Pengunjung saat berwisata di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta, Jumat (1/10). Sangat mengherankan jika ada yang masih mempertentangkan antara Pancasila dan Islam. | Republika/Putra M. Akbar
10 Oct 2021, 03:23 WIB

Melihat Islam dan Indonesia dengan Dialog

Salah satu kandungan penting dalam Alquran adalah dialog.

OLEH MUHYIDDIN

 

Alquran merupakan kitab suci yang penuh dengan inspirasi. Semakin diselami secara objektif, kian banyak wawasan terbuka dan hikmah diperoleh pembacanya. Di dalam kitabullah ini, ada berbagai pembahasan tentang kehidupan dunia maupun akhirat kelak.

Salah satu kandungan penting dalam Alquran adalah dialog. Sejak juz pertama hingga terakhir, kitab suci ini memuat dialog-dialog. Format tersebut kadang hanya berupa tanya-jawab (muhadatsah). Ada pula yang tampil dalam bentuk perdebatan sengit (mujadalah). Kadang dialognya panjang, tetapi tak jarang pula singkat.

Terkait

Dialog (hiwar) itu kadang terjadi antara seorang nabi dan kaumnya; atau antara nabi dan musuh Allah. Percakapan juga berlangsung antarsesama orang saleh. Bahkan, dialog bisa muncul antara seorang nabi dan hewan. Misalnya ketika Nabi Sulaiman AS memeriksa keadaan burung hud-hud.

Pada banyak ayat Alquran, terungkap dialog antara Allah dan para malaikat, nabi, atau hamba-hambanya yang bertakwa. Ada pula percakapan antara Allah dan iblis.

Terinspirasi dari metode dialog di dalam Alquran, Ustaz Fahmi Salim menulis buku terbarunya, Pesan-pesan Tauhid untuk Negeri di Masa Pandemi. Seperti tampak pada judulnya, karya itu berkaitan dengan situasi Tanah Air yang dilanda wabah Covid-19 sejak awal tahun 2020 lalu.

Buku terbitan al-Fahmu Internasional Indonesia itu merupakan catatan dari program siaran daring (podcast) bertajuk “Ngeshare: Ngaji Syar’ie Bareng Ustaz Fahmi Salim (UFS)” yang digelar sejak Juni 2020.

 
Sejak juz pertama hingga terakhir, kitab suci ini memuat dialog-dialog. Format tersebut kadang hanya berupa tanya-jawab.
 
 

Acara itu menghadirkan sejumlah tokoh agama di Indonesia. Berbagai isu dibahas, baik yang berkaitan dengan keagamaan maupun kebangsaan. Hasilnya lalu diangkat menjadi buku setebal 416 halaman ini. Namun, diakui Ustaz Fahmi Salim, dirinya tidak sekadar “membukukan” podcast itu, tetapi juga mengambil inspirasi dari Alquran, kitab suci yang kaya akan dialog.

Ustaz Fahmi Salim merupakan seorang dai yang mengetuai Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Ia pun aktif sebagai dosen pada Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka).

Aktivis Muhammadiyah ini memperoleh gelar master dalam bidang ilmu tafsir dari Universitas al-Azhar Kairo, Mesir. Di sela-sela kegiatan dawahnya, ia selalu menyempatkan diri untuk menulis.

Pesan-pesan Tauhid untuk Negeri di Masa Pandemi terdiri atas 10 bagian. Pada bagian pertama, penulis memberi judul “Dinamika Dakwah Islam di Nusantara". Di sana, Ustaz Fahmi Salim menyuguhkan hasil dialognya dengan para dai di Indonesia, seperti (almarhum) Syekh Ali Jaber, Ustaz Das’ad Latif, Ustaz Abdul Somad, dan lain-lain.

photo
Ustaz Fahmi Salim. - (DOK IST)

Kemudian, bagian kedua buku ini menyuguhkan hasil dialog penulis dengan sejumlah tokoh agama. Topik yang dibahasnya mencakup keislaman, kebangsaan, dan kepahlawanan. Dalam hal itu, ia mengutip pendapat para figur nasional, semisal Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir, Prof Din Syamsuddin, dan lain-lain.

Satu pembahasan yang disinggung dalam bab ini ialah kecenderungan segelintir pihak untuk memperhadapkan antara agama dan Pancasila. Menurut Ustaz Fahmi Salim, Pancasila sesungguhnya lahir dari buah pemikiran umat Islam.

Bahkan, sesudah Piagam Jakarta ini merupakan hadiah terbesar kaum Muslimin untuk kemerdekaan dan persatuan Indonesia. Karena itu, lanjut dia, sangat mengherankan jika ada yang masih mempertentangkan antara Pancasila dan Islam. Terlebih lagi, jika ada yang berkoar-koar bahwa agama adalah ancaman bagi ideologi bangsa.

 
Sangat mengherankan jika ada yang masih mempertentangkan antara Pancasila dan Islam.
 
 

Sedangkan pada bagian ketiga, penulis membicarakan tentang spirit Indonesia dalam politik dan kerja sama internasional. Dalam sebuah tulisannya, ustaz tersebut membagikan hasil dialognya dengan para duta besar, seperti bersama Dubes RI untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal; diplomat Konsulat Jenderal RI di Frankfurt Abdul Mun’im Ritonga; Dubes RI di Mesir Helmy Fauzi; serta para tokoh lainnya.

Dalam bukunya ini, Ustaz Fahmi Salim juga menyuguhkan pembahasan tentang dinamika politik Islam. Topik itu dibahas pada bagian keempat, yang berisi hasil dialog bersama beberapa politikus, seperti Zulkifli Hasan, Jazilul Fawaid, Anis Matta, dan Asrul Sani.

Selanjutnya, pada bagian kelima, penulis menyuguhkan tema tentang mencetak generasi muda yang tangguh. Menurutnya, para pemuda dan pemudi Islam di Indonesia perlu bervisi global, tidak hanya “jago kandang". Dalam membahas tema ini, penulis berdiskusi dengan Ketua Majelis Syura Majelis Rasulullah SAW, Habib Nabiel bin Fuad al-Musawa. Di samping itu, dirinya juga berbincang dengan Habiburrahman el-Shirazy, Prof Abdul Mu’ti, dan beberapa kiai dari sejumlah pesantren.

Mengutip dialognya dengan pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda II Ciamis KH Nonop Hanafi, pemuda Islam haruslah memiliki kriteria yang ideal. Misalnya, selalu bersemangat untuk belajar ilmu-ilmu agama. Sebab, bukan hanya kokohnya iman yang diperlukan. Ilmu pengetahuan juga menjadi faktor pembeda mereka dengan pemuda-pemuda lain.

Ilmu pengetahuan merupakan salah satu kekuatan yang harus dipersiapkan oleh pemuda sebagaimana perintah jihad yang disebutkan dalam Alquran, khususnya pada surah al-Anfaal ayat 60.

Menurut Fahmi Salim, kekuatan yang dimaksud dalam ayat tersebut tak sebatas untuk tujuan persenjataan perang, tetapi juga intelektualitas dalam bersaing di era kompetisi global. Pada bagian keenam, penulis mengungkapkan kontribusi ulama dalam membangun peradaban di Indonesia.

photo
Buku ini diangkat dari podcast yang diisi Ustaz Fahmi Salim. - (DOK PRI)

Pada bagian ketujuh dirinya mengulas topik tentang visi Muslimah Indonesia. Dalam bagian ini, penulis banyak mengutip pendapat tokoh, semisal doktor ilmu fikih perbandingan mazhab yang juga alumnus Universitas al-Azhar, Elly Warti Maliki. Selain itu, ada pula Rektor UIN Syarif Hidayatullah Prof Amany Lubis dan Ketua PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Prof Sri Mulyati.

Pembahasan yang cukup menarik terdapat di bagian kedelapan. Di sini, penulis mengupas tentang bagaimana syariat Islam menjawab tantangan zaman, termasuk dalam masa pandemi. Penulis menjalaskan hal ini dengan mengutip pendapat beberapa ulama dan pakar kesehatan.

Ustaz Fahmi Salim menjelaskan bahwa dalam prinsip syariat disebutkan bahwa mencegah bahaya itu lebih diutamakan daripada mengambil manfaatnya atau dalam bahasa Arabnya, “Dar’ul mafaasid muqaddamun ‘ala jablil masalih". Menurut dia, prinsip syariah ini juga sejalan dengan penjelasan di dunia medis bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.

Pada bagian kesembilan, buku ini memberikan catatan kaki narasi pergerakan Islam di Indonesia. Salah satu pembahasannya berkutat pada pemikiran (almarhum) Prof Kuntowijoyo, seorang guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Sedangkan pada bagian terakhir buku ini, penulis menambahkan pembahasan tentang sumbangsih Indonesia bagi pembebasan al-Quds di Palestina.

Buku ini sangat kaya dengan informasi terbaru, baik yang berkaitan dengan isu keagamaan maupun kebangsaan. Pembahasan dalam buku ini akan memberikan wawasan baru untuk para baca. Selain itu, penulisnya juga memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana pesan-pesan tauhid yang selalu menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalanan bangsa ini.

Mengutip testimoni dari sastrawan Habiburrahman El Shirazy, membaca buku “Pesan-Pesan Tauhid” ini akan dapat menambahkan ghirah dan hararatul iman, aliran iman yang menyala-nyala.

DATA BUKU

Judul: Pesan-pesan Tauhid untuk Negeri di Masa Pandemi

Penulis: Ustaz Fahmi Salim

Penerbit: al-Fahmu Internasional Indonesia

Tebal : 416 halaman


×