Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika
15 Oct 2021, 03:30 WIB

Teladan Sepanjang Zaman

Oleh karena itulah, Nabi Muhammad SAW menjadi teladan sepanjang zaman.

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Seorang Muslimah yang turut hijrah ke Habasyah, Ummu Salamah RA, mengisahkan tentang utusan Quraisy, yakni Abdullah Bin Rabi’ah dan Amru Bin Ash yang hendak memengaruhi Raja Najasyi agar mengusir mereka dari negerinya.

Utusan itu berkata, “Wahai Tuan Raja, ada orang-orang bodoh yang datang ke negeri Tuan. Mereka meninggalkan agama nenek moyangnya, tapi tidak masuk ke agama kalian. Mereka membawa agama baru yang tidak kami kenal dan tidak pula kalian. Kami diutus untuk membicarakan hal ini agar Tuan sudi mengembalikan mereka.” 

Sang Raja berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak akan menyerahkan sebelum menemui mereka”. 

Terkait

Para sahabat pun diundang ke istana, lalu ditanya, “Apakah agama ini yang menyebabkan kalian pergi dari negeri kalian?"

Ja’far Bin Abi Thalib yang menjadi juru bicara menjawab dengan tenang. “Wahai Tuan Raja! Dahulu, kami semasa jahiliyah menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat keji, memutuskan silaturahim, berlaku buruk kepada tetangga dan menindas yang lemah. Kini, Allah mengutus seorang rasul dari kaum kami sendiri yang dikenal nasab, kejujuran dan amanahnya.” 

Lalu, kami disuruh menyembah Allah semata dan meninggalkan patung berhala. Berbicara jujur, menunaikan amanah, menyambung silaturahim, berbuat baik kepada tetangga. Menjauhi yang haram, pertumpahan darah, perbuatan keji, perkataan dusta, memakan harta anak yatim dan menuduh wanita terhormat berzina. Kami pun disuruh menunaikan shalat, zakat, dan puasa. Akan tetapi, kami dimusuhi, disiksa, dan dizalimi. Sebab itulah, kami menyelamatkan diri ke negeri Tuan”.

Penjelasan tersebut diterima oleh raja dan mengizinkan kaum Muslimin tinggal di negerinya. Sedangkan, utusan itu pulang dengan rasa malu. Demikian, ringkasan kisah yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam buku Inilah Rasulullah SAW karya Dr Salman al-Audah.

Dialog antara Ja’far bin Abi Thalib dan Raja Najasyi tersebut menggambarkan esensi ajaran Islam dan kemuliaan akhlak Nabi SAW. Tentu saja, bukan hanya dikagumi umatnya, melainkan juga orang yang berbeda keyakinan dan masih menjaga kejernihan hati. Sebab, itulah misi utama kenabian, yakni menyempurnakan akhlak manusia (HR Bukhari). 

Sayyidah Aisyah RA pernah ditanya, “Wahai Ummul Mukminin, ceritakan kepadaku mengenai akhlak Rasulullah SAW.” Dia menjawab, “Akhlak beliau adalah Alquran. Bukankah engkau telah membaca Alquran, wa innaka la’alaa khuluqin adziim.” Sungguh engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung. (HR Ahmad). 

As-Sayyid Ja’far al-Barzanji dalam Kitab Maulid al-Bazanji mengurai kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam bait-bait syair nan indah. “Nabi SAW adalah orang yang paling sempurna bentuk dan akhlaknya serta memiliki kepribadian istimewa dan sifat sifat yang memancarkan kemuliaan. Beliau seorang yang sangat pemalu dan rendah hati, mengesol sendiri terompahnya, menjahit sendiri pakaiannya yang sobek, memerah sendiri susu kambingnya, dan melayani keluarga dengan perilaku yang baik."

Akhirnya, kita wajib bersyukur atas kelahiran manusia yang paling baik akhlaknya, paling santun tutur katanya, paling lembut hatinya, dan paling sayang kepada umatnya.

Pada setiap bulan Rabiul Awwal, kita memeringati Maulid Nabi untuk menumbuhkan cinta, menghidupkan sunah, dan meneladani akhlaknya. “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu ….” (QS al- Ahzab[33]:21).

Oleh karena itulah, Beliau menjadi teladan sepanjang zaman.

Allahu a’lam bish-shawab.


×