Syekh Ihsan Dahlan al-Jampesi. | DOK WIKIPEDIA
19 Oct 2021, 06:03 WIB

Syekh Ihsan Dahlan al-Jampesi, Sang Dai Produktif Berkarya

Keinginan Syekh Ihsan al-Jampesi tersebut terwujud dengan berdirinya sebuah madrasah.

OLEH MUHYIDDIN

Tokoh berikut ini merupakan seorang alim yang berpengaruh di Nusantara pada permulaan abad ke-20. Syekh Ihsan Dahlan al-Jampesi, itulah nama lengkapnya. Di tengah masyarakat, dirinya dikenal sebagai pribadi yang berilmu dan tawaduk.

Ulama yang lama berkiprah di Kediri, Jawa Timur, itu lahir pada tahun 1901 M. Ayahnya, KH Dahlan bin Saleh, merupakan seorang mubaligh. Ibundanya bernama Istianah. Kedua orang tuanya itu mendirikan sebuah pondok pesantren di Dusun Jempes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri.

Hulu silsilah Syekh Ihsan Dahlan dapat dilacak hingga kaum alim asal Jawa Barat. Kakeknya merupakan seorang ulama kenamaan dari Bogor. Hingga akhir hayatnya, sosok yang bernama Kiai Saleh itu menuntut ilmu hingga menyebarluaskan syiar Islam di Jawa Timur.

Terkait

Syekh Ihsan pun masih keturunan bangsawan. Beberapa generasi di atasnya, terdapat Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Salah satu wali songo itu pernah memimpin kaum Muslimin khususnya di Cirebon, Jawa Barat.

Dari garis ibunya, Syekh Ihsan mendapatkan darah biru Jawa Tengah. Istianah merupakan putri seorang kiai Mesir, yang akhirnya menjadi penyebar agama Islam di Pacitan, Jawa Timur. Silsilahnya, bagaimanapun, tersambung hingga Panembahan Senapati, sang bapak wangsa Mataram.

Dengan latar belakang demikian, tidak mengherankan bila dirinya tumbuh sebagai pribadi yang saleh. Ihsan Dahlan kecil mendapatkan pendidikan agama Islam dari kedua orang tuanya. Mereka mengajarkannya untuk menyukai pustaka.

 
Ihsan Dahlan kecil mendapatkan pendidikan agama Islam dari kedua orang tuanya. Mereka mengajarkannya untuk menyukai pustaka.
 
 

Alhasil, sejak muda anak lelaki ini terkenal suka membaca. Motonya, “Tiada hari tanpa membaca". Buku-buku yang dikajinya memuat beraneka ragam topik. Mulai dari ilmu-ilmu agama hingga umum. Ada yang berbahasa Indonesia. Tidak sedikit pula yang menggunakan bahasa Arab.

Seiring kesukaannya menyantap aneka bacaan, tumbuh pula hobi menulis dalam dirinya. Waktu senggangnya kerap dimanfaatkan untuk mengulang bacaan dan membuat beragam catatan. Dari buah pikirnya, lahirlah naskah-naskah yang berbobot. Ia sangat senang mengkaji ilmu-ilmu agama atau yang bersangkutan dengan sejarah pesantren serta syiar Islam di Jawa.

Dalam usia yang terbilang muda—29 tahun—ia telah menghasilkan karya. Pada tahun 1930, Ihsan menulis sebuah kitab dalam bidang ilmu falak atau astronomi. Judulnya ialah Tashrih al-Ibarat. Isinya mengomentari secara kritis dan menjelaskan kitab Natijat al-Miqat karangan KH Ahmad Dahlan, Semarang.

Kira-kira dua tahun kemudian, ulama muda ini kembali menerbitkan buku. Kitab bertopik ilmu tasawuf itu diberi judul Siraj ath-Thalibin. Di kemudian hari, karya tersebut tidak hanya mengharumkan namanya atau Pondok Pesantren Jampes, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia.

Sebab, Siraj ath-Thalibin menjadi rujukan banyak lembaga pendidikan Islam, baik di dalam maupun luar negeri. Sebagai contoh, Universitas al-Azhar yang memakai kitab itu untuk dikaji para mahasiswa dan dosen.

 
Kitab bertopik ilmu tasawuf itu diberi judul Siraj ath-Thalibin. Kitab ini menjadi rujukan banyak lembaga pendidikan Islam.
 
 

Pada tahun 1944, penyuka ilmu perdalangan itu mengarang sebuah kitab yang diberi judul Manahij al-Amdad. Isinya mengulas kitab Irsyad al-Ibad ilaa Sabili al-Rasyad karya Syekh Zainuddin al-Malibari (982 H), seorang ulama asal Pantai Malabar, India. Buku itu cukup tebal, yakni mencapai 1.036 halaman. Itu pun baru berupa naskahnya yang belum diluncurkan.

Selain Siraj ath-Thalibin dan Manahij al-Amdad, masih banyak lagi karya-karya sang pengasuh Ponpes Jampes. Di antaranya adalah kitab Irsyad al-Ikhwan fii Syurbati al-Qahwati wa ad-Dukhan.

Risalah itu secara khusus membicarakan perihal meminum kopi dan merokok dari segi syariat Islam. Buku yang berarti ‘kitab yang membahas kopi dan rokok’ itu tampaknya ditulis lantaran pengalaman hidupnya sendiri tatkala masih berusia remaja muda.

Beberapa sumber menyebut, ulama yang produktif berkarya itu cukup bandel saat masih belia. Orang-orang pun memanggilnya 'Bakri'. Kegemarannya waktu itu ialah menonton wayang sambil ditemani segelas kopi dan rokok.

Hobinya itu cukup mengkhawatirkan pihak keluarga. Takutnya, pemuda itu tergoda lebih jauh, semisal ikut bermain judi bersama muda-muda yang sudah nakal. Dan, yang dicemaskan kemudian sempat terjadi.

Ia kedapatan berjudi bersama beberapa remaja. Karena merasa piawai, anak muda ini cukup sukar dibetulkan walaupun sudah dinasihati berkali-kali. Kebiasaan buruk itu tak juga ditinggalkannya.

Hingga suatu hari, ayahnya mengajak dia berziarah ke makam seorang ulama bernama KH Yahuda. Sang almarhum juga masih ada hubungan kerabat dengan bapaknya.

Di depan makam tersebut, ayahnya berdoa, memohon kepada Allah agar putranya itu diberikan hidayah dan insaf. Jika dirinya masih saja melakukan perbuatan judi tersebut, lebih baik ia diberi umur pendek agar tidak membawa mudharat di tengah umat dan masyarakat.

 
Sejak saat itu, Syekh Ihsan menghentikan kebiasaannya bermain judi dan mulai gemar menimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya.
 
 

Selepas berziarah itu, suatu malam Ihsan muda bermimpi didatangi seseorang yang berwujud seperti kakeknya. Sosok ini membawa sebuah batu besar. Dan, siap-siap benda keras itu hendak dilemparkan ke arah kepalanya.

''Hai cucuku, kalau engkau tidak menghentikan kebiasaan burukmu yang suka berjudi, aku akan lemparkan batu besar ini ke kepalamu," kata kakek tersebut.

Ia bertanya dalam hati, ''Apa hubungannya kakek denganku? Mau berhenti atau terus, itu bukan urusan kakek,'' timpal Ihsan muda.

Tiba tiba, sang kakek tersebut melempar batu besar tersebut ke kepala Syekh Ihsan hingga kepalanya pecah. Pada saat itulah, dia langsung terjaga sembari bibirnya mengucapkan istighfar. ''Ya Allah, apa yang sedang terjadi. Ya Allah, ampunilah dosaku.''

Sejak saat itu, Syekh Ihsan menghentikan kebiasaannya bermain judi dan mulai gemar menimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya di Pulau Jawa. Mengambil berkah dan restu dari para ulama di Jawa, seperti KH Saleh Darat (Semarang), KH Hasyim Asyari (Jombang), dan KH Muhammad Kholil (Bangkalan, Madura).

Tawaran dari Mesir

Di antara kitab-kitab karyanya, yang paling populer dan mampu mengangkat nama hingga ke mancanegara adalah Siraj ath-Thalibin. Bahkan, Raja Faruk yang sedang berkuasa di Mesir pada 1934 pernah mengirim utusan ke Dusun Jampes hanya untuk menyampaikan keinginannya agar Syekh Ihsan al-Jampesi bersedia diperbantukan mengajar di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir.

Namun, tawaran itu ditolaknya secara halus. Melalui utusan Raja Faruk itu, ia mengutarakan alasan bahwa dirinya ingin mengabdikan hidup kepada warga perdesaan di Tanah Air. Ia ingin mendidik mereka agar hidup sesuai ajaran Islam.

 
Raja Faruk di Mesir pada 1934 pernah mengirim utusan ke Dusun Jampes hanya untuk menyampaikan agar Syekh Ihsan al-Jampesi bersedia diperbantukan mengajar di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir.
 
 

Dan, keinginan Syekh Ihsan al-Jampesi tersebut terwujud dengan berdirinya sebuah madrasah dalam lingkungan Ponpes Jampes pada tahun 1942. Madrasah yang didirikan pada zaman pendudukan Jepang itu diberi nama Mufatihul Huda. Orang-orang menyebutnya sebagai 'MMH' (Madrasah Mufatihul Huda).

Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Jampes terus didatangi para santri dari berbagai penjuru Tanah Air untuk menimba ilmu. Kemudian, dalam perkembangannya, pesantren ini pun berkembang dengan didirikannya bangunan-bangunan sekolah setingkat tsanawiyah dan aliyah. Dedikasinya terhadap pendidikan Islam di Tanah Air terus ia lakukan hingga akhir hayatnya pada 15 September 1952. 

Kitab Syarah Tasawuf yang Mendunia

 

Bagi kalangan pesantren, rasa-rasanya Siraj ath-Thalibin bukanlah sebuah kitab yang asing. Karya Syekh Ihsan Dahlan al-Jampesi itu sering dipakai banyak pondok pesantren di Indonesia.

Isinya mengulas ilmu-ilmu tasawuf dari berbagai aspek dan perspektif. Fokusnya mengulas atau mengomentari secara kritis (syarah) Minhaj al-Abidin karya sang Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali.

Kitab Siraj al-Thalibin disusun pada tahun 1933. Naskahnya diterbitkan pertama kali kira-kira tiga tahun kemudian oleh penerbit dan percetakan an-Banhaniyah milik Salim Bersaudara, yakni Syekh Salim bin Sa'ad dan saudaranya Achmad. Pihak itu berlokasi di Surabaya, Jawa Timur.

Salim Bersaudara kerap bekerja sama dengan pihak luar negeri, terutama percetakan di Kairo, Mesir, yakni Mustafa al-Baby Halabi. Yang terakhir itu merupakan sebuah perusahaan percetakan besar di Negeri Piramida.

Banyak buku, terutama yang mengusung ilmu-ilmu agama Islam, telah diterbitkannya. Termasuk di dalamnya, karya ulama-ulama abad pertengahan, semisal Imam al-Ghazali.

photo
Salah satu kitab karya Syekh Ihsan Dahlan al-Jampesi. Buku ini digunakan banyak pelajar, baik di dalam maupun luar negeri. - (DOK IST)

Karena itu, pihak Mustafa al-Baby dengan antusias menyambut naik cetaknya Siraj ath-Thalibin. Karya Syekh Ihsan Dahlan itu terdiri atas dua jilid (juz). Yang pertama berisikan 419 halaman. Adapun jilid kedua mencapai tebal 400 halaman.

Dalam periode berikutnya, kitab tersebut menarik perhatian penerbit lainnya. Kali ini, Darul Fiqir dari Beirut, Lebanon. Oleh pihak percetakan ini, tiap juz dari Siraj ath-Thalibin dibagi lagi menjadi beberapa edisi. Yang pertama berisi 544 halaman, sedangkan yang kedua setebal 554 halaman.

Kitab tersebut tak hanya beredar di Indonesia atau negara-negara mayoritas pemeluk Islam, tetapi juga di kawasan yang mayoritas non-Muslim. Sebut saja, Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Australia.

Siraj ath-Thalibin dibahas di kelas-kelas jurusan filsafat, teosofi, dan Islamologi pada beberapa perguruan tinggi. Alhasil, kitab karya Syekh Ihsan Dahlan itu kian mendunia.

Bacaan wajib

Di Timur Tengah, buah tangan ulama dari Kediri, Jawa Timur, itu kian populer. Banyak alim ulama memuji syarah tersebut. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikannya bacaan atau referensi wajib bagi para mahasiswa. Hal itu juga dijumpai di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir—salah satu perguruan tinggi tertua di dunia.

Kitab ini dipelajari beberapa perguruan tinggi lain dan digunakan oleh hampir seluruh pondok pesantren di Tanah Air dengan kajian mendalam tentang tasawuf dan akhlak.

Mengutip laman NU Online, KH Said Aqil Siroj mengenang Siraj ath-Thalibin sebagai salah satu karya monumental yang pernah dihasilkan ulama-ulama dari Tanah Jawa. Berbagai majelis taklim di Asia, Afrika dan bahkan Amerika telah mengulasnya.

Kitab tersebut menawarkan konsep tasawuf di zaman modern ini. Misalnya, pengertian tentang uzlah yang secara umum bermakna pengasingan diri dari kesibukan duniawi. Menurut Syekh Ihsan, maksud dari uzlah di era sekarang adalah bukan lagi menyepi, tapi membaur dalam masyarakat majemuk, namun tetap menjaga diri dari hal-hal keduniawian.


×