Seniman tari Dadan Masda menampilkan tarian bertajuk Doa Dalam Gerak pada Peringatan Bulan Bung Karno di halaman rumah warga, Jalan Karees, Kota Bandung, Ahad (21/6/2021). | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
01 Oct 2021, 03:45 WIB

Muhadjir: Pidato Bung Karno Masih Relevan Hingga Kini

Gairah Bung Karno untuk kemajuan Tanah Air harus terus digelorakan.

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, pidato Soekarno pada 30 September 1960 di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih relevan hingga saat ini. Menurut dia, semangat Bung Karno untuk bangsa Indonesia tak akan pernah padam.

“Menurut saya dalam rangka menggelorakan ruh semangat jihad dari Bung Karno ketika pidato di depan majelis umum PBB tahun 1960 itu tetap masih relevan untuk saat-saat ini,” ujar Muhadjir dalam acara Peringatan 61 Tahun Pidato Bung Karno secara daring, Kamis (30/9).

Bung Karno menyampaikan pidato berjudul ‘To Build the World A New’ yang diartikan ‘Membangun Dunia Kembali’ di hadapan para petinggi dunia di markas besar PBB. Bung Karno berusaha mengajak negara-negara anggota PBB untuk turut serta dalam memperjuangkan nasib negara di Asia-Afrika.

Muhadjir menuturkan, gairah Bung Karno untuk kemajuan Tanah Air harus terus digelorakan agar masyarakat mewarisinya. Nilai-nilai dan visi-misi yang ditanamkan Bung Karno dapat dilanjutkan oleh generasi penerus bangsa demi Indonesia maju seperti impian para penerus bangsa.

Terkait

Pada era globalisasi dan kecanggihan teknologi ini tentu menjadi peluang maupun tantangan yang harus dihadapi generasi muda membawa Indonesia ke kancah dunia. Namun, Muhadjir mengingatkan agar Pancasila tetap dipegang teguh sebagaimana Bung Karno menegaskan Pancasila sebagai jalan perdamaian dunia, keadilan, dan kesetaraan. 

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menyebut, Bung Karno ialah umat Islam yang paling berhasil meneladani politik lapangan Rasulullah SAW. Menurut dia, Bung Karno berhasil mencapai kemerdekaan Indonesia tanpa darah seperti peristiwa Fathu Makkah.

“Bung Karno memimpin bangsa Indonesia ini proklamasi tidak berdarah,” ujar Yudian.

Yudian melanjutkan, proklamasi kemerdekaan Indonesia itu ternyata membebaskan dan mempersatukan 54 negara atau 54 kerajaan di Tanah Air dalam waktu 59 detik. Di samping itu, Bung Karno juga mewujudkan teori politik majemuk atau plural piagam Madinah menjadi ‘Pancasila’.

Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah mengatakan, peringatan 61 tahun pidato Soekarno di sidang umum PBB bukan dikhususkan kepada individu tertentu. “Bung Karno itu bukan cuma milik PDI Perjuangan, bukan cuma milik kaum nasionalis, tetapi Bung Karno adalah milik bangsa Indonesia,” kata dia. 


×