Alkisah, tersebutlah seorang raja yang memiliki banyak harta. Dengarkan dan renungi berbagai peringatan yang ada agar kelak tidak menyesal. | Pxhere
03 Oct 2021, 04:00 WIB

Penyesalan Sang Raja

Dengarkan dan renungi berbagai peringatan yang ada agar kelak tidak menyesal.

OLEH HASANUL RIZQA

Penyesalan selalu datang terlambat. Karena itu, penting sekali untuk mawas diri. Dengarkan dan renungi berbagai peringatan yang ada agar kelak tidak menyesal.

Penyesalan terbesar ada pada momen ketika ruh hendak berpisah dari jasad. Simaklah bagaimana Firaun di ujung napasnya akhirnya mengucapkan, “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Muslim).” (QS Yunus: 90). Namun, tobatnya si raja yang pernah mengaku tuhan itu sia-sia belaka.

Alquran memuat banyak kisah tentang penyesalan kaum fasik dan kafir kelak di akhirat. Ada pula mereka yang beruntung, yakni orang-orang yang segera bertobat kepada Allah begitu mereka menyadari kesalahannya.

Terkait

Tentang tobat sebelum maut itu juga disinggung oleh Imam al-Ghazali dalam sebuah karyanya, At-Tibr al-Masbuk fii Nasihatil Muluk. Sang mujadid menuturkan kisah tentang seorang penguasa yang kaya raya, tetapi kemudian tidak berdaya begitu hendak menemui ajalnya.

Alkisah, tersebutlah seorang raja yang memiliki banyak harta. Pada suatu hari, ia mengumpulkan berbagai macam harta yang ada di dunia. Hal itu dilakukannya hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Para pembantunya bekerja siang dan malam untuk mewujudkan titahnya itu.

Maka berdirilah sebuah istana megah. Setiap pintu gerbangnya dijaga banyak pasukan. Kemudian, berbondong-bondong segala makanan dan minuman didatangkan ke sana. Begitu pula dengan perhiasan dan pernak-pernik lainnya.

Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sang raja kemudian menyuruh para menterinya untuk menyebarkan undangan ke semua pejabat, termasuk di negeri-negeri tetangga. Ia ingin menggelar pesta di dalam istana yang mewah itu. Mereka semua diundang untuk menghadirinya.

 
Sang Raja ingin menggelar pesta di dalam istana yang mewah itu. Mereka semua diundang untuk menghadirinya.
 
 

 

Setelah segala persiapan tuntas, raja ini kemudian duduk di atas singgasananya. Dengan perasaan angkuh, ia bergumam dalam hati, “Wahai hawa nafsuku, sungguh aku telah mengumpulkan semua kenikmatan dunia ini. Saat pesta nanti, nikmatilah itu semua! Bahkan semua harta yang kukumpulkan ini akan cukup memenuhi kebutuhan hidup hingga akhir usia!”

Beberapa hari kemudian, pesta yang dinanti-nanti itu akhirnya dibuka. Para pembesar negeri dengan pakaian serba rapi dan wangi memenuhi undangan sang raja. Di dalam istana, mereka makan dengan nikmatnya sembari mendengarkan alunan musik. Semua orang di sana menikmati suasana suka cita.

Saat pesta tengah berlangsung, seorang lelaki berjalan mendekati istana. Pria ini berpakaian compang-camping. Raut wajahnya lusuh. Ia melangkahkan kaki sembari bertumpu pada tongkat. Bagaimanapun, tatap matanya begitu tajam, seakan burung elang yang hendak mencomot mangsa.

Lelaki ini menghampiri seorang penjaga gerbang istana. Petugas itu kaget karena tidak mengira, berani-beraninya seorang miskin mendatangi tempat tinggal seorang raja.

 
Petugas itu kaget karena tidak mengira, berani-beraninya seorang miskin mendatangi tempat tinggal seorang raja.
 
 

 

Walaupun dihalau, pria berpenampilan buruk itu tidak juga mundur. Suara keributan itu akhirnya terdengar di dalam istana. Hadirin merasa heran, ada ribut-ribut apakah gerangan.

Seorang pejabat kemudian menghampiri lokasi keributan. Begitu melihat lelaki penyebab hiruk-pikuk itu, elite istana tersebut berkata kepadanya, "Wahai orang miskin! Tidak bisakah kamu sopan sedikit dan bersabar? Tunggulah sampai pesta ini usai. Nanti kami akan memberimu sisa-sisa makanan."

Bukannya mereda, suara lelaki kumuh itu kian menggelegar. Dengan lantang, diserukannya kata-kata, "Bilang kepada rajamu itu untuk segera keluar. Saya punya sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan kepadanya!"

"Lancang sekali kamu menyuruh raja!? Apa kamu sudah gila?"

"Lakukan saja apa yang kukatakan kepadamu. Sampaikan kepada raja agar mendatangiku segera!" jawab lelaki berpakaian kusut ini.

Karena tidak ingin keributan berlama-lama, pejabat ini lalu menyampaikan maksud kedatangan si pria tersebut kepada rajanya. Mendengar peringatan itu, sang raja marah besar.

 
Bilang kepada rajamu itu untuk segera keluar. Saya punya sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan kepadanya
 
 

 

Dengan terburu-buru, penguasa ini berjalan ke arah gerbang. Ia memaki-maki para pengawal yang gagal menjaga situasi kondusif pesta ini. Mereka diancam dengan berbagai sanksi dan hukuman.

Ternyata, lelaki yang sedari tadi menunggu di luar gerbang sudah merangsek masuk. Sukses menerobos pintu istana, ia lalu mendekati sang raja yang sedang sibuk mengomel. Pria ini kemudian mengeluarkan sebilah pedang dan menghunuskannya tepat di depan kepala raja tersebut.

"Kalian semua," katanya berseru kepada para pengawal, "tetap di tempat masing-masing. Ketahuilah, aku ini malaikat maut. Tugasku hari ini untuk mencabut nyawa raja kalian!"

Mendengar hardikan itu, seisi istana hening. Semua orang ketakutan dan berupaya menyelamatkan diri masing-masing. Hanya sang raja yang berdiri terpaku di tempatnya. Rasa panik membuatnya tak berkutik.

"Wahai malaikat maut, ambil semua hartaku. Bahkan, seisi istana dan kerajaanku, ambil saja! Asalkan, nyawaku selamat dari kematian," katanya dengan bibir gemetaran.

 
Sekarang ia tersadar. Di ambang maut, Sang Raja justru tidak membawa bekal yang berarti untuk negeri akhirat.
 
 

"Kedatanganku ke sini hanya untuk mengambil nyawamu. Tidak ada yang lain. Sekaranglah saatnya jiwa terpisah dari ragamu. Semua kenikmatan dunia yang kau bangga-banggakan, sudah usai jatah untukmu menikmatinya," kata lelaki yang ternyata malaikat maut itu.

Maka terbitlah penyesalan dalam diri raja ini. Mengapa segala harta dan kekuasaan yang dimilikinya tidak dapat mendatangkan manfaat baginya kini?

Sekarang, ia tersadar, harta benda dan kekuasaan justru menjadi sumber kerugian dan bencana baginya. Di ambang maut, ia justru tidak membawa bekal yang berarti untuk negeri akhirat.

Atas izin Allah SWT, harta bendanya itu lalu memiliki kemampuan bicara. Maka berkatalah mereka, "Mengapa justru engkau sekarang melaknat kami? Laknatlah dirimu sendiri. Allah telah menciptakanku agar menjadi bekal bagi manusia demi kehidupannya di akhirat. Namun, engkau justru mengumpulkan kami untuk memenuhi hasratmu akan kebanggaan, untuk keserakahanmu dan hawa nafsumu!"

Sekarang Engkau berada dalam kerugian dan kesengsaraan. Lalu, dosa apa yang Aku perbuat hingga Engkau melaknatku?”


×