinggi non-siber, yakni yang pengajaran full tatap muka. Di sana, dosennya bisa menyiapkan materi kuliah sambil jalan. Namun, kalau di perguruan tinggi siber, ini tidak boleh terjadi. Jadi, dosen harus menyiapkan terlebih dulu materi kuliah sebelum perkuliahan dimulai. Jadi, satu semester harus disiapkan dulu (materi kuliah) sesuai dengan kurikulumnya.

Kapan pendaftaran mahasiswa baru akan dibuka?

Sudah sejak Rabu (6/10) lalu (pendaftaran mahasiswa baru dimulai). Itu setelah kita mendapatkan izin operasional dari Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi Nomor 430/E/0/2021. Cara mendaftarnya dilakukan secara online.

Kami siap menerima mahasiswa baru untuk tahun akademik 2021/2022, baik melalui jalur reguler, karyawan, persyarikatan, maupun prestasi dengan syarat masing-masing. Bagi para peminat, bisa mengunjungi atau mencari informasi di sibermu.ac.id.

Kalau ingin langsung mendaftar, bisa kunjungi admissions.sibermu.ac.id. Sementara, untuk lokasi fisik Universitas SiberMu kampus pusat berada di Jalan HOS Cokroaminoto No 17 Kota Yogyakarta (Daerah Istimewa Yogyakarta).

Apakah pihak Anda menargetkan jumlah pendaftar?

Untuk soal target, kami belum mematok target yang tinggi-tinggi. Sebab, kita baru mendapatkan izin operasional, sementara banyak perguruan tinggi yang lain sudah memulai proses perkuliahan. Jadi, kita belakangan banget. Ini baru mulai pekan yang lalu. Namun, alhamdulillah respons masyarakat hingga kini terpantau sangat bagus.

Yang jelas, kapasitas kita untuk awal ini bisa menerima 5.000 orang mahasiswa. Masa pendaftarannya kita buka sampai akhir Oktober 2021 ini. Namun, itu mungkin saja diperpanjang jika setelah evaluasi kita merasa perlu adanya gelombang kedua. Ya, tergantung situasinya.

Apakah menyediakan beasiswa?

Untuk program beasiswa sendiri, sementara ini belum ada. Sebab, biaya kuliah di SiberMu sudah sangat terjangkau, saya kira. Namun, sekarang katanya ada juga beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Mungkin nanti itu bisa menjadi salah satu opsi yang kita coba untuk kerja samakan.

Kampus-kampus Muhammadiyah memiliki reputasi yang baik. Bahkan, semisal UMY, baru-baru ini masuk jajaran lima besar kampus Islam dunia. Bagaimana Universitas SiberMu meneruskan nama baik tersebut?

Sejak awal pengonsepan hingga pendirian SiberMu, kami sudah berkomitmen. Kami tidak ingin mendirikan perguruan tinggi yang asal-asalan. Jadi, betul-betul memenuhi standar yang sudah ditetapkan di dalam instrumen. Termasuk tadi, perihal LMS. Itu standarnya adalah standar Dikti.

Di samping itu, sebenarnya para pengelola SiberMu juga berasal dari PTMA yang lain. Ada yang aktif di UMY dan sebagainya. Alhasil, “tradisi” menjaga reputasi, baik skala nasional maupun global, itu sudah menjadi bagian dari keseharian pengelola SiberMu selama ini.

Pesan dari Prof Haedar Nashir juga sudah sangat jelas soal itu. Untuk itu, kami harus mendasarkan segala aktivitas sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan. Teknologi memang memudahkan akses. Namun, dari sisi konten tetap harus dijaga. Karena itu, kita berharap SiberMu sebagai salah satu bagian PTMA bisa menjadi universitas yang merepresentasikan nilai-nilai berkemajuan ala Muhammadiyah.

Terakhir, apa saja harapan Anda untuk Universitas SiberMu?

Muhammadiyah itu tajdid dan berkemajuan. Maka, kami di SiberMu akan betul-betul serius mengelolanya, persis seperti yang disampaikan Prof Haedar beberapa hari lalu. Kita juga harus ada pertanggungjawaban ke Majelis Dikti Muhammadiyah, terutama yang berkaitan dengan aspek kemajuan dan kualitas perguruan tinggi siber ini.

Maka, harapan saya, SiberMu ini bisa menjadi perguruan tinggi yang berbasis teknologi sekaligus berlandaskan nilai-nilai Islam yang berkemajuan. Misinya, memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Bisa mempermudah akses masyarakat yang membutuhkan pendidikan, seperti mereka di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar), agar bisa kuliah.

Jadi SiberMu harus berkemajuan dan modern, serta maju bersama-sama dengan PTMA yang lain. Kita semua berkembang menghadapi tantangan zaman Revolusi Industri 4.0, khususnya dalam aspek pembelajaran jarak jauh.

photo
Universitas Siber Muhammadiyah telah mendapatkan izin operasional dari negara. Pembentukan kampus ini berangkat dari gagasan oleh Prof Haedar Nashir dan para pimpinan Majelis Dikti Muhammadiyah. - (DOK MUHAMMADIYAH)

 

Bermula dari Milad Muhammadiyah

Menurut data yang dihimpun pada 2014, organisasi masyarakat (ormas) Islam Muhammadiyah memiliki total 172 unit kampus. Jumlah perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) itu berasal dari 159 unit yang berada di bawah naungan PP Muhammadiyah serta 13 unit di bawah PP ‘Aisyiyah.

Angka tersebut kini seharusnya berubah menjadi lebih banyak. Sebab, mulai bulan Oktober 2021 persyarikatan tersebut telah membuka kampus baru: Universitas Siber Muhammadiyah (SiberMu).

Rektor Universitas SiberMu, Dr Bambang Riyanta MT, menuturkan proses lahirnya perguruan tinggi itu. Bermula dari momen menjelang penyelenggaraan Milad Muhammadiyah ke-107. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir mengumpulkan sejumlah tokoh persyarikatan, termasuk dari Majelis Pendidikan Tinggi (Dikti) Muhammadiyah. Dalam pertemuan ini, disampaikanlah harapan tentang berdirinya sebuah perguruan tinggi siber.

“Dan, pada saat milad itu tanggal 18 November 2019, diluncurkanlah Universitas SiberMu. Di acara milad (Muhammadiyah) di UMY itu, hadir juga Mendikbud Nadiem Makarim serta beberapa menteri lainnya,” ujar Bambang Riyanta kepada Republika beberapa waktu lalu.

Setelah itu, lanjutnya, tim dari Majelis Dikti terus melakukan koordinasi. Saat itu, pemerintah sudah memiliki aturan tentang perguruan tinggi siber. Akan tetapi, instrumen teknisnya belum ada. Seiring dengan pengajuan izin operasional dari pihak Muhammadiyah, aturan teknis itu digodok kementerian terkait.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by UNIVERSITAS SIBER MUHAMMADIYAH (sibermu)

“Kami mendapatkan bimbingan teknis dari Dikti pemerintah di dalam penyiapan segala sesuatu yang berkaitan dengan perizinan. Namun, tetap tidak mudah. Sebab, persyaratannya ketat sekali. Bahkan, sampai berdiskusi beberapa kali dengan tim teknis,” tuturnya.

Untuk bisa memenuhi standar pemerintah, Muhammadiyah mesti melalui proses yang cukup panjang dan berliku. Begitu borang selesai dengan instrumen yang baru, pihak persyarikatan mengirimkannya ke pemerintah. Sekitar bulan Maret, visitasi dan evaluasi lapangan dilakukan secara daring.

“Jadi, kami di-review semuanya, termasuk fasilitas di pusat belajar jarak jauhnya, dosennya, tutor, dan data yang sudah kami lengkapi,” kata Bambang mengenang.

Kemudian, pemerintah memberikan izin prisip. Akhirnya, terhitung 22 bulan sejak Milad Muhammadiyah ke-107, izin operasional pun diberikan. Itu termaktub dalam surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi Nomor 430/E/0/2021.

Sebelum menerima amanah di Universitas SiberMu, peraih gelar doktor dari Universitas Brawijaya itu telah puluhan tahun mengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pernah pula dirinya menjadi Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya UMY.

Ia mengaku, kemampuan manajerialnya terinspirasi dari sosok mubaligh KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) serta buku Stephen Covey, The 7 Habbits of Highly Effective People.

“Jadi, Stephen Covey itu termasuk yang pengaruhnya besar ke saya. Saya juga senang dengan pola pengembangan sumber daya manusia di Daarut Tauhiid.”

 


×