Fatamorgana merupakan metafora dari cara pandang manusia kebanyakan terhadap dunia. | DOK Wikipedia
03 Oct 2021, 04:33 WIB

Fatamorgana Dunia

Fatamorgana merupakan metafora dari cara pandang manusia kebanyakan terhadap dunia.

OLEH A SYALABY ICHSAN

 

 

 

Terkait

Pernahkah Anda menyaksikan fenomena fatamorgana? Peristiwa alam yang kerap terjadi di gurun pasir  ini ‘benar-benar’ menyajikan ilusi optik bagi yang mengalaminya.

Fatamorgana menyerupai danau, air bahkan kota. Padahal, fatamorgana bukanlah objek yang sejati. Peristiwa ini terjadi akibat pembiasan cahaya melalui kepadatan berbeda. Karena itu, fatamorgana bisa membuat sesuatu yang tidak ada seolah menjadi ada. 

Fatamorgana sebenarnya diambil dari nama saudari Raja Arthur, Faye le Morgana. Dia dikenal sebagai seorang peri yang bisa berubah rupa. Dalam mitologi Raja Arthur, dia mendapat julukan ini karena transformasinya dari seorang dewi menjadi sesosok iblis.

Artikel ini tak akan menjelaskan lebih jauh tentang legenda Raja Arthur dan saudarinya tersebut. Namun, penulis hendak menjadikannya sebagai ibrah dari watak dan perilaku manusia pada umumnya.

Peristiwa fatamorgana merupakan metafora dari cara pandang manusia kebanyakan terhadap dunia. Istri, keturunan, kendaraan, rumah, perhiasan, harta, tabungan, karier, jabatan, kerap membuat kita tertipu tentang apa tujuan hidup sebenarnya. Padahal, Allah SWT telah mengingatkan kita tentang tipuan itu.

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar. Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdaya kamu dan sekali-kali janganlah orang yang pandai memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya  setan itu adalah musuh bagimu… “ (QS Fathir 5-6).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, dunia yang kita jalani sekarang merupakan kehidupan rendah. Kehidupan ini tidak bisa disandingkan dengan kebaikan yang sangat besar. Kebaikan yang disediakan Allah bagi para kekasih-Nya dan para pengikut rasul-rasul-Nya. Karena itu, jangan kita melupakan kebahagian abadi itu karena adanya perhiasan dunia yang fana tersebut. 

Lebih lanjut, mengutip Ibnu Abbas RA, manusia diperingatkan jangan sekali-kali membiarkan setan menipu dan memalingkan kita dari apa yang dicontohkan utusan-utusan Allah untuk membenarkan kalimat-kalimat-Nya. Sesungguhnya, setan itu pada hakikatnya adalah penipu dan pendusta.

 
Fatamorgana juga bisa dialami para ahli ibadah yang tidak berhati-hati terhadap tipuan setan.
 
 

Tertipunya ahli ibadah

Setan ternyata tak hanya menggoda para ahli dunia. Ahli ibadah juga tak lepas dari jerat rayunya. Karena itu, fatamorgana juga bisa dialami para ahli ibadah yang tidak berhati-hati terhadap tipuan setan.

Kita bisa menyimak bagaimana Rasulullah SAW mengisahkan tiga orang Muslim di hadapan mahkamah Allah SWT. Seorang mujahid, seorang alim dan seorang dermawan bukannya memperoleh surga tetapi harus ditimpa azab neraka.

Dalam hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Muslim, An-Nasa'i, Imam Ahmad, dan Baihaqy dijelaskan, orang pertama dipanggil menghadap Allah. Ia merupakan seorang pria yang mati syahid.

Saat di hari perhitungan, Allah pun bertanya, “Apa yang telah kau perbuat dengan berbagai nikmat itu?” Mujahid itu menjawab, “Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid,” ujar dia.

Allah ta’ala pun menyangkalnya, “Kau telah berdusta. Kau berperang agar namamu disebut manusia sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian.” Mujahid itu pun diseret wajahnya dan dilempar ke jahanam.

Orang kedua pun dipanggil. Ia merupakan seorang alim ulama yang mengajarkan Alquran pada manusia. Seperti orang pertama, Allah bertanya hal sama, “Apa yang telah engkau perbuat berbagai nikmat itu?”

Sang ulama menjawab, “Saya telah membaca, mempelajari dan mengajarkannya Alquran karena Engkau,” ujarnya.

Allah berfirman, “Kamu berdusta. Kau mempelajari ilmu agar disebut sebagai seorang alim dan kau membaca Alquran agar kamu disebut sebagai seorang qari." Sang alim ulama pun menyusul si mujahid, masuk ke neraka.

Orang ketiga pun dipanggil. Kali ini ia merupakan seorang yang sangat dermawan. Sang dermawan dianugerahi Allah harta yang melimpah. Allah pun menanyakan tangung jawabnya atas nikmat itu, “Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmatKu” firman-Nya.

Sang dermawan menjawab, “Saya tidak pernah meninggalkan sedekah dan infaq di jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau,” jawab dia.

 
Mereka berpuasa sepanjang tahun atau pada hari-hari yang mulia. Sementara, mereka tidak menjaga lidah dari ghibah serta lintasan hati dari riya.
 
 

Dia pun tak jauh beda dengan dua orang sebelumnya. “Kau berdusta,” firman Allah. “Kau melakukannya karena ingin disebut sebagai seorang dermawan. Dan begitulah yang dikatakan orang-orang tentang dirimu,” firman-Nya.

Sang dermawan yang riya ini pun diseret dan dilempar ke neraka, bergabung dengan dua temannya yang juga menyimpan sifat riya di hati. Di mata manusia, ketiganya merupakan seorang yang taat beribadah dan diyakini akan menjadi penduduk surga. Namun hanya Allah yang mengetahui segala isi hati hamba-Nya.

Mengenai tertipunya ahli ibadah, Imam Al Ghazali lebih lanjut menjelaskan beberapa contohnya. Ada orang yang dikuasai waswas dalam shalat. Dia amat memperhatikan makharijul huruf, tasydid, perbedaan pelafazan huruf saat membaca Alfatihah. Namun, orang tersebut lalai terhadap kandungan Alquran yang dibacanya. Dia tidak mengambil pelajaran darinya dan pemahaman rahasia-rahasianya.

Ada juga orang yang tertipu dengan puasa. Mereka berpuasa sepanjang tahun atau pada hari-hari yang mulia. Sementara, mereka tidak menjaga lidah dari ghibah serta lintasan hati dari riya.

Imam Al-Ghazali mengungkapkan, mereka tidak menjaga lintasan hati dari riya. Lisan mereka dari berbagai macam perkataan sia-sia sepanjang siang. Dalam keadaan itu, dia menyangka dirinya sudah baik-baik saja. 

Ada juga orang yang tertipu dengan hajinya. Mereka pergi keluar untuk menunaikan haji tanpa keluar dari berbagai perbuatan zalim, melunasi utang, meminta ridha dan menyiapkan bekal yang halal. Mereka juga menyia-nyiakan shalat dan hal-hal fardhu di perjalanan serta tidak waspada terhadap segala perkataan dan perbuatan kotor serta perselisihan.

Wallahu a’lam.


×