Pengunjung mengamati hasil tambang (smelter) nikel PT COR Industri Indonesia pada acara Sulteng Expo di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (14/4/2021). | ANTARA FOTO
14 Oct 2021, 03:45 WIB

Jangan Hanya Jadi Tukang Gali

Sumber daya alam yang dimiliki Indonesia mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Instalasi pemurnian dan pengolahan (smelter) tembaga terbesar di dunia bakal berada di Indonesia. Peletakan batu pertama pembangunan smelter ini dilakukan Presiden Joko Widodo, Selasa (12/10), di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur.

Smelter ini menjadi yang terbesar di dunia karena mampu mengolah 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Dengan kemampuan ini, smelter milik PT Freeport Indonesia tersebut akan menghasilkan 480 ribu ton logam tembaga.

Jokowi memisalkan angka 1,7 juta ton itu kalau dinaikkan truk berkapasitas angkut 3-4 ton saja berarti akan berjejer 600 ribuan truk pengangkut. Tentu angka ini potensi besar yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi dalam negeri.

Kehadiran smelter ini bakal menguatkan program hilirasasi industri tembaga. Selama ini, tembaga yang digali hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah.

Terkait

 
Kehadiran smelter ini bakal menguatkan program hilirasasi industri tembaga. Selama ini, tembaga yang digali hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah.
 
 

Bahan mentah yang diekspor ini, kemudian diolah di luar negeri menjadi beragam bentuk produk berbahan dasar tembaga. Produk berbahan tembaga ini kemudian diimpor dan menjadi konsumsi masyarakat Indonesia.

Ironisnya, produk tersebut dijual dengan harga berkali-kali lipat ketimbang harga dasar bahan mentah tembaga yang kita ekspor.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa bahan mentah ini tidak kita olah di dalam negeri sendiri menjadi produk bernilai tambah, baru kemudian diekspor ke luar negeri? Pertanyaan simpel dengan jawaban yang agak berbelit-belit.

Konsep memberi nilai tambah pada produk bahan mentah inilah inti hilirasasi industri. Selain memberikan nilai tambah pada bahan mentah yang digali dari tanah di negeri sendiri, ada faktor menambah pemasukan bagi kas negara karena produk ekspor dengan nilai tambah ini dijual lebih mahal.

Seiring proses memberi nilai tambah ini, juga akan menciptakan lapangan pekerjaan lebih banyak. Namun, mengapa itu tidak dilakukan?

 
Seiring proses memberi nilai tambah ini, juga akan menciptakan lapangan pekerjaan lebih banyak. Namun, mengapa itu tidak dilakukan?
 
 

Pembangunan smelter tembaga PT Freeport Indonesia --51 persen saham Freeport diakuisisi pemerintah dan kini menjadi anak perusahaan MindID, holding BUMN industri pertambangan-- di Gresik, Jawa Timur maupun pembangunan pabrik baterai listrik di kawasan Cikarang, Jawa Barat diharapkan menjadi awal keseriusan hilirisasi industri.

Nilai investasi Rp 42 triliun untuk smelter di Gresik dan Rp 15 triliun untuk pembangunan pabrik baterai listrik di Cikarang akan mendorong nilai tambah berlipat dari modal yang dibenamkan untuk investasi tersebut.

Penyerapan tenaga kerja sudah pasti terjadi. Efek domino dengan keberadaan pabrik ini bakal berkelanjutan dengan terbentuknya rantai usaha kecil menengah sebagai pendukung keberadaan pabrik.

Smelter Freeport ini juga akan memiliki fasilitas pemurnian logam yang menghasilkan emas, perak, dan logam berharga lainnya. Rata-rata diprediksi menghasilkan 35 ton emas per tahun dengan nilai transaksi hingga Rp 30 triliun.

Tentu, nilai tambah dengan hilirisasi industri tembaga ini bisa diduplikasi untuk sektor pertambangan lain. Hilirisasi industri tembaga dan turunannya saja bakal memberikan manfaat ekonomi lebih luas. Apalagi kalau sektor lain menerapkan hal serupa.

 
Kearifan pemanfaatan sumber daya alam dengan memadukan teknologi ramah lingkungan diharapkan bisa melestarikan kekayaan alam Indonesia. 
 
 

Industri kayu mesti memberikan nilai tambah pada hasil tebangan kayu mentahnya. Tidak asal mengekspor kayu mentah, tapi menjadikannya produk mebel berkualitas internasional terlebih dahulu.

Demikian pula dengan hasil tangkap ikan. Nelayan yang menangkap ikan di perairan Indonesia harus mengolah ikan mentah tersebut di dalam negeri. Ikan hasil olahan kemudian diekspor yang tentu dijual dengan harga lebih tinggi.

Konsekuensi hilirisasi industri ini menjadikan Indonesia hanya mengekspor barang jadi.

Sumber daya alam yang dimiliki Indonesia mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tidak bisa lagi, sebagaimana dikatakan Jokowi, orang Indonesia hanya menjadi tukang gali. Pola pikir hanya mengekspor bahan mentah mesti diganti hilirisasi industri yang bernilai tambah.

Kearifan pemanfaatan sumber daya alam dengan memadukan teknologi ramah lingkungan diharapkan bisa melestarikan kekayaan alam Indonesia. Semua komoditas harus kita dorong hilirisasinya. 


×